Boboiboy dkk adalah milik monsta saya hanya meminjam karakter nya saja.dan cerita ini asli punya saya
AU,Family,Angst(maybe?),Humor,Hurt,Drama,Friendship,Elementals Siblings
Rate : T
13+
===
"ketika kata kata yang kau lontarkan meninggalkan luka di hati orang lain, tidak peduli seberapa banyak kau meminta maaf. luka itu akan tetap ada."
===
"diobok obok airnya diobok obok.... Gopal kok hidup tapi selalu goblok goblok."
Dialog chapter kali ini diawali dengan nyanyian kekesalan yang keluar dari mulut Taufan. Dirinya kesal pada Gopal yang semalam mematahkan kursinya tanpa alasan. Ya, tanpa alasan. Tidak mungkinkan hanya karena Taufan mengikat Gopal di kursi itu, Gopal langsung mematahkan nya? Lalu bagaimana dengan tali nya? Kenapa tidak tali saja yang diputuskan? Mungkin Gopal lebih suka melakukan hal yang susah daripada yang mudah.
Singkatnya begini saja. Semalam mereka berdua bermain Jenga. Siapa yang paling sering menjatuhkan tumpukan baloknya, maka dianggap kalah dan tentu saja Gopal yang kalah. Taufan pun mendapatkan sebuah ide sebagai hukuman, ia mengikat Gopal pada kursi lalu pergi ke kamar Blaze dengan maksud untuk mengambil sebuah kotak yang mereka beri nama kit jahil. Kotak yang berisi lipstick, spidol, balon, dan hal lainnya yang bisa digunakan untuk menjahili saudara saudara mereka.
Namun saat kembali lagi ke kamar, Taufan mendapati Gopal yang sudah duduk di lantai seraya meringis sementara kursi miliknya sudah patah. Seberat itukah Gopal? Ups!
"lo dapet lagu gituan darimana kak?" tanya sebuah suara.
Taufan sedikit menoleh hanya untuk memastikan darimana asal suara itu. Gempa tengah berdiri di ambang pintu seraya memegang segelas minuman dingin. Sudah sejak tadi Ia memperhatikan Taufan yang sedang sibuk memperbaiki kursinya itu.
"beli aja lagi kak." Saran Gempa.
"kalo masih bisa dibenerin, kenapa harus beli baru?"
"iyain deh..."
Hening sejenak, lalu terdengar suara palu yang sedang bersentuhan dengan paku yang mulai menancap pada kayu. Gempa masih memperhatikan seraya menyesap minumannya. Hari ini hari minggu. Lagi. Ah, lagi lagi tentang waktu. Rasanya setiap hal selalu saja berhubungan dengan waktu. Bahkan pertanyaan nya pun tidak pernah berubah. Secepat itukah waktu berlalu? Tidak bisakah masa masa seperti ini dirasakan sedikit lebih lama lagi?
Gempa menoleh ke belakang, Blaze dan Thorn sedang asik menonton televisi di ruang tengah. Ice seperti biasa, Ia tertidur di sebelah Thorn. Solar sibuk mondar mandir entah mencari apa. Dan Halilintar baru saja turun dari lantai 2. Minggu adalah hari yang santai. Tapi untuk Halilintar, Taufan dan Gempa mereka mungkin tidak akan bisa sesantai ini lagi. Terutama Halilintar. Tahun berikutnya Blaze dan Ice juga sibuk setelah lulus SMA. Lalu disusul oleh Thorn dan Solar.
Ketika sudah sama sama sibuk nanti, apakah mereka masih bisa seperti ini? Apakah masih ada waktu untuk berkumpul bersama? Apakah semuanya akan berubah? Gempa sendiri tau, lambat laun semuanya akan berubah tanpa ia mau. Waktu terus berjalan meskipun sekuat tenaga ia tahan. Jadi ya sudahlah. Setidaknya Ia masih bisa menikmati waktu yang tersisa.
"Gem?"
"ah, k-kenapa?" tanya Gempa kikuk, lebih tepatnya kaget.
Halilintar mengikuti arah pandang Gempa sebelumnya, ternyata anak ini sedang memperhatikan Taufan. "mending liatin buku daripada Taufan, lebih ada manfaat."
"dih, tumben peduli." Cibir Gempa.
"tch! Yaudah gue ke rumah Fang dulu."
"mending ke rumah Yaya daripada Fang, biar keliatan lebih waras dikit."
"sialan!" umpat Halilintar dalam hati lalu berjalan meninggalkan Gempa.
"OI! GAK USAH BALIK KALO GAK BELI MAKANAN!"
