Perhiasan dan Perlawanan

44 5 0
                                        

Viona mengayuh sepeda yang sudah beberapa minggu ini tidak ia pakai.meskipun setiap harinya Ia tetap membersihkan sepeda itu namun tak bisa mengobati rasa rindunya karena tak bisa berangkat ke kampus bersama si Felix.ngomong-ngomong Felix itu nama yang diberikan Viona untuk sepeda poligon berwarna hitam dengan corak hijau sepeda yang sedang ia naiki kini.tentang kebiasaan Viona menggunakan headphone ia juga sudah tidak pernah lagi menggunakannya akhir-akhir ini dikarenakan ia sudah tidak sendiri dan ada teman yang bisa diajak bicara di kampus sehingga ia tidak memerlukan headphone lagi untuk mendengarkan musik dan mengisi kesunyiannya.hidupnya saat ini sudah cukup berisik dengan ocehan Zara dan juga racauan yang keluar dari mulut Arjuna.

gerbang kampus tinggal beberapa meter lagi di depan Viona.namun tidak seperti biasanya jika ia sampai ia akan langsung menerobos kerumunan dan memaksa masuk kini justru gadis itu menghentikan sepedanya tepat di depan gerbang padahal mahasiswa yang berada di sekitar gerbang sudah menyingkir memberikan jalan agar Viona bisa masuk tanpa hambatan.

Viona mengacuhkan sekitarnya ia turun dari sepeda dan menghampiri orang yang kini berlari kearahnya.kemudian tanpa diduga orang itu memeluk Viona di hadapan orang banyak. Satu orang lainnya yang bersama orang itu menghampiri mereka dan mengurai pelukan keduanya.

"kalian jangan pelukan di sini dong gue malu dilihatin orang-orang "tegur Zaki seraya menutupi wajahnya dengan tangan.

Zara yang menyadari perbuatannya lekas mundur ia mencubit perut adiknya kemudian meminta maaf pada Viona.
" maafin aku Vi dari kemarin aku khawatir sama kamu mengetahui kamu sehat dan baik-baik saja aku senang dan refleks meluk kamu."jelas Zara

Viona tersenyum manis untuk pertama kalinya di hadapan para mahasiswa yang selalu menjudge ia sebagai cewek yang galak dan jutek.untuk sementara itu mereka terpukau dengan senyuman yang terukir di bibir Viona.

"Gak masalah,gue justru senang karena masih ada orang yang khawatir sama gue"sahut Viona

Zara melirik punggung tangan Viona yang kini ditutupi dengan plester.Viona sengaja melepas perban yang di lilitkan ibu Arjuna karena ia tidak ingin terlalu menarik perhatian.

"gak papa ini cuma luka kecil" jawabnya acuh seolah tidak merasa sakit.Viona melirik pemuda yang berdiri di sebelah Zara.

"Lo ngapain di sini Ki enggak sekolah?"tanyanya kemudian.

Zaki yang sedari tadi mengusap perutnya karena dicubit sang kakak nyengir kuda ke arah Viona.

"Gue nganterin Kak Zara kak sekalian mau ketemu Kak Viona juga.kebetulan 3 hari ke depan sekolah gue libur jadi gue mau nagih janji kak Viona buat ngajarin gue beladiri" terang Zaki.

"Kak Viona masih sakit Zaki kamu jangan ngerepotin dia dong, bikin malu kakak tau" Zara memelototi adiknya geram.Sementara Zaki hanya mengaruk kepalanya merasa bersalah.

"nggak papa Ra gue emang udah janji mau ngajarin Zaki,gimana kalau nanti sore sepulang kuliah kalian berdua ke rumah gue sekalian main juga"ucap Viona.

"beneran Kak lo mau ngajarin gue,abisnya gue bosen di rumah mulu."Zaki tampak antusias

"Iya benar"jawab Viona

Zaki berjingkrak senang mendengar jawaban Viona namun Zara tampak masih berpikir.

"Gimana Ra lo mau nggak?"tanya Viona meminta persetujuan Zara

"Iya deh aku mau asal nggak ngerepotin kamu aja Vi"

"nggak sama sekali,santai aja Ra"
Zara mengangguk mengiyakan.

"ya udah ayo masuk matkul gue bentar lagi mulai"ucap Viona.

"Matkul aku di suruh ngumpul di aula jadi dekat,kamu duluan aja Vi"

Drowning In SadnessTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang