LaRa 22 -Jangan-

13.7K 930 155
                                        

"Di setiap pertemuan yang terjadi di dunia ini, pasti akan berakhir dengan perpisahan. Entah kamu yang pergi meninggalkannya, dia yang pergi meninggalkanmu, atau mungkin kematian yang memisahkan kalian"

_o0o_

Bel istirahat telah berbunyi 5 menit yang lalu. Zara sudah meninggalkan UKS sejak bel pergantian jam pelajaran berbunyi. Langit sedang tertidur ketika Zara meninggalkannya.

"Neng Zara, ga beli susu kotaknya?" tanya Ibu-ibu kantin

Zara sedang berada di kantin, niatnya untuk diam di kelas tidak terlaksana. Pagi ini Zara lupa membawa bekal dan saat ini dia sedang kelaparan.

"Enggak Bu, Zara udah ga beli itu lagi" ucap Zara sambil tersenyum

"Loh kenapa?" tanya Ibu kantin bingung

"Zara cuma tau diri aja Bu" jawab Zara

Zara membawa makanannya dan duduk di salah satu kursi kantin, makanan di depannya ternyata tidak membuat Zara melupakan semua hal yang menganggu pikirannya. Tentang Ayah dan Ibunya yang bercerai, dia memang masih belum bisa menerimanya, tapi Zara juga tidak bisa berbuat apa-apa. Tentang Mira yang pindah, Zara juga sudah ikhlas meski berat pada awalnya. Tentang Langit yang harus dia lepas, Zara juga mulai menerimanya meski itu sangat sulit. Namun, tentang Angkasa yang mengidap penyakit yang cukup parah, dia tidak bisa melupakannya.

"Angkasa, harusnya pas Mira gaada, lo yang temenin gue di kantin. Bukan malah ikutan gaada kaya gini" gumam Zara sedih

Zara memakan makanannya dengan terus menahan air matanya, kantin yang ramai tidak membuat rasa kesepian di hati Zara menghilang. Setelah makanannya habis, dia mendekat ke penjual bubur ayam dan membelinya. Makanan itu untuk Langit, dia tidak bisa berbohong. Jauh di lubuk hatinya yang paling dalam, dia masih sangat peduli pada Langit.

Zara membawa satu mangkuk bubur ke arah UKS. Zara yakin Langit masih berada disana. Zara ingat terakhir kali Zara meninggalkannya, suhu tubuhnya masih tinggi dan tidak memungkinkan untuk ikut belajar. Zara membuka pelan pintu UKS dan tebakannya benar, Langit masih berada disana.

Zara terdiam untuk sejenak, matanya melihat gerak-gerik Langit yang seperti akan turun dari brangkar.

"Mau kemana?" tanya Zara

Langit menoleh pada Zara, tapi tidak ada satu kata pun yang dia ucapkan. Zara mendekati Langit ketika melihat Langit meringis sambil memegang kepalanya.

"Lo mau kemana? Biar gue bantu" ucap Zara menawarkan

"Gue mau ijin pulang" jawab Langit lemah

"Duduk dulu ya, lo makan dulu. Nanti gue yang ijin ke guru piket" ucap Zara lembut

Zara membantu Langit kembali pada posisinya, setengah berbaring diatas brangkar. Zara mendudukan dirinya di brangkar yang sama tepat di samping Lagit. Zara mengangkat sendok berisi bubur ke mulut Langit dan Langit hanya diam sambil menatapnya.

"Ayo makan, gue suapin" ucap Zara

"Gue bisa sendiri" ucap Langit sambil mengambil mangkuk bubur di tangan Zara, tapi Zara segera menjauhkan mangkuknya.

"Ga, pokoknya gue suapin atau lo gue kunci di UKS sampe jam pulang" ancam Zara

Langit memutar bola matanya dengan malas, dia akhirnya membuka mulutnya ketika Zara kembali menyodorkan sendok berisi bubur ke mulutnya. Zara tersenyum lebar, dia suka Langit yang penurut. Baru tiga sendok bubur yang berhasil Langit telan, tapi Langit sudah minta berhenti.

LAZARACerita yang bikin terobses. Temukan sekarang