Mengorek kehidupan gadis tembok

111 6 0
                                        

Arjuna melihat kejadian itu dari tempatnya duduk, ia menatap gadis yang memakai Appron yang ternyata adalah orang yang ditunggunya sejak tadi.

"astaga ternyata Viona manager di cafe ini. pantas aja gue nunggu tapi dia gak keluar dari toilet. oh bodohnya gue buang buang waktu dong dari tadi."

"Tapi gak masalah gue jadi tahu sedikit tentang kehidupan dia"pikir Arjuna

Ia memperhatikan punggung Viona yang mulai masuk ke dalam ruangan itu.dipanggilnya pelayan cafe wanita yang ada di sekitarnya.

"ada yang ingin anda pesan" tanya pelayan itu

Arjuna tersenyum ramah kepada pelayan kafe dan berkata

"Saya ingin bertemu dengan manager mu yang tadi,bisakah." Pinta Arjuna.

"oh nona,dia sedang marah apakah anda benar ingin menemuinya." Ucap pelayan itu tak yakin.

"Tentu saja aku bisa mengatasinya" jawab Arjuna

"baiklah,tunggu sebentar saya akan memanggilnya."

Viona sudah Lelah hari ini sepulang dari kampus ia langsung pergi ke cafe. sampai di cafe seorang wanita marah-marah di kafenya tentu saja ia sangat kesal.

Ia lalu duduk di ruangannya, di mejanya terdapat berkas-berkas berisi pengeluaran dana kafe yang dikelolanya.

seorang pelayan masuk ke ruangan Viona dan mengetuk pintu.

"Nona ada pelanggan yang ingin bertemu dengan anda" ucap pelayan itu

"berhenti memanggilku nona Jeni, kau karyawan ku panggil aku Viona."

" tapi anda Bos saya."

"Baiklah panggil aku bos itu lebih baik, dari pada kau memanggilku nona. Aku bukan tuan putri mengerti."sahutnya Jeni hanya mengangguk mendengar protes yang diajukan Viona.

"Siapa yang ingin menemui ku?"tanya Viona

"dia lelaki Aku tidak tahu namanya tapi dia tampan." Ucap sang waiters

"Oh tuhan,Jaga mata mu jeni kau hanya melihat cowok yang tampan saja, dimana dia duduk."

"Di meja nomer 12,pasti setelah bos melihatnya bos juga akan bilang bahwa dia memang tampan."

"Terserah apa katamu, aku akan menemuinya sekarang kau bisa kembali bekerja." Viona pun keluar dari ruangan tempat ia berada ia melangkah setelah Jeni memberinya petunjuk di mana meja lelaki itu berada.

"Apa Anda ingin mengajukan protes juga tuan." Tanya Viona dengan nada ketus kepada lelaki yang duduk di meja pengunjung yang ada di hadapannya kini.

"Tentu saja tidak aku ingin memintamu duduk dan menemaniku makan." jawab lelaki itu yang segera mengangkat kepalanya yang tertunduk dan melihat ke arah Viona.

"Lo, ngapain disini?" Viona menatap kearah Arjuna dengan sorot bertanya.

"Jelas gue makan, ngapain coba gue ke cafe."

"Gue tau kok lo ngikutin gue, tapi Gak gue sangka lo masih nunggu gue padahal ini udah lebih dari setengah jam.gue kira Lo udah pergi dari tadi."ucap Viona dengan nada mengejek ia lalu duduk di hadapan Arjuna.

"Lo tahu gua ngikutin lo?"

" ya tahulah mobil sebesar itu, masa gue nggak sadar gue lagi diikutin,terus kenapa lo ngikutin gue."tanya Viona

Arjuna mengeluarkan kotak yang terbungkus kertas padi dari dalam tasnya ia lalu menyodorkan kotak itu pada Viona.

"ini hadiah lo, lo juara pertama di lomba kemarin tapi lo langsung pergi tanpa ngambil hadiah."ucap Arjuna

" gue nggak butuh, lagian gue ikut lomba juga karena terpaksa" jawab Viona ketus

"Ya dan kali ini gue juga maksa Lo untuk terima hadiah ini.lo bisa gak sih ninggalin sifat sombong Lo,bentar aja. apa salahnya Nerima hadiah huh..?"

"Lo gak akan di bilang miskin hanya karena Lo Nerima barang dari orang lain "Arjuna yang mulai jengkel dengan sifat Viona pun mengeluarkan unek-uneknya.

"oke gue terima,puas lo."Viona mengambil kotak itu dari tangan Arjuna dengan kasar lalu ia segera membukanya.

Sebuah foto dirinya yang sedang memukul semangka dengan mata tertutup kain.buah Semangka itu tampak berhamburan dan seakan siap meloncat keluar dari dalam bingkai hitam bercorak kan tinta emas.

Siapapun yang mengambil foto ini pasti ahli memakai kamera,Viona menyunggingkan sedikit senyumnya melihat hasil foto di tangannya.
Tetapi ia buru-buru menutupinya kembali dengan nada ketus.

"Cuma ini?" tanyanya pada Arjuna

"Masih kurang,katanya tadi gak butuh hadiah."ucap Arjuna

"Gue udah ngeluarin tenaga gue, susah payah mukul 5 semangka dan lo cuma ngasih gue ini"Viona menunjuk bingkai foto yang ada di tangan nya.

"Gue motret foto lo dan membingkainya supaya Lo bisa liat itu saat Lo kangen masa kuliah nanti.lo seharusnya bersyukur bisa di foto sama fotografer kayak gue"
Jawab Arjuna bangga

"Arjuna gue gak berpikir gue bakal merindukan kejadian kayak gitu.tapi karena Lo maksa oke gue akan terima."ucap Viona

"Lo gak ada urusan lagi kan, Sekarang Lo boleh pergi."

Arjuna mendelik tajam ke arah Viona saat mendengar ucapan yang keluar dari bibir jahat gadis itu.

"Apa Anda memperlakukan pengunjung cafe anda seperti ini nona anda sungguh tidak sopan." Ucap Arjuna dengan nada seolah meniru Eka Rahmawati.

"Elo pengunjung." Tanya Viona datar

"Yaiyalh gue pengunjung, gue juga pesan makanan di sini ."sewot Arjuna

"Tak kusangka selera minuman anda seperti itu tuan."ucap Viona dengan nada bos nya mengejek Arjuna

"Memangnya kenapa gue pesan milkshake strawberry salah."ketus Arjuna

"kekanakan sekali selera mu itu tuan."

"mengejek minumanmu sendiri nona." ucap Arjuna

"tentu saja aku tidak mengejek minumanku, aku hanya mengejek seleramu yang kekanak-kanakan." Jawab Viona.

Arjuna hanya mengacuhkan gadis itu lalu melanjutkan meminum minumannya

"spaghetti ini Lo yang buat" tanya Arjuna sambil menunjuk spaghetti yang sisa setengah di piringnya

"Bukan,gue cuma buat dessert." jawab Viona

"pantas aja spaghetti ini rasanya enak gak mungkin kan elo yang buat, tapi Lo tadi bilang spaghetti buat emak emak tadi Lo yang buat."ucap Arjuna

"Itu biar koki gue gak kena semprot tuh emak emak, makanya gue bilang gue yang masak."sahut Viona

"Lo bohongin pelanggan cafe lo."ucap Arjuna.

"udahlah itu gak penting lagian juga buat kedamaian bersama kan, apa salahnya bohong."

"Bawel banget sih Lo,cepat abisin makanan lo dan pergi dari sini."ketus Viona.

"mengusir pengunjung cafe mu sendiri hem." tanya Arjuna

"Lo bukan pengunjung tapi penguntit."

Viona meninggalkan meja tempat Arjuna berada ia melangkah kembali ke ruangannya tak memperdulikan Arjuna yang masih mengomelinya di ujung meja. di tangannya ia membawa bingkai foto yang diberikan Arjuna,hadiah atas lomba yang ia menangkan.

Ia duduk di kursi lalu meletakkan foto di meja kerjanya di lihatnya nya benda yang ada di hadapannya itu.

"Lumayanlah buat hiasan meja" ucapnya sambil tersenyum melihat hadiah yang diberikan oleh Arjuna.

Viona kembali melanjutkan pekerjaannya yang tertunda, ia tidak kembali ke dapur justru ia memeriksa data-data cafe.di hitungnya pemasukan dan pengeluaran cafe untuk mengetahui angka keuntungan. wajahnya tampak serius saat melihat deretan angka yang terdapat pada berkas di hadapannya.seraya memindahkan nominal itu dan mengetiknya di laptop dengan gerakan jari yang lincah.

Drowning In SadnessTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang