Keesokan harinya . . .
Di perjalanan . . .
"Papa! Apa masih lama?"
Athanasia mengerucutkan bibir, ia tak menyangka kalau mengunjungi kerajaan lain bisa memakan waktu selama ini.
Oh, ayolah. Di kehidupan yang sebelumnya jauh lebih canggih daripada semua ini! Keluar negeri saja hanya memakan waktu beberapa jam lamanya.
Tapi sekarang?
Ah, sudahlah.
"Sebentar lagi," jawab sang Ayah tanpa ekspresi.
Athanasia menghela napas. Ia mengikuti pose ayahnya; menopang dagu. Ia merasakan kebosanan yang luar biasa sekarang. Di pangkuannya terdapat beberapa buku, tapi tak ada satupun yang dapat menarik perhatiannya saat ini.
Uh, andai saja ada Lucas di sini. Begitulah pikirannya berandai-andai.
Fajar sudah menyingsing. Sunrise seolah datang menyambutnya.
Manik kristalnya tak sengaja melihat beberapa prajurit yang mulai merasa penat.
Hoho, tentu saja. Mereka berhenti berjalan di tengah malam, lalu kembali melanjutkan perjalanan kira-kira pukul lima pagi. Pasti masih ada yang belum segar sepenuhnya dalam melanjutkan perjalanan ini.
Merasa iba, ia membuka suara. "Papa, Athi mau sarapan. Athi rasa lebih cepat lebih baik," ucapnya walaupun sebenarnya ia belum merasa lapar.
Pandangan mereka bertemu. Kemudian sang Raja menoleh ke samping, di mana Felix sedang berjalan sekaligus mengawal di samping kereta kuda yang dinaiki Claude dan Athanasia.
"Hentikan perjalanan, kita sarapan."
Felix mengangguk patuh, beralih ke depan. Ia mendekatkan kedua jarinya ke mulut dan bersiul melengking membuat semua rombongan berhenti.
Singkatnya mereka sudah mencari tempat yang aman untuk menetap sementara. Untungnya kawasan mereka saat ini dekat sungai yang jernih, mereka bisa bersantai sejenak.
Athanasia beserta ayahnya keluar, begitu pula dengan para maid yang berteduh di kereta kuda yang lain.
Claude tampak menulis surat yang sepertinya ditujukan kepada Kerajaan Kastila. Mengikatnya pada kaki burung pos dan burung itu pun terbang melaksanakan tugas. Sang anak hanya diam memerhatikan.
"Tuan Putri, kami sudah menyiapkan permandian. Mari, Tuan Putri."
Perkataan Lilian sedikit mengejutkan sang putri Raja. Gadis itu berkedip sebelum akhirnya mengangguk.
♪ ♪ ♪
Singkatnya, sarapan telah selesai. Kendati demikian masih ada hal yang harus diurus sebelum kembali melanjutkan perjalanan.
Seperti memeriksa semua barang, memeriksa kesehatan kuda-kuda yang dipakai, memeriksa apakah ada hal yang rusak atau semacamnya dan masih banyak lagi.
Berinisiatif, Athanasia memeriksa kereta kuda yang ia tumpangi bersama sang Ayah. Setelah yakin tidak ada masalah, ia meminta izin kepada Claude agar diperbolehkan pergi ke dekat sungai.
Ia diizinkan pergi, tentu ditemani oleh Lilian dan Hanna.
Tapi gadis itu ingin sendiri. Oleh sebab itu ia pun membujuk kedua pelayan kesayangannya itu agar hanya menemani sang putri Raja dari jarak jauh.
Akhirnya mereka menurut.
Ada alasan dibalik permintaan Athanasia. Sebenarnya ia ingin menghubungi Lucas menggunakan kalung yang ia kenakan. Ia hanya akan merasa malu karena kepergok berkomunikasi jarak jauh dengan si penyihir kerajaan.
KAMU SEDANG MEMBACA
MELLIFLUOUS [Terbit] ✔
Fiksyen Peminat[SUDAH DITERBITKAN. FANFICTION of Suddenly, I Became A Princess] Highest ranks: #1 claude [23 Mei 2020] #1 lucasxathy [29 Mei 2020] #1 athyxlucas [29 Mei 2020] #1 athanasia [29 Mei 2020] #1 athy [29 Mei 2020] #1 suddenlyibecameaprincess [29 Mei 2020...
![MELLIFLUOUS [Terbit] ✔](https://img.wattpad.com/cover/215300298-64-k432806.jpg)