nineteen

1.6K 124 7
                                    

Selamat pagi.. selamat membaca 🙆

Tanpa mereka sadari aji sedari tadi terus memperhatikan interaksi dua sejoli itu hingga akhirnya mereka masuk ke dalam ruangannya. "Rupanya kekasih bos..pantas bisa mendapat posisi tinggi." Aji pergi, dia harus segera pulang karena sudah semakin malam.

....

Dirumah biru terus saja diam, saat makan malam pun lelaki itu tak banyak bicara. Dia makan dalam diam, setelah selesai dia pun pamit ke kamarnya.

Omah Mona yang melihat itu bertanya tanya ada apa dengan cucunya, tidak biasanya murung seperti itu. "Al..kamu tau biru kenapa?"

Alma yang menuangkan air pun menoleh, Alma menatap biru yang berjalan lesu ke kamarnya. "Alma kurang tau omah." Alma bukannya tidak tau, tapi apa karena masalah tadi, bukankah sudah selesai, kenapa biru terlihat muram.

"Yaudah omah.. Alma coba samper biru." Alma baru saja ingin bangkit tapi  orang yang sedang mereka bicarakan sudah ada dia, di sana biru mengenakan jaket dan celana panjang. "Ga usah." Alma kembali mendarat bokongnya, dia menatap biru.

"Kamu mau kemana bi?"

"Ke luar sebentar omah."

Alma tak berani berucap, dia hanya memandang biru yang tiba-tiba berubah, mendadak cuek bahkan seperti tidak melihatnya.

"Kemana?"

"Aku pergi dengan ka mahen." Kak mahen yang sedari tadi asik dengan makannya pun bangkit, omah dan alma menatap mahen "iya omah..biasa urusan lelaki."

Omah Mona memicingkan matanya, "tumben akur?"

Mahen bingung harus ngomong apa, karena dia dan sang adik memang tidak terlalu dekat. "Yasudah ayo hen.." ajak biru.

Mahen pun bangkit menyusul biru yang sudah lebih dulu keluar. Alma masih terdiam menatap kedua adik kakak itu yang pergi gitu aja.

...

Di dalam kamar Alma terus saja menatap indahnya langit malam yang amat terang dari balik jendela. "Hari yang melelahkan."

"Ada apa dengan biru? Kenapa sikapnya sedikit aneh?" Alma mengambil ponselnya, dia membuka galeri yang penuh dengan fotonya akhir-akhir ini bersama biru dan juga kak mahen.

Alma menggeser layar ponsel itu, memperlihatkan setiap hasil gambar kebersamaan dengan kedua adik kakak itu, sebuah senyum terlukis dalam wajah Alma.

"Waktu begitu cepat bukan, udah satu Minggu alam berada di kota Gongseng ini."

Ketukan pintu membuyarkan Alma. Alma mematikan ponselnya dan berjalan untuk membuka pintu. "Iya sebentar." Disana omah Mona berdiri dengan membawa sebuah album foto. "Omah?"

"Boleh omah masuk?" Tanya omah,alma mengangguk, membukakan pintu untuk mempersilahkan omah Mona untuk masuk, "kamu betah disini?" Omah duduk di kasur Alma. Alma menyusul omah, "betah omah." Jawab Alma.

Alma menatap album foto yang dibawa omah. "Itu apa omah?" Omah menepuk kasur sampingnya. Alma pun mendekat pada omah. Omah membuka album itu, diawali dengan sebuah tulisan.

My little family

Kemudian omah membuka lembar pertama. Disana terdapat dua insang yang sangat bahagia, terlihat dari bagaimana mereka tersenyum bahagia dengan mengenakan sebuah gaun pengantin yang amat cantik membuat sang wanita terlihat begitu cantik dan lelaki yang tak kalah rupawan.

"Ini orang tua mahen dan biru.." Alma masih diam dia membiarkan omah Mona untuk bercerita. "...semua berjalan pada mestinya, mereka menikmati hari-hari dengan penuh kasih sayang, hingga kelahiran pertama anak mereka."

Omah membuka lembar berikutnya, disana ada anak laki-laki yang menangis di pangkuan sang ayah. "Itu mahen, saat  umur 3 tahun. Dia anak yang pintar, dari dulu hingga sekarang dia tidak pernah yang namanya minta ini dan itu."

"Satu tahun berlalu, mereka di beri kepercayaan untuk merawat sebuah anak" tampak foto perempuan cantik tadi menggendong seorang bayi kecil yang amat kecil. "Itu biru. Dia terlahir prematur. Dia ditaruh disebuah tabung, karena butuh penanganan khusus.

Semua itu mereka lalui dengan tulus, hingga sekarang dua anak itu tumbuh menjadi anak yang hebat. Mahen dengan karismatik nya sedangkan biru dengan keramahan nya.

"Omah... kemana kedua orangtua biru dan kak mahen?" Tanya Alma.

Omah menutup album foto itu, "mereka meninggal dibunuh. Saat usaha keluarga mereka sedang di atas, banyak pesaing yang ingin menjatuhkan keluarga ini. Rencana jahat terus berdatangan Dan akhirnya mereka berhasil membunuhnya. Saat itu biru dan mahen berumur dua belas tahun, dua anak itu lolos dari pembunuh dan berlari menyelamatkan diri. Mereka sembunyi di sebuah gubuk kecil yang jauh dari rumah mereka."

"Lalu omah?"

"Mendengar kabar itu pagi hari, tetangga mereka menghubungi kediaman omah. Saat itu dunia omah mendadak berhenti, rumah mereka habis terbakar tanpa sisa. Omah langsung melakukan penerbangan secepat mungkin menuju Jakarta. Saat omah sampai, ternyata benar semua habis tak tersisa. Pihak pemadam kebakaran dan polisi masih ramai disana..para tetangga juga membantu memadamkan api. Saat itu omah langsung bertanya pada salah satu tetangga.. dimana cucu omah. Tapi semua orang hanya menggeleng tak tau.. omah bingung, omah takut. "

"Omah hanya terduduk lemas, omah tak tau harus berbuat apa saat itu. Sampai dua anak kecil menghampiri omah. Disitu omah langsung memeluk mereka. Kamu selamat? Dia mengangguk dan menangis, takut. Kata itu yang di ucapkan biru kemudian biru pun pingsan. Omah langsung membawa mereka masuk ke dalam mobil dan membawa ke rumah sakit terdekat. Mahen masih terdiam tak banyak suara."

Alma menitihkan air mata, dia mengusap lembut kedua tangan omah Mona. "Tapi mahen berucap bahwa saat itu ada empat orang yang masuk ke dalam rumah dan langsung menyerang ayah dan ibunya. Anak itu takut, dia bersembunyi di balik pintu kamarnya. Mahen membangunkan biru dan mengajak biru pergi dari rumah untuk minta pertolongan, naas saat mereka keluar rumah mereka sudah penuh dengan asap dan api. Mahen berteriak tapi biru menariknya untuk pergi dan bersembunyi."

Mulai bosen?
Semoga suka ya👩‍🔬





The Fat Dreams (Tamat)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang