LaRa 05 -Kenapa-

13.2K 805 27
                                        

Jangan lupa tinggalkan vote dan comment kalian setelah membaca.

-Terimakasih dan
selamat membaca-

.
.
.

.....***.....

"Rasa sakit tidak datang dari kecewa yang kamu rasakan, tapi datang dari besarnya harapan yang kamu gantungkan pada dia yang tidak peduli"

_o0o_

Langit POV

Gue Langit, gue udah tau pasti kalian kenal sama gue. Hari ini gue udah bikin air mata seseorang terjatuh, terserah kalian mau mikir apa. Mau berpikir gue jahat, silahkan. Mau berpikir gue gak punya hati, juga silahkan. Gue cuma minta dia menjauh, gue udah coba berbagai cara untuk buat dia pergi, tapi gue gagal. Kali ini mungkin cara gue yang paling kejam, tapi gue gak peduli.

Gue capek ketika harus menghadapi dia yang sebenarnya gak penah untuk gue inginkan, gue gak pernah tahu apa alasan dia segila itu untuk bisa memiliki gue.

"Langit" panggil sebuah suara.

Gue melihat ke arah orang yang sekarang berdiri tepat di belakang gue.

"Stop, kamu udah keterlaluan. Kasihan dia" ucapnya.

"Diam Bulan, kamu gak usah ikut campur" ucap gue kesal.

Dia Bulan, orang yang gue cintai. Gadis cantik yang memiliki hati yang baik, jauh lebih baik dari pada Alzara. Point plusnya dia itu lembut, ramah, dan tentunya tidak murahan.

"Maaf Langit jika aku membuatmu kesal, maaf jika membuatmu risih, tapi tetap aku tidak akan melepasmu" ucap seseorang yang kini berada di tempat penonton, masih dengan air mata yang menghiasi wajahnya.

Alzara, gadis bodoh yang memilih bertahan. Apa yang dia incar dari gue, kenapa dia gak mau buat lepasin gue. Seistimewa itu gue di matanya? Gue udah jahat sama dia, kenapa dia begitu bodoh dengan terus bertahan?

"Terserah" jawab gue singkat

.

.

.

Sakit, satu kata yang mewakili perasaan Zara saat ini. Namun, rasa sakitnya bukan sebuah halangan untuk mendapatkan Langit. Zara sangat yakin jika Langit adalah takdirnya, apapun halangannya, bagaimanapun penolakan Langit, Zara yakin bahwa Langit akan selalu kembali untuk Zara. Langit tetap ditakdirkan untuk Zara.

"Maaf Langit jika aku membuatmu kesal, maaf jika membuatmu risih, tapi tetap aku tidak akan melepasmu" ucap Zara dengan tegas.

Zara menghapus air matanya dan terus memandang Langit yang mulai terdiam.

"Terserah" jawab Langit.

Setelah mendengar jawaban dari Langit, Zara memilih untuk pergi dari acara itu. Acara tidak bermutu yang bisanya merendahkan orang lain. Mira melihat kepergian temannya dalam diam, bukan Mira tidak ingin mengejar, hanya saja Mira tahu bahwa Zara butuh waktu untuk sendiri.

Di dalam taksi, Zara berusaha keras untuk tidak kembali menangis. Berkali-kali dia menarik napas dalam hanya untuk sekedar mengurangi rasa sesak yang melingkupi dadanya. Sesampainya di rumah, Zara segera masuk dan menuju kamarnya.

Malam ini langit terlihat jauh lebih gelap, tanpa bintang yang menghiasinya. Zara mendekat ke arah pintu balkon kamarnya, berdiri disisi pintu dan membiarkan angin malam membelai wajahnya.

Merasa puas dan bosan menatap langit yang gelap, Zara beranjak untuk segera berganti baju dan menghapus make-upnya. Namun, ketika dia bersiap untuk tidur.

PRANGGGG

Zara terlonjak kaget, suara apa itu? Untuk mengetahuinya Zara segera pergi ke asal suara, lantai bawah.

"Mahhhh ada apa?" teriak Zara dari arah tangga.

Zara berlari ke arah dapur dimana dia mendengar suara orang bertengkar.

"Ma--"

"Zara kamu ikut Papah sekarang!!" ucap seseorang yang sangat Zara rindukan.

Zara masih diam di posisinya, masih bingung dengan situasi yang ada. Orangtuanya yang tiba-tiba bertengkar dan Papahnya yang berkata begitu. Zara melihat ke arah Mamah Ratih yang sekarang terlihat sedang menangis sambil duduk di kursi meja makan.

"Mah, kenapa?" tanya Zara pelan.

"Ayo Zara!!"

Dia menarik tangan Zara dan berusaha membawanya keluar rumah, Zara berusaha untuk memberontak dan melepas tangannya dari cekraman Papahnya.

"Pah, Zara mau sama Mamah" ucap Zara memelas.

"Engga! Kamu ikut Papah, Papah sama Mamah kamu itu mau pisah" ucap Papahnya.

Zara membeku di tempatnya, matanya sudah siap untuk mengeluarkan air mata. Kejutan yang sungguh luar biasa bagi Zara.

'Apalagi ini Tuhan? Ada apa dengan hari ini, kenapa aku begitu merasa tersiksa' -batin Zara menjerit.

Zara menatap Papahnya dengan sendu.

"Ma-maksudnya gimana? Zara gak ngerti, tapi kenapa Pah?" tanya Zara, terlihat jelas bahwa Zara kecewa.

"Mamah kamu ini selingkuh Zara, kamu harus ikut Papah, Papah gak sudi lihat kamu dibesarkan oleh jalang itu!" ucap Papahnya sambil menunjuk Mamahnya.

Zara tertawa di tengah tangisnya, bahkan air mata mulai mengalir deras di wajah cantiknya. Dia menganggap bahwa ucapan Papahnya tidak lebih dari omong kosong.

"Papah ngelawak? Haha gak lucu Pah. Bahkan setahu Zara hiks.. Papah yang gak pernah pulang ke rumah, Papah yang ninggalin kita. Hahaha lucu Pah, sungguh lucu! apa pantas Papah tuduh Mamah begitu? Jawab Pah!! JAWAB!! KEMANA PAPAH SELAMA INI HAH?! SEKARANG PAPAH PULANG DAN BIKIN KACAU KAYA GINI! AKU BENCI PAPAH! AKU GAK SUKA SAMA PAPAH! YANG LEBIH PANTAS DISEBUT SELINGKUH ITU PAPAH BUKAN MAMAH!"

PLAKKK

Zara terdiam sambil memegang pipinya, Apa benar orang di depannya ini adalah Ayah kandungnya? Orang yang dia banggakan selama ini?

"Ayo Pah, tampar lagi" ucap Zara pelan.

Papahnya masih diam dengan napas yang memburu. Zara menangis tanpa suara dan menatap Papahnya dengan dalam.

"Kenapa diam Pah?" tanya Zara lirih.

Sungguh, Zara kecewa. Ini jauh lebih sakit dari yang dia rasakan tadi, jauh lebih menyakitkan dari pada ucapan Langit. Cinta pertamanya, lelaki yang dia pikir tidak akan pernah menyakitinya, sekarang telah berani menampar Zara untuk pertama kalinya.

"Zara udah, Mamah gapapa" ucap Mamah Ratih.

Zara melihat ke arah Mamahnya, tidak papa? Yang benar saja, hati anak siapa yang tidak sakit melihat ibunya diperlakukan seperti itu? Tidak ada yang terima.

"Ikut saya!" ucap Papahnya dengan tegas dan mulai menarik Zara lagi.

"Enggak Pah, please Zara gak mau" ucap Zara dengan memohon.

"Mas, tolong jangan paksa Zara. Biarkan dia tinggal sama aku, aku sayang sama Zara" ucap Mamah Ratih.

"Diam kamu! Dia anakku dan ini bukan urusanmu" ucap Papahnya.

Namun, tenaga Zara tetap kalah. Dia berhasil dibawa pergi oleh Papahnya sendiri. Meninggalkan rumah yang dia tinggali sejak kecil dan meninggalkan Mamahnya sendirian disana.

'Maaf Mah, Zara kalah lawan Papah' -batin Zara.

.

.

.

.

Bersambung...

Vote dan comment ya ^_^

Makasih udh baca :*

LAZARACerita yang bikin terobses. Temukan sekarang