Chapter 27

4.4K 363 72
                                        

6 Bulan Kemudian . . .

"Tapi Yang Mulia..."

Felix lelah. Ya, lelah. Lelah memberi pengertian dan penjelasan kepada sang Raja Obelia, Claude de Alger Obelia.

Surat-surat berisi undangan maupun jamuan penting yang dikirim dari kerajaan lain masih saja Claude acuhkan. Menganggap semuanya itu hanyalah bualan yang tak pantas diberi perhatian.

Athanasia menatap Felix kasihan. Si Kesatria Merah berulang-ulang memberi pengertian, tapi Claude masih saja tidak memperdulikan.

Bahkan sewaktu Claude pergi menuju ruang kerjanya pun, ia seolah tuli ketika Felix mencoba menjelaskan kembali.

Dan saat ini Athanasia sedang dikawal oleh Felix untuk kembali ke Istana Emerald. Tapi gadis itu memilih untuk mengunjungi perpustakaan pribadinya. Jaraknya lebih jauh dari posisi mereka saat ini. Sang putri Raja sengaja melakukan hal itu agar bisa berbincang dengan Felix lebih lama.

"Memangnya kali ini kenapa?" Athanasia bertanya dengan penasaran.

Felix berekspresi lesu. "Lagi-lagi Yang Mulia mengabaikan undangan dari kerajaan lain, dan kali ini adalah Kerajaan Sripraya, Tuan Putri. Padahal Kerajaan Sripraya sudah menjalin hubungan baik dengan Kerajaan Obelia, sejak zaman Yang Mulia Raja Cailum."

Bibir Athanasia membulat tak menyangka. Hah?! Claude gila, ya?! Hubungan persahabatan antar kerajaan yang sudah terjalin lama itu, tega sekali ia mengabaikannya!

"Astaga, sepertinya aku harus bicara dengan Papa!" Gadis itu mengepalkan tangannya kesal.

"Terlambat, Tuan Putri," keluh sang kesatria. "Undangan tersebut harusnya diselenggarakan hari ini. Jikalau Yang Mulia datang pun, tidak akan berarti apa-apa."

Athanasia tercengang.

"Tapi, saya harap Yang Mulia akan peduli sedikit pada undangan yang akan datang selanjutnya."

Sang putri Raja tak mampu menyahut. Tak ingin semakin merusak mood sang kesatria, Athanasia pun membuka topik baru. Dan yah, tidak butuh waktu lama untuk kembali menceriakan Felix.

♪ ♪ ♪

Beberapa hari kemudian . . .

"Papa! Ini apa?"

Kedua mata Athanasia berkilau indah sewaktu mengambil sebuah gulungan yang menampilkan kesan elegan. Claude melirik ke arahnya, kemudian fokus menulis kembali.

"Tidak penting," jawabnya datar.

"Apa Athi boleh buka?" Ia tersenyum ceria seperti biasa.

Claude meliriknya lagi, mendengus pelan. "Bukalah."

Dengan penuh rasa ingin tahu, sang putri Raja membuka gulungan tersebut. Setelah dibuka, dahinya mengerut tebal.

"Hah? Tidak ada isinya!" Matanya beralih pada sang Ayah.

Raja Obelia tersenyum kecil, meletakkan pena ke meja lalu menatap anaknya. "Itu artinya surat tersebut berisi hal yang sangat penting dan bersifat rahasia."

Athanasia memiringkan kepala, hal yang sering ia lakukan jika kebingungan. "Aku tidak mengerti. Jadi bagaimana cara membacanya?"

"Felix!"

Sang kesatria segera memasuki ruangan. "Ya, Yang Mulia?"

"Ambilkan obor khusus."

Lekas-lekas Felix mencari obor khusus yang Claude maksud. Sesudah dapat, ia kembali ke ruangan lalu menghadap sang Raja. Athanasia hanya memerhatikan dalam diam.

MELLIFLUOUS [Terbit] ✔Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang