Bantuan datang

49 5 0
                                        

Arjuna keluar dari kelas seraya menghembuskan nafas lega.keberuntungan berpihak padanya karena dosen yang mengajar di kelas pertamanya berhalangan hadir sehingga ia dapat mengikuti kelas kedua tanpa permasalahan yang berarti.

Arjuna kini tengah berjalan menuju tempat rahasia Viona tentunya dengan sikap waspada.ia takut mahasiswi angkatan baru yang mengidolakannya melihat dia dan kembali mengejarnya.

Sejak penerimaan angkatan baru dan Arjuna menjadi pemandu ospek hidupnya menjadi tidak tenang karena para mahasiswi tersebut menjadikannya target Incaran mereka.entah apa sebabnya,entah karena ia yang tampan atau karena sikapnya yang ramah Arjuna tak mengerti.

Awalnya memang ia biasa saja dengan perlakuan mereka.tetapi lama kelamaan Arjuna menjadi susah bergerak dan risih karena para mahasiswi itu mengitarinya setiap saat tanpa melihat situasi dan kondisi.merasa tak tahan Arjuna mencoba menghindari mereka tetapi mereka semakin tak terkendali dan mengejarnya membuat ia seperti di teror.

Dan akhirnya ia memutuskan untuk mendekati Viona agar para mahasiswi itu menjauh darinya.tentu saja dengan pamor Viona yang tersebar di kampus bahwa ia adalah mahasiswi yang galak dan menyeramkan membuat mahasiswi baru sekali pun tidak akan berani mendekati Viona dan itu adalah keuntungan tersendiri untuk Arjuna Karena dirinya akan aman bila berada di dekat gadis itu meskipun sebagai imbalannya ia harus menjadi supir pribadi dadakan.

Arjuna menyisir rambutnya ke belakang menggunakan tangan
"Emang susah jadi orang ganteng kayak gue"ucapnya menyombongkan diri sendiri, seraya menghampiri pohon besar yang menjadi tempat Viona biasa tertidur.

Mata Arjuna menyipit kala mendapati tas dan handphone yang tergeletak di bawah pohon.
Sepertinya ia mengenali kedua barang tersebut adalah milik Viona,Arjuna memutuskan untuk memungutnya.barangkali tas itu tidak sengaja terjatuh dari atas pohon.

Arjuna memanjat dengan hati hati karena ia memang tidak terlalu ahli melakukannya.sesampainya di atas ia mengedarkan pandangan mencari keberadaan Viona tetapi batang hidung gadis itu bahkan tidak terlihat di sana. Arjuna duduk untuk mengistirahatkan tubuhnya sejenak sembari memeriksa handphone Viona yang ia temukan di bawah tadi.mata Arjuna melebar kala melihat pesan terakhir yang di terima Viona.

Arjuna bergegas turun dan berlari menuju tempat yang di beritahukan lewat pesan.ia berlari kalang kabut karena mengkhawatirkan Viona tetapi di tengah jalan ia menghentikan langkahnya tiba-tiba.

"Kenapa gue harus khawatir ya Viona pasti bisa ngatasin orang itu sendirian.lagian dalam urusan berkelahi dia lebih jago dari pada gue,yang ngancam dia juga paling cuma menggertak doang."batin Arjuna dalam hati

Setelah lama berpikir akhirnya Arjuna memutuskan untuk berbalik arah.namun saat Arjuna akan kembali melangkah seseorang berteriak memanggil namanya.

"Arjuna tunggu " teriak orang itu
Arjuna pun berbalik mencari orang yang memanggilnya.

Terlihat dari kejauhan Riani tengah berlari menghampiri dirinya dengan wajah yang sembab.

"Ada perlu apa manggil gue?" Tanya Arjuna saat Riani sudah ada di hadapannya.

Riani mengatur nafasnya sejenak kemudian tanpa di duga gadis itu mengambil tangan Arjuna dan menggenggamnya erat.seraya menundukkan kepalanya sambil memohon.

"Arjuna tolongin gue, tolong bantu gue selametin Zara sama Viona gue mohon ."pinta Riani Dengan air mata yang menetes.

"Apa maksud lo minta gue bantuin Viona,emang dia kenapa?"tanya Arjuna tak sabar.

"Mereka dalam bahaya"sahut Riani masih sambil menangis

Arjuna melepaskan tangannya dari genggaman Riani "elo jangan bercanda deh emang siapa yang berani sama Viona" sentak Arjuna tak percaya.

"kali ini beda Jun Cindy menggunakan kelemahan Viona buat celakain dia.gue serius tolong bantuin mereka gue mohon"

Arjuna Masih tak bergeming "emang kelemahan dia apa?" Tanyanya kemudian.

"Air,Viona itu bathophobia juna gak ada waktu lagi cepat ikut gue"Riani menarik paksa tangan Arjuna untuk berlari bersamanya tidak ingin membuang-buang waktu lagi.

Sesampainya di tempat yang mereka tuju Arjuna terkejut karena apa yang di lihatnya.
Zara tengah kesulitan menggapai gapai udara dengan tangan yang masih di ikat tubuhnya timbul tenggelam di dalam air.sementara Viona hanya terlihat bayangannya di dasar kolam.gadis itu sudah tenggelam dan tidak bergerak sama sekali.
Arjuna melempar tas Viona sembarangan lalu ia terjun ke kolam renang untuk menyelamatkan kedua gadis itu.

Arjuna menggapai tubuh Zara terlebih dahulu lalu membawanya ke tepi kolam di sana sudah ada Riani yang menunggu.Riani lantas menolong Zara melepaskan tali yang mengikat tangannya.Zara terbatuk-batuk dan memuntahkan air kolam yang tidak sengaja di telannya.Riani menepuk pundak Zara untuk membantu.di sisi kolam Arjuna sudah membawa Viona yang tak sadarkan diri.wajah Arjuna tampak cemas ia memanggil Viona untuk menyadarkannya tapi gadis itu tak bergeming.Arjuna lalu menekan dada Viona untuk melakukan CPR berkali kali namun Viona tak kunjung sadar.

Arjuna menepuk pipi Viona yang terasa dingin"Viona bangun jangan diem aja"ucapnya setengah berteriak, pemuda itu mengacak rambut frustasi karena tidak mendapat jawaban.

Zara menghampiri Viona di bantu oleh Riani yang menopang tubuhnya.dengan mata yang berlinang gadis itu menjatuhkan dirinya di samping tubuh Viona.

"Vi maaf hiks hiks maafin aku, gara gara nolongin aku kamu jadi kayak gini hiks tolong bangun Viona jangan buat aku merasa bersalah"ucap Zara di selingi tangis.

"Bukan elo Ra ini semua salah gue,gue yang udah ngasih tau kelemahan Viona sama Cindy.gue gak nyangka akan jadi gini akhirnya maafin gue"balas Riani dengan rasa bersalah.

"DIAM,gak ada gunanya kalian merasa bersalah. Viona gak akan bangun hanya karena itu"sentak Arjuna dengan ekspresi dingin di wajahnya.

Sontak saja Zara dan Riani terdiam dan kaget karena Arjuna yang bisanya berwajah ramah kini tampak menakutkan.

Arjuna mengambil tas Viona lalu bergegas menggendong tubuh gadis itu."Gue harus cepat bawa Viona ke rumah sakit, nanti gue minta temen gue buat nganterin elo Ra gue duluan" Arjuna melirik Zara sekilas sebelum pergi dengan langkah lebar.

"Iya Hati hati " sahut Zara sambil memandangi punggung Arjuna yang mulai menjauh.

"Ayo Ra kita minta surat izin pulang buat kalian bertiga." Ucap Riani sambil memegang bahu Zara untuk memapah gadis itu berjalan.Zara menganggukkan wajahnya yang terlihat sembab dan menuruti Riani.

********

Drowning In SadnessTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang