Chapter 9

7.5K 632 139
                                        

Dini hari . . .

Sekitar Pukul 01.45

Claude berjalan menyusuri lorong istana tanpa bantuan alat penerang untuk menerangi langkahnya. Seolah hanya mengandalkan cahaya rembulan yang terlihat redup, sang Raja Obelia melangkah cepat. Bukan karena takut, melainkan cemas dan gelisah yang menyayat hati.

Buah hati tercintanya saat ini sedang masa kritis. Ayah macam apa yang tidak khawatir pada anaknya yang sedang kritis?

Sesudah sampai di depan pintu, sang Raja melihat Lilian dan Felix masih setia menunggu di depan pintu kamar Athanasia. Ekspresi wajah mereka benar-benar menyedihkan. Tidak ada keceriaan sama sekali.

"Se-selamat malam Yang Mulia," sapa Felix dan Lilian tidak bertenaga. Mereka membungkuk hormat; Lilian mengangkat kedua sisi gaunnya.

"Sedang apa kalian di sini?" Claude mengerutkan dahi. "Kenapa kalian tidak tidur?"

"Maaf Yang Mulia," Lilian langsung menyahut. "Saya tidak tenang kalau Tuan Putri belum sadar."

"Saya tidak mungkin meninggalkan miss York sendirian di sini, Yang Mulia. Oleh sebab itu saya masih ada di sini." Felix ikut menimpali.

Claude pun diam. Ia mendekati pintu, Felix segera berinisiatif untuk membuka pintu. Claude masuk, sang kesatria ingin melangkah turut bersamanya namun...

"Kau tetap di luar."

Felix mengeluh kecewa. Claude meliriknya lalu menyambung, "Antar pelayan itu kembali ke tempatnya. Lekas tidur dan jangan berkeliaran di istana."

"Baik, Yang Mulia."

BLAM!

Pintu ditutup. Tanpa melawan ataupun memberontak, mereka melaksanakan apa yang sang Raja perintahkan.

Claude melangkahkan kaki menuju kasur. Ketika dia sampai di tepi kasur, dibantu oleh cahaya bulan dia melihat sosok penyihir Kerajaan Obelia sedang duduk dengan kepala yang direbahkan di pinggir kasur. Ya, Lucas sedang tidur.

Sementara tangan kanan pemuda itu tampak menggenggam tangan kanan Athanasia yang masih memejamkan mata.

Claude termenung.

Entah mengapa dia merasa teduh melihat pemandangan yang tersaji di hadapannya saat ini.

Namun cepat-cepat dia menyadarkan diri lalu memanggil nama sang penyihir.

"Lucas."

Sang pemilik nama segera bangun dari tidurnya. Ia menegakkan kepala, mendongak mencari tahu siapa yang memanggilnya.

"Yang Mulia." Penyihir itu melepas genggamannya lalu bangkit berdiri. Claude tetap memasang ekspresi dingin, ia pandai menyembunyikan rasa khawatirnya.

"Bagaimana?" tanyanya pendek.

Lucas mendengus kecil. "Seharusnya Tuan Putri sudah membaik. Saya sudah mengobati Tuan Putri semaksimal mungkin. Perkiraan saya beliau akan siuman sebentar lagi."

Claude mengatupkan mulut. Kakinya melangkah mendekati anak tunggal yang dilahirkan oleh mendiang Diana. Tangannya mengusap poni gadis itu, lalu mengecupnya penuh kasih sayang.

Lucas hanya mengamati semua itu dalam diam. Setelah beberapa lama, barulah sang Raja mengangkat kepalanya, memutar badan berhadapan muka dengan penyihir kerajaan.

"Jaga dia. Aku akan menemuinya lagi nanti," perintah Claude dibalas dengan anggukan kepala dari Lucas.

"Anda juga, Yang Mulia. Jaga kesehatan Anda. Tidurlah yang cukup. Tuan Putri tidak akan suka kalau Yang Mulia terlihat tidak segar. Lagipula, ada beberapa tamu kerajaan yang datang. Anda harus tetap fit dalam melayani mereka."

MELLIFLUOUS [Terbit] ✔Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang