"Bagaimanapun sikapmu padaku, aku akan tetap mencintaimu semampuku"
_o0o_
Pagi-pagi buta Zara telah membuat kehebohan di dapur, dia mencoba memasak makanan untuk dia bawa sebagai bekal. Setelah beberapa menit berlalu, makanan itu siap. Dua kotak makan berisi nasi goreng spesial dengan udang dan telur mata sapi di atasnya.
"Siap" ucap Zara dengan senang.
Zara tersenyum bangga melihat hasil karyanya. Pasti rasanya enak.
"Wah, anak Mamah pagi-pagi udah berantakin dapur ya? Kamu ngapain sih?" tanya mamah Zara -Ratih-.
Zara melihat ke arah Mamahnya dan memperlihatkan hasil masakannya dengan semangat, dia juga mulai bergerak untuk mengambil piring dan meletakan nasi goreng yang tersisa di wajan untuk Mamahnya.
"Cobain mah" ucap Zara.
Ratih meraih sendok dan mulai mencicipi masakan anaknya.
"Enak, tumben bumbunya pas" ucap Ratih dengan kagum.
Anaknya ini tidak bisa memasak, sekalinya masak kadang rasanya aneh,tapi kali ini benar-benar berbeda. Rasanya sangat enak.
"Kan pake bubuk cinta" gurau Zara.
Zara mengambil dua kotak makan yang sudah dia siapkan, Ratih menyengit heran.
"Kok dua? Satunya buat siapa?" tanya Ratih.
Zara tersenyum lebar.
"Buat calon mantu mamah" bisik Zara.
Setelah mengatakan itu, Zara segera pergi keluar rumah untuk berangkat sekolah. Sesampainya di sekolah, Zara pergi menuju kelasnya untuk menyimpan tas terlebih dahulu.
"Wih, tumben pagi banget datangnya" ucap Mira.
Zara hanya tersenyum sambil mengeluarkan bekal dan susu kotak rasa strawberry dari tasnya, lalu berlari keluar kelas. Zara berdiri di depan pintu kelas 12 IPA 1, menunggu Langit.
Dari kejauhan, dapat Zara lihat Langit yang mulai mendekat. Zara heran, mengapa tidak ada sedikitpun kekurangan yang dapat dia lihat dari Langit? Langit sangat sempurna bagi Zara. Baik dari segi fisik ataupun lainnya. Langit sempurna.
"Langit, ini aku bikinin bekal buat kamu, terus aku juga bawa susu kotak ini" ucap Zara dengan semangat.
Langit memandang kotak bekal yang ada di tangan Zara, dia tersenyum miring. Langit mengangkat tangannya, lalu memperlihatkan sesuatu yang dia pegang.
"Lo lihat, gue udah punya bekal" ucapnya.
Zara memandang heran pada kotak makan itu, warna pink? Yang benar saja? Tidak mungkin kan Langit pemilik kotak makan itu.
"Zara tahu, Langit gak mungkin bawa itu dari rumah. Jadi, itu dari siapa?" tanya Zara pelan.
"Bulan"
Singkat, padat, dan jelas. Jawaban yang mampu membuat Zara terdiam. Langit pergi setelah mengatakan itu, meninggalkan Zara yang masih terdiam dengan pikirannya. Zara mungkin mencintai Langit, tapi dia juga sadar bahwa dia yang selalu ada pasti kalah dengan dia yang diprioritaskan. Namun, Zara tetaplah Zara. Dia yakin suatu saat nanti, Langit akan mencintainya.
Dengan lesu, Zara berjalan ke arah tempat sampah. Dia membuka tempat makannya dan bersiap menumpahkannya ke dalam tong sampah
"Eh jangan dibuang" ucap seseorang.
Zara melihat ke arah orang itu. Lelaki asing yang tidak pernah Zara lihat.
"Dari pada dibuang, mending buat gue. Gimana?" tanyanya.
Zara tersenyum dengan paksa, dia memberikan kotak makan dan susu kotaknya, kemudian dia pergi begitu saja tanpa peduli siapa orang itu.
.
.
.
"Loh ko balik lagi?" tanya Mira bingung.
Zara melirik sekilas dan menelungkupkan wajahnya di atas meja. Bahunya bergetar.
"Kenapa? Lo sakit?" tanya Mira khawatir.
Zara mengankat kepalanya dan menunjukan wajahnya yang saat ini telah berurai air mata.
"Sakit hatiiiiii... huaaaa" Zara menangis keras dan menatap sedih ke arah Mira.
Mira gelagapan melihat respon Zara yang seperti itu. Semua anak kelas menatapnya. Dia menggelengkan kepalanya dengan cepat.
"Bukan, bukan gue yang bikin dia nangis, sumpah bukan gue" ucap Mira pada teman-temannya.
Zara menangis dengan keras, urat malunya mungkin telah hilang. Dia meraung selayaknya anak kecil yang kehilangan permen.
"Aduh Ra, udah dong. Jangan nangis ih gue pusing dengernya" ucap Mira kesal.
"Gue sakit hati Mira, masakannya ditolak, Langit lebih milih Bulan" ucap Zara dengan lirih.
Mira diam, dia bingung untuk menjawab apa. Hal ini sudah tidak aneh lagi baginya, dia terlalu sering melihat dan mendengar penolakan Langit untuk Zara.
"Gue kayanya harus lebih berjuang buat dapetin hatinya Langit, Bulan aja bisa masa gue enggak" ucap Zara penuh tekad.
"Ingat Ra, Bulan jauh lebih bersinar dari lo" ucap Mira.
Zara mendelik kesal ke arah Mira, dia menghentakan kakinya dan kembali menelungkupkan kepalanya ke meja.
'Silahkan Langit, buat aku sakit hati semaumu,karena seberapa keras pun kamu ingin membuatku menjauh, aku akan tetapmencintaimu'
.
.
.
.
.
Vote dan comment ya :)
Thanks ^_^
KAMU SEDANG MEMBACA
LAZARA
Fiksi RemajaDitolak oleh orang yang kau cintai dan memiliki keluarga yang hancur berantakan, bukanlah keinginan siapapun di dunia ini. Alzara Rainza, gadis cantik dengan takdir yang rumit. Harus bertahan ditengah rasa sakit akibat penolakan dan rasa tercabik da...
