Keesokan harinya . . .
Singkatnya, setelah melalui cukup banyak pertimbangan, adu mulut yang cukup serius di antara kedua belah pihak, dengan Lucas dan Felix yang tampak berperan sebagai penasihat, akhirnya Claude setuju.
Sang Raja menyepakati bahwasanya Zenith akan dibiarkan tetap tinggal di Istana Emerald.
Kendati Zenith tidak bergabung dalam perdebatan ini, namanya amat dipertaruhkan di sini.
Jauh di lubuk hati Claude, ia masih tidak terima dengan semua keputusan ini. Mengapa? Zenith jelas-jelas telah mencoba (meskipun secara tidak langsung) menghancurkan hubungan ayah dan anak di keluarga inti sang Raja Obelia.
Jika ia memang baik, harusnya ia setidaknya membantu Raja agar mengingat kembali tentang anak kandungnya! Tapi nyatanya tidak sama sekali! Zenith terlihat begitu menikmati alur yang tercipta selama Claude kehilangan ingatannya.
*di webtoon, Zenith justru melakukan hal yang sebaliknya guys. Dia dong yang nanya ke Claude apakah Claude tidak merindukan Athanasia :')
Ups, sori spoiler wkwkwkw*
*Back.to.the.story.*
Sungguh, sampai sekarang Claude tidak dapat menemukan jawaban pasti mengapa anak semata wayangnya keukeuh mempertahankan kehadiran Zenith di istana ini.
"Kau yakin?"
Dan untuk kesekian kalinya pun Athanasia dapat mengangguk pasti. Tanpa beban, tanpa diliputi keraguan. Claude kembali bimbang.
"Tidak ada penyesalan?"
Anaknya menggeleng enteng. Claude menatap serius gadis itu sembari berharap akan ada celah keraguan di sana. Namun nihil! Athanasia tetap yakin pada pendiriannya!
Claude mendengus, sedikit tidak mau mengakui kekalahannya.
"Melihat keputusan ini, seolah kaulah penguasa Obelia," sindirnya sesudah membuang mata.
Sang putri tercinta tertawa. "Papa berlebihan, deh!"
Sang Ayah mengambil tinta dan mulai menulis. "Baiklah, aku beri dia kesempatan kedua. Dia adalah orang pertama yang mendapat kesempatan kedua dariku. Tapi kalau sampai kesempatan itu dia sia-siakan, aku tidak akan segan membunuhnya." Iris safir itu berkilat tajam.
Athanasia merinding selama beberapa saat. Cepat berpikir bagaimana cara menghilangkan aura dingin itu.
"Oh, Papa tahu tidak? Papa itu orang tua yang paling baik di dunia ini!"
"Kenapa begitu?"
"Karena rela mengikuti permintaan anaknya, meskipun sebenarnya kita memiliki perbedaan pendapat."
Claude kembali mendengus. Ia sudah dipuji habis-habisan oleh anaknya sendiri, bagaimana mungkin ia tidak bertekuk lutut?
"Tapi bukan berarti kau jadi seenaknya menemui bocah itu," ucap sang Raja setajam silet.
Athanasia cengengesan. "Athi mengerti~ Papa tenang saja! Lagipula kalaupun aku pergi menemuinya, si penyihir Lucas akan ada di sampingku~"
"Hn."
Claude kembali menaruh fokus pada berkas-berkas penting di hadapannya. Membaca dengan teliti dan menaruh tanda tangan dan stempel kerajaan bila perlu.
Athanasia duduk di hadapannya seraya menopang dagu. Memerhatikan setiap gerak-gerik sang Ayah, sembari terus berkata dalam hati alangkah susahnya menjadi seorang Raja.
"Kau boleh membacanya kalau kau mau."
Mata gadis itu berkedip beberapa kali. Tak sangka Claude akan berkata demikian.
KAMU SEDANG MEMBACA
MELLIFLUOUS [Terbit] ✔
Fanfiction[SUDAH DITERBITKAN. FANFICTION of Suddenly, I Became A Princess] Highest ranks: #1 claude [23 Mei 2020] #1 lucasxathy [29 Mei 2020] #1 athyxlucas [29 Mei 2020] #1 athanasia [29 Mei 2020] #1 athy [29 Mei 2020] #1 suddenlyibecameaprincess [29 Mei 2020...
![MELLIFLUOUS [Terbit] ✔](https://img.wattpad.com/cover/215300298-64-k432806.jpg)