Chapter 4

9K 720 126
                                        

"Hiks hiks..."

Athanasia mengurung diri di kamar. Tak seorang pun ia izinkan masuk, bahkan Lilian York sekalipun.

Matanya begitu sembab dan bengkak. Wajahnya memerah karena lelah menangis, kepalanya berdenyut tak karuan. Dia menangis sesenggukan, begitu menyedihkan.

Putri Raja yang baru selesai menghadapi cobaan yang luar biasa itu menangis sampai larut malam. Sampai-sampai air matanya hampir kering, tapi dia seakan belum puas.

Tok tok tok!

"T-Tuan Putri... Anda belum makan malam sampai sekarang."

Ah, itu Lilian.

"Saya membawa makanan kesukaan Tuan Putri. Saya mohon, izinkan saya masuk dan makanlah sedikit."

Seolah tuli, Athanasia sama sekali tak mengindahkan permohonan Lilian. Tangisnya masih pecah meskipun tak sederas tadi siang.

"Tuan Putri..."

Tok tok tok!

"Tuan Putri, setidaknya satu atau dua suap saja. Saya mohon buka pintunya..."

Tok tok tok!

"Hiks hiks..."

Di luar, Lilian mendekatkan telinganya pada pintu kamar Athanasia. Raut wajahnya begitu cemas, takut kalau-kalau sang putri Raja menjadi sakit karena melalaikan jam makan.

Ia menghela napas sedih seraya menunduk, menatap nampan berisi makanan dan minuman di tangannya.

"Bagaimana?"

Felix membuyarkan lamunannya. Lilian berbalik ke belakang lalu menggeleng lemah. Pemuda bersurai merah maroon itu memijit kepalanya frustasi, bingung harus bagaimana dalam menghadapi situasi seperti ini.

"Kalau begini terus, Tuan Putri bisa sakit." Kedua iris aqua itu berkaca-kaca. "Tuan Putri baru saja bisa kembali menghirup udara segar tanpa takut akan bayang-bayang dikejar bagai buronan. Jika masalah ini semakin besar, Tuan Putri bisa saja memutuskan untuk kabur dari istana. Bagaimana ini...?"

"Miss. York, tolong jangan mengatakan hal seperti itu!" Felix memegang kedua pundak maid di depannya. "Tuan Putri kita sudah beranjak dewasa. Beliau tidak mungkin akan kabur hanya karena sedikit berselisih dengan Yang Mulia."

"Kau benar..." Lilian merapalkan kalimat itu berulang-ulang sampai ia merasa tenang.

"Tuan Putri tidak akan kabur lagi. Tuan Putri adalah harta Obelia yang paling berharga. Beliau tidak akan melakukan hal senekat itu."

"Lantas bagaimana membujuk Tuan Putri agar mau makan sedikit?" Lilian kembali frustasi.

"Ada apa?"

Lilian maupun Felix segera menoleh ke asal suara. Tampaklah Lucas dari kejauhan dalam gelap sedang berjalan menghampiri mereka. Tanpa pikir panjang Lilian berlari mendekati sang penyihir kerajaan.

"Tuan Penyihir!!!" seru Lilian sedikit parau. "Tolong... Tuan Putri ...!!!"

"Tuan Putri?" Lucas spontan mengerutkan kening. "Ada apa dengan Tuan Putri?"

"Begini, Tuan..." Felix datang dan menjelaskan secara rinci latar belakang dan penyebab Athanasia mengurung diri di kamar.

Lucas mendengarkan dengan saksama. Setelah itu, pemuda beriris ruby menawarkan diri agar membawa makanan kepada Athanasia.

"A-Anda yakin, Tuan...?" Lilian sedikit merasa bimbang.

"Tenang saja." Lucas tersenyum tipis, "akan kupastikan Tuan Putri makan malam. Kalian sudah bisa kembali."

MELLIFLUOUS [Terbit] ✔Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang