Kamar dengan nuansa biru gelap itu tampak hening karena penghuninya masih bergelung dibalik selimut.matahari yang mulai naik tampaknya tidak bisa membangunkan gadis yang tertidur lelap itu.namun sayangnya gadis itu harus segera bangun karena handphone yang berada di atas nakas berdering nyaring,sepertinya ada panggilan yang masuk.
sang gadis meraba-raba nakas mencari benda yang mengganggu tidurnya.dengan mata yang masih terpejam ia menempelkan handphone di telinganya.
"Hallo ini siapa"ucapnya dengan suara serak khas orang bangun tidur.
"Vi elo belum bangun ini udah jam 8 dasar kebo."sahut orang dari seberang sana.
mata Viona seketika terbuka ia melihat jam di handphonenya yang memang benar menunjukkan pukul 08.05. ia bergegas bangun dan dengan asal merapikan tempat tidurnya.
" hallo hallo Vi elo enggak tidur lagi kan,gue mau ke rumah lo nanti" teriak orang di seberang sana.
Viona berdecak sebal "Arjuna thanks udah bangunin gue,tapi hari ini dan besok kita libur jadi lu nggak perlu ke sini"ucapnya
" tapi Vi gue tut.. tut.. tut.." Viona mematikan sambungan telepon tidak menunggu Arjuna menyelesaikan kalimatnya. dia sekarang tengah panik karena tidak biasanya bangun sesiang ini.
Viona meraih handuk dan bergegas memasuki kamar mandi untuk membersihkan badannya.
Bi Hani tengah sibuk mencuci piring saat Viona turun untuk menghampirinya.rambut gadis itu masih setengah basah karena ia tidak mengeringkannya dengan benar.
"Bibi kok nggak bangunin aku" Viona membuka suara.
"Tidur kamu kayaknya nyenyak banget Bibi nggak tega bangunin" sahut bi Hani.
"Ya mungkin karena kemarin kecapekan ngelatih Zaki seharian jadi tidur Viona nyenyak bi.tapi Bibi jadi repot sendiri kan,aku jadi nggak enak sini biar Viona yang nyuci piringnya"Viona menghampiri bi Hani hendak mengambil alih pekerjaan.
Namun bi Hani menolak
"tidak usah Viona ini udah jadi tugas bibi,Kamu sarapan aja sana nasinya sudah disiapin di meja."
Viona yang memang membutuhkan asupan makanan menurut saja pada ucapan bi Hani.seraya duduk dan mulai memakan sarapannya sambil sesekali berbincang.
"Bi apa kakek sudah menghubungi bibi?"tanya Viona
"ya kemarin kakek menelpon menanyakan kabarmu."
"kenapa kakek tidak meneleponku"
"katanya hp-mu tidak bisa dihubungi maka dari itu kakek nelpon bibi."
Viona memakan makanannya dengan kesal. "Kenapa kakak tidak menghubungiku lagi sekarang hp-ku sudah menyala"
bibi Hani mengelap piring dengan kain bersih kemudian meletakkannya di rak.seraya kemudian mendudukkan dirinya di sebelah Viona.
"mungkin kakek mu sedang sibuk sehingga dia tidak sempat menelepon. dari pada itu bibi bilang pada kakek bahwa Viona baik-baik saja tapi sepertinya kamu tidak baik-baik saja."
"Bibi ingin menanyakannya dari kemarin tapi kamu sibuk dengan teman teman mu,Apa yang terjadi dengan tangan kamu Viona kenapa bisa luka begini" tanya bi Hani Viona menurunkan tangannya agar tidak terlihat oleh bi Hani namun bi Hani segera meraihnya.kedua tangan Viona memang masih memakai plester namun plester itu kini sudah lembab karena ia membawanya mandi.
"Jika kamu tidak mau memberi tahu bibi tidak apa-apa.tapi plester di tangan kamu sepertinya harus diganti,bibi akan ambil P3K dulu kamu lanjutkan makan saja ya."
Viona mengangguk mengiyakan, walaupun bi Hani hanya pengurus rumah kakeknya. namun di mata Viona bi Hani lebih dari itu ia sudah seperti saudara.ia sangat pengertian pada Viona dan tidak memaksakan kehendaknya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Drowning In Sadness
Romanzi rosa / ChickLitKehidupan Viona yang bahagia berubah 180° setelah terjadinya sebuah insiden yang membuat ia kehilangan sang kakak. semua orang yang dulu dekat dengannya perlahan meninggalkannya. bahkan ia di usir dari rumah oleh ibunya sendiri. kakeknya kemudia...
