38. Teman masa kecil

3.1K 178 12
                                        

"Shasa."

Mata Dasha seketika terpejam, ia merasakan merinding ditubuhnya, entah bagaimana bisa, Dasha muncul. Ini tidak biasa, hanya dengan mengucapkan nama itu Dasha muncul dan mengalahkan Nattasha.

"K-kamu." Dasha menatap Tama yang berada dihadapanya, tatapan Tama berubah bingung, raut wajah Dasha sangat shock melihat Tama. Dasha seperti dejavu.

"Gimana kamu bisa tau nama Shasa, Tama?" tanya Dasha yang semakin mendekatinya.

Shasa. Adalah nama panggilan yang selalu terngiang dikepala Dasha, itu nama panggilan dari sahabat kecilnya dulu. Namun, Devan tidak pernah tau nama panggilan itu, meski Devan mengaku dia adalah sahabat dari kecil Dasha.

Mata Tama mengerjap, apa yang sudah ia lakukan, bukannya tadi Nattasha, lalu kenapa sekarang Dasha. Tama terdiam, ia mengalihkan tatapannya.

"Tama, gimana bisa kamu tau nama panggilan aku dulu, gimana bisa, kamu orang baru Tama?" tanya kembali Dasha, dada gadis ini meburu akibat ia mendesak lelaki ini. Tama hanya menunduk.

"Kamu tau sesuatu tentang aku kan? Sesuatu yang bahkan Devan aja nggak tau, jawab aku Tama." Teriak Dasha dengan air mata yang mengucur, entahlah ia seperti merasakan sesuatu pada Tama, entahlah apa itu.

"Tama..." Lirih Dasha yang ambruk didepan Tama, gadis ini bersipuh, ia menangis merasakan sakit yang entah dari mana rasa sakit itu.

"Ya, ini aku Sha." Dasha mengadahkan wajahnya, mata Tama menatap dalam Dasha yang berada dibawanya. Air mata gadis ini masih mengucur. "Ini aku, Xaverio. Rio-nya Shasa, sahabat masa kecil yang pergi 7 tahun yang lalu, yang mencari Shasa-nya setiap ada kesempatan."

Napas Dasha tercekat, pengakuan apa ini.

Tapi tunggu.

Xaverio.

Rio.

Rio-nya Shasa, mata Dasha terbelalak, ia berdiri menatap Tama tak percaya, mulutnya menganga.

"K-kamu--"

''Kamu udah inget sekarang Sha?'' tanya Tama, air mata Dasha kembali mengucur, ia langsung saja menubruk tubuh Tama, tubuh lelaki yang membuatnya sangat kesepian.

"Kenapa nama Rio begitu familiar, kenapa aku ngerasa deket banget sama nama Rio?" tanya Dasha yang memeluk Tama erat, meski Dasha tidak tahu alasanya memeluk coowk itu.

"Kamu melupakan semuanya Sha, kenapa? apa karna Devano, Sha, Devan datang saat kamu masih SMP, dia bukan teman dari kecil, dia datang saat kamu udah dewasa."

Dasha menatap Tama tak percaya, Devan, sahabatnya, kenapa bisa, Devan bilang mereka ada teman dari kecil, teman dekat, Devan malaikatnya, Devan yang menyelamatkanya.

"Semua cerita yang Devan buat, itu semua omong kosong, kita berpisah saat umur kita 11 tahun."

Flashback

12 Tahun yang lalu.

Seorang gadis berumur 6 tahun duduk dikursinya, ia masih di kelas paud nya. Gadis yang bernama Dasha Nattasha itu melirik kembali pintu ruang kelas.

"Shasa, papah kamu belum jemput?" tanya bu guru paud membuat Dasha menggeleng. "Yaudah, kamu mau nunggu dikelas, atau nunggu diluar aja, temen-temen kamu juga masih nunggu diluar." Lanjut sang guru.

Dasha terdiam, gadis berambut coklat ini lalu berdiri dan menggandeng tangan si guru, mereka lalu leluar kelas dan menuju keluar.

Dasha duduk dikursi panjang, teman-temanya satu-persatu mulai dijemput, kini hanya ada beberapa anak saja yang masih nunggu.

"Shasa, udah 1 jam papah kamu mana?" tanya kembali si guru, Dasha terdiam, ia tidak terlalu mengerti kenapa si guru bertanya.

Kini tinggallah Dasha seoarng diri, duduk dikursi tunggu itu, ibu guru tadi seperti sedang gelisah.

"Shasa, papah kamu jadi jemput kan, ini ibu ada urusan loh, tapi gak mungkin juga ibu ninggalin kamu." Coletah sang guru, Dasha melirik si guru, ia hanya diam, ia tidak tahu kenapa papahnya belum menjemput.

"Rio, Rio sini nak." Panggil guru itu, Dasha melirik kebelakang, seorang anak lelaki menghampiri guru itu. "Kamu bisa temenin dia dulu gak sampai papahnya jemput, ibu gak bisa nungguin dia." Ujar sang ibu pada anak 6 tahun itu.

Ya, tidak bertanggung jawab memang, bagaimana bisa seorang guru menitipkan anak muridnya pada murid lain. Anak yang bernama Rio itu mengangguk setelah melirik Dasha.

Benar, guru itu pergi dengan sepeda motornya, kenapa dia tidak mengantarkan Dasha saja, Dasha diam masih menatap Rio.

"Nama kamu siapa?" tanya Rio, Dasha terdiam, papahnya berpesan agar tidak mengobrol dengan orang asing. Namun Rio bukanlah orang asing, dia satu kelas dengan Dasha.

"Shasa," jawab Dasha, bibir Rio tertarik, ia tersenyum mendengar suara Dasha. Sejak saat itu mereka menjadi berteman, Rio yang akan menunggu bersama Dasha saat papahnya belum menjemput. Mereka bermain bersama saat di TK.

Dan itu berlanjut sampai umur mereka 11 tahun, Rio berpamitan pada Dasha, anak lelaki kelas 4 SD ini pindah keluar kota, ayahnya berpindah tugas, Dasha menangis saat Rio berpamitan namun ada satu janji Rio yang ia pegang.

"Aku akan mencari kamu saat aku besar nanti, jangan lupain aku, karna aku akan datang. Shasa."

Flashback off.

Itu adalah janji yang terngiang sampai sekarang.

Tama Xaverio.

Xaverio.

Rio.

Dasha melepaskan pelukanya.

"Kamu sahabat aku Tama, tapi kenapa aku melupakan kamu, kenapa bisa, nama Rio dan Shasa selalu terngiang otak aku, tapi aku gak tau artinya apa."

"Devano." Jawab Tama, mata Dasha mengerjap, kenapa semuanya harus Devan, kenapa Devan melakukan semuanya, menghilangkan memorynya.

"Ya Sha, Devano ngilangin ingatan masa kecil kamu suapaya dia bisa bilang dia adalah teman kecil kamu, aku udah selidikin semuanya, dan Devan memang yang melakukanya."

Mereka lalu duduk dikursi yang sempat Tama tiduri itu.

"Darimana kamu tau itu aku Rio, sudah 6 tahun, gimana bisa kamu ngenalin aku?" tanya Dasha, otaknya dipenuhi pertanyaan-pertanyaan.

"Aku gak pernah tau kalau itu kamu Shasa, semuanya dimulai waktu aku jengukin kamu dirumah, saat kamu sakit. Didalam kamar kamu, ada foto kamu saat masih kecil, dan aku langsung tau itu kamu. Shasa," jawab Tama.

Dasha terdiam, pantas saja saat kepingan ingatan nya terlintas dan ia menanyakannya pada Devano, lelaki itu bilang Dasha hanya halusiansi, memory yang Dasha ungkapkan pada Devano dijawab bahwa itu tidak pernah terjadi.

Tapi kenapa Devano melakukan ini, kenapa? lalu bagaimana dengan Gideon, Devan bilang lalaki itu bertemu dengan Dasha saat mereka sekolah dasar.

Bagaimana bisa takdir mempermainkanya, siapa yang harus Dasha percayai saat ini.

Tama atau Rio yang memang terlintas dikepingan ingatannya.

Atau Devano yang selama Dasha ingat, ia hanya bersama Devan.

Siapa yang harus Dasha percayai.

.
.
.
.
.
.
.
.
.
.

Bersambung.

[Tuh guys, Shasa bukan kepribadian Dasha yang lain yesh. Itu nama panggilan saat Dasha kecil.]

Kepribadian Ganda [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang