Berdamai dengan masa lalu, menerima masa kini, dan memperbaiki masa depan dengan cerita yang baru
*****
Ujian Nasional sudah di depan mata, satu minggu lagi saat saat menegangkan itu akan segera tiba. Zara sibuk mengumpulkan buku buku yang dia butuhkan untuk belajar.
Seseorang membuka pintu kamar Zara dengan lebar, dia menatap takjub keadaan kamar itu. Kamar yang biasanya sangat rapi, saat ini berubah menjadi sangat hancur berantakan.
"Ra, lo ngapain berantakin kamar kaya gini? Ga sehat lo?" Tanya Abidzar
Zara tersentak kaget, dia menatap Abidzar dengan kesal.
"Ck ketok pintu dulu kan bisa, gue kaget tau" Ucap Zara kesal
"Ya lagian suruh siapa ngubrak ngabrik kamar gini, berisik tau. Masih subuh bukannya solat, malah berisik ga jelas"
"Gue lagi nyari buku" Jawab Zara singkat
"Serah lo, lanjutin deh biar dimarahin ayah karena kamar lo yang udah mirip tempat pengumpulan sampah"
"Berisik kak Abi, pergi sana" Usir Zara
Abidzar mengedipkan matanya, dia terpaku di tempatnya berdiri. Satu detik kemudian, sebuah senyuman mengembang di wajah tampannya.
"Lo panggil gue apa tadi? Ulang sekarang, buruan" Desak Abidzar
Zara melirik sinis pada Abidzar.
"Apasih, ga jelas. Sana pergi, ga usah ganggu gue" Ucap Zara jutek
Zara membalikan tubuh untuk membelakangi Abidzar, segaris senyum muncul di wajahnya. Ada perasaan senang yang menelusup ke dalam diri Zara ketika melihat ekspresi Abidzar tadi. Kak Abi, itu panggilan Zara pada Abidzar untuk saat ini dan seterusnya. Zara sudah memutuskan, dia menerima keluarga barunya.
"Lo panggil gue kak tadi" Ucap Abidzar
"Bawel ih, gue jadi ga konsen. Sana pergi" Ucap Zara
"Panggil gue kakak lagi, baru gue bakal pergi. Ayo Ra buruan" Ucap Abidzar
Zara menghembuskan napas dan mengatur kembali ekspresi wajahnya. Setelah berhasil menghilangkan senyumannya, dia kembali berbalik menghadap Abidzar.
"Kak Abi, Zara minta kakak pergi dulu ya dari sini. Zara lagi cari buku, kalo ada kakak disini Zara jadi ga konsen" Ucap Zara dengan manis
Kedua mata Abidzar berkaca-kaca, dia mendekat ke arah Zara.
"Akhirnya lo mau nerima gue jadi kakak lo" Ucap Abidzar pelan
Abidzar mengulurkan tangannya untuk mengusap pundak Zara.
"Thanks ya, gue janji akan jadi kakak yang baik buat lo Ra. Gue sayang sama lo, gue pergi dulu. Belajar yang rajin"
Abidzar berbalik pergi dari hadapan Zara. Zara menatap Abidzar yang berjalan keluar dari kamarnya. Tepat saat punggung itu benar-benar menghilang, setetes air mata keluar dari mata indah Zara.
"Gue juga sayang sama lo, Kak Abi" Gumam Zara
.
.
.
.
Satu jam berlalu dan Zara tidak berhasil menemukan buku yang dia cari, buku baru yang dia beli khusus untuk membantunya mempersiapkan ujian. Zara pasrah dan memilih bersiap untuk pergi sekolah.
"Good morning semua" Sapa Zara tepat ketika dia sampai di meja makan
Ayahnya menatap Zara dengan heran, terutama ketika melihat Zara yang dengan semangat mengambil nasi goreng buatan Arum.
KAMU SEDANG MEMBACA
LAZARA
Teen FictionDitolak oleh orang yang kau cintai dan memiliki keluarga yang hancur berantakan, bukanlah keinginan siapapun di dunia ini. Alzara Rainza, gadis cantik dengan takdir yang rumit. Harus bertahan ditengah rasa sakit akibat penolakan dan rasa tercabik da...