Teriakan cempreng khas Taufan tidak Halilintar pedulikan. Gak usah balik katanya, memangnya ini rumah siapa? Ya rumah kakek mereka lah!
Gempa menghampiri Taufan setelah ia meletakkan gelas tadi di atas meja. Langkah kakinya menuju ke arah ayunan yang berada di bawah pohon rindang. Namun langkahnya terhenti ketika mendengar pertanyaan Taufan.
"Gem, Kalo rencana kita gagal gimana?"
"lah? Kan lo yang ngerencanain, kenapa jadi ragu gini?" tanya Gempa heran.
"justru karena gue yang ngerencanain, gue lebih tau kak Hali."
"mentang mentang." Gumam Gempa
"terus gimana?"
"lah kenapa nanya balik?"
"ah, lo mah, kasih saran kek apa kek." Sungut Taufan.
"dari awal gue udah bilang kak... rencana gak bakal lancar kalo ngelibatin Mama.."
"tapi dulu dia sendiri 'kan yang mau?" tanya Taufan lagi.
"mau tau gimana jawaban kan Hali?" tanya Gempa balik.
"dulu sama sekarang itu beda!" dan mereka berdua malah kompak menjawab. Mereka sudah hafal dengan kebiasaan Halilintar.
"tapi apa salahnya coba?" ucap Taufan yang mencoba untuk kembali meyakinkan.
"gue ikut ajalah."
"ck! Kok baru sekarang ya gue bingung nya?" tanya Taufan heran.
"lo emang selalu ketinggalan kereta kak." Jawab Gempa asal. "lagian gara gara apa lo tiba tiba gini? Kemaren kemaren aman aja tuh."
"coba lo cabut paku ini." Taufan malah memberikan palu pada Gempa, lalu mendekatnya bagian kursi yang kayunya tertancap paku.
"terus?" tanya Gempa setelah mencabut paku tadi dari kayu.
"sekarang kayunya gimana?"
"ya bolong." Jawab Gempa malas. Ia tidak suka kalau Taufan bertele tele seperti ini.
"berarti rusak 'kan, nah apa bisa kembali lagi kayak dulu?"
"ya nggak lah, kecuali kalo beli baru. Tapi jadinya beda lagi."
"nah gitu juga kak Hali, waktu itu dia pernah bilang. Paku itu ibarat Mama sementara kayunya itu dia. Dan lubang itu adalah hal yang udah Mama lakuin."
Gempa diam sebentar. Mencoba untuk memastikan perumpamaan itu benar atau tidak. Lubang ya? biasanya lubang tidak akan tertutup dengan sendirinya. Apalagi kalau lubang itu besar. Katanya lubang itu bisa tertutupi dengan adanya penambal. Begitu juga kah dengan lubang di hati? Lubang yang akan tertutup dengan kehadiran orang yang sangat berharga. Namun terkadang, menggunakan cara apapun tetap tidak akan hilang sepenuhnya, masih meninggalkan bekas yang berujung luka.
Kata orang luka yang paling parah adalah luka hati. Katanya juga obat untuk luka hati adalah kasih sayang. Lalu ketika kasih sayang itu sudah menghilang, artinya tidak ada yang bisa menyembuhkan luka itu 'kan? Lalu harus sampai kapan luka itu dibiarkan? Sampai kapan harus tersiksa karena nya? Sampai kapan harus merasakan sakitnya? Siapa lagi yang akan mengakhiri semua itu jika bukan diri sendiri?
"gimana jadinya nanti itu resiko." Jawab Gempa akhirnya. "paling gak kita usaha, bisa aja sebernya kak Hali tuh seneng, tapi belum bisa ngalahin emosinya."
===
Setelah bertahun tahun— eh gak deng, lebay banget sebulan aja gak sampe:v
Akhirnya Pain upload, sebenernya karena dipaksa up mulu, padahal lagi gak ada ide, berasa punya utang gitu ditagihin mulu tiap hari, ehe
Dahlah pokoknya gitu, jangan lupa vote dan komen nya, tunggu chap. Berikutnya yaa
Rabu, 22 Jan 2020
xvy.Al
KAMU SEDANG MEMBACA
PAIN [Boboiboy]
Teen Fiction[REVISI] "Segitu bencinya lo sama dia kak?" -Taufan "Lo gak lupa kan fan, siapa yang buang kita?" -Halilintar "Lo juga gak lupa kan kak, siapa yang lahirin kita?" -Taufan "Kalo bisa minta, gue gak mau di lahirin." -Halilintar Diabaikan, dilupakan, l...
![PAIN [Boboiboy]](https://img.wattpad.com/cover/196791575-64-k340882.jpg)