Beberapa hari kemudian . . .
Athanasia yang baru saja bangun sedang duduk di tempat tidurnya. Ia menatap ke sembarang arah, dengan tatapan kosong. Ya, sedang mengumpulkan sisa-sisa nyawa.
Kemudian dia memandang sekeliling. Ia baru sadar kalau Lilian ada di dekat gorden dan hendak membuka gorden besar itu. Wanita yang belum menikah itu menoleh ke arahnya sembari tersenyum lembut.
"Selamat pagi, Tuan Putri. Hari ini cuacanya cukup indah," ucap Lilian sambil merapikan barang-barang setelah membuka gorden.
Athanasia hanya diam. Lilian melihat ekspresi datar itu, hatinya bagaikan diiris sembilu. Ia sedih, karena sikap Athanasia yang berubah 180°. Menjadi pendiam, nyaris tidak bersemangat dan hampir tidak pernah tersenyum tulus seperti dulu.
"Eum... Tuan Putri. Yang Mulia Raja ingin bertemu dengan Anda. Sebaiknya Anda segera bersiap." Lilian kembali melanjutkan.
"Hm." Athanasia bergumam.
Athanasia akhirnya sadar kalau sudah dua hari ini ia tidak bertemu dengan Lucas. "Lili, apakah Lucas ada mengunjungi Istana Emerald kemarin?"
"Umm? Setahu saya tidak."
"Pagi ini? Dia juga tidak datang?"
"Iya, mungkin. Kalau berdasarkan dari pekerjaannya, sepertinya beliau sedang sibuk, Tuan Putri."
Athanasia hanya tersenyum miring. Sibuk apanya? Ia berani bertaruh, Lucas sedang malas-malasan saat ini.
"Mari, Tuan Putri."
"Hm."
♪ ♪ ♪
Ketika Athanasia dan Felix berjalan hendak menemui Raja Obelia yaitu Claude, Felix melihat dari kejauhan Lucas yang sedang berjalan di luar istana.
"Oh, Tuan Putri. Itu Tuan Penyihir!" seru Felix semangat, mencoba agar putri tunggal Claude turut demikian.
Athanasia menoleh, akan tetapi ia hanya diam saja, tidak memanggil nama sang penyihir. Karena ia tahu, Lucas pasti akan menyadari keberadaannya.
Tentu saja. Baru beberapa langkah mendekati Lucas, pemuda itu menoleh ke arah mereka berdua. Lucas pun menghampiri sang putri Raja dan kesatria di sampingnya.
Penyihir kerajaan itu melirik Athanasia sekilas, kusut; itulah yang mendeskripsikan raut wajah gadis itu saat ini. Seakan-akan mati rasa. Kemudian ia beralih pada kesatria di sampingnya.
"Apa kalian akan menemui Yang Mulia?" tanya Lucas berbasa-basi.
"Ya, Tuan. Yang Mulia sudah menunggu," jawab Felix sopan.
Lucas mengangguk. "Bolehkah saya berbicara dengan Tuan Putri sebentar? Ada hal penting yang ingin saya sampaikan."
Felix terlihat ragu. Lucas kembali menyambung. "Hanya sebentar. Saya pastikan ketika Anda sampai di hadapan Yang Mulia, saya dan Tuan Putri juga akan sampai."
"Baiklah." Felix membungkuk sembari memberi hormat. Kemudian berjalan menuju kebun mawar sendirian.
Kini tinggal Athanasia dan Lucas yang berada di pekarangan Istana Emerald. Lucas menatap sang putri Raja di hadapannya dengan wajah datar, begitu pula dengan gadis itu. Sang penyihir mendekat, jarak mereka kian tipis. Athanasia mendongak, melihat lebih jelas bagaimana sepasang iris ruby itu menatapnya cukup dalam.
Athanasia berdecak tidak suka. "Jangan menatapku seperti itu!"
"Memangnya aku menatapmu seperti apa?" Lucas meninggikan alis dan menyeringai.
KAMU SEDANG MEMBACA
MELLIFLUOUS [Terbit] ✔
Fanfiction[SUDAH DITERBITKAN. FANFICTION of Suddenly, I Became A Princess] Highest ranks: #1 claude [23 Mei 2020] #1 lucasxathy [29 Mei 2020] #1 athyxlucas [29 Mei 2020] #1 athanasia [29 Mei 2020] #1 athy [29 Mei 2020] #1 suddenlyibecameaprincess [29 Mei 2020...
![MELLIFLUOUS [Terbit] ✔](https://img.wattpad.com/cover/215300298-64-k432806.jpg)