"jika kenangan menyakitkan membuat mu lemah maka bangkitlah karena kau hidup di dunia nyata bukan dalam sebuah kenangan"
********
"Vi tungguin kamu kenapa sih langsung pergi aja."teriak Zara sambil berlari mengejar Viona yang memelankan laju jalannya karena kasihan pada tubuh kecil Zara yang berlari mengejar.
"gue udah kenyang makannya gue pergi."sahut Viona
"tapi kamu nggak apa-apa kan, tadi kamu pergi dengan tampang sedih lho." tanya Zara menatap Viona khawatir tapi yang ditatap malah menampilkan wajah datarnya
"lo halu ya? sejak kapan tampang gue sedih,yang ada tuh orang-orang pada takut ngeliat gue."
Zara menganggukan kepalanya setuju mendengar ucapan Viona
"Iya juga ya mana mungkin kamu sedih, tapi kalau kamu ada masalah cerita aja sama aku. Aku akan menjadi pendengar yang baik." ucap Zara seraya mengerjap-ngerjapkan matanya lucu
"Iya bawel."balas Viona singkat
Zara memanyunkan bibirnya mendengar jawaban Viona, namun seketika dia tersentak.
"Vi kamu udah bayar makanan kita tadi belum?" tanya Zara
Viona menepuk keningnya"oh iya gue lupa."jawabnya sambil menghentikan jalannya
" gimana dong Vi, kita balik lagi?"
"Enggak usah biarin aja tuh si Arjuna sama temen-temennya yang bayar, siapa suruh mereka ganggu makan siang kita." Viona tersenyum miring
"Tapi tadi kan kamu janji mau traktir aku, kasihan tahu kalau mereka yang bayar."
"iya deh nanti gue ganti duitnya si Arjuna, tapi kalau inget."
"udah sana lo balik ke kelas, gue mau pergi." sambungnya
"emang kamu mau ke mana sih" Zara menatap Viona dengan wajah penasaran
"ada urusan"seraya berjalan meninggalkan Zara yang masih termenung di tempatnya.
***
Viona POV
"entah kenapa saat mereka menyebut tentang saudara kembar,aku kembali mengingat Viola rasa sakit itu datang kembali. karena aku gak mau mereka lihat tampang ku yang menyedihkan ini aku memutuskan untuk pergi dari kantin.Sulit sekali rasanya mengendalikan perasaan, antara sedih,marah,kecewa dan rasa bersalah semuanya bercampur menjadi satu membuat aku menjadi kacau."
Aku melanjutkan perjalananku karena ada sesuatu yang harus segera diselesaikan yaitu masalah beasiswa Zara.aku kembali datang ke ruangan ini untuk yang ketiga kalinya.setelah mengetuk pintu aku pun masuk ke dalam. tampak pak Sanjaya sedang menelpon dengan seseorang, ia mengisyaratkan aku untuk duduk dan aku pun duduk di hadapannya. setelah ia selesai menelepon, ia memandang ke arahku sambil berkata.
"Ada urusan apa kamu kesini? saya tidak mengeluarkan mu dan sudah meminta anak saya untuk meminta maaf kepada teman kamu itu. apa masih ada masalah?." tanya sang dekan
"Baguslah jika putri bapak sudah menyadari kesalahannya.saya kesini karena ingin menanyakan beasiswa teman saya, Zara adinda fakultas sastra semester 6 kenapa Anda mencabut beasiswanya?" Ucapku to the point
"oh jadi dia mahasiswi yang kamu bela itu, saya baru tahu."pak Sanjaya beroh ria
"jangan berbasa-basi pak,tolong jawab dan jelaskan pertanyaan saya."
"Kamu tidak sabaran sekali Viona tapi baiklah saya akan jelaskan. kuota penerimaan beasiswa sudah penuh dan teman kamu tidak punya cukup prestasi untuk mendapatkan beasiswa itu.apa itu sudah jelas?."
KAMU SEDANG MEMBACA
Drowning In Sadness
ЧиклитKehidupan Viona yang bahagia berubah 180° setelah terjadinya sebuah insiden yang membuat ia kehilangan sang kakak. semua orang yang dulu dekat dengannya perlahan meninggalkannya. bahkan ia di usir dari rumah oleh ibunya sendiri. kakeknya kemudia...
