Chapter 28

4.1K 329 125
                                        

Keesokan harinya . . .

Kisaran pukul 08.00

Semua sudah siap. Athanasia, Claude, Felix, Lilian, Seth, dan banyak prajurit serta banyaknya kereta barang yang diangkut menggunakan kuda.

Saat ini mereka semua sudah berada di dekat gerbang utama dari Istana Emerald. Felix terlihat sibuk mengurus segala keperluan, apakah ada yang tertinggal atau semacamnya.

"Brr!!!" Seth tampak menggigil. Selimut membungkus tubuhnya. Wajahnya merah dan terasa panas.

Ya, pelayan yang satu itu terkena demam. Sungguh sangat disayangkan, padahal dia mendapat akses ikut serta dalam kunjungan ke Kerajaan Kastila.

"Seth, kau yakin kami sebaiknya ikut?" tanya Lilian begitu khawatir.

Pelayan berambut ungu bernama Seth mengangguk lemah. "Pergilah. Aku tidak apa-apa. Lagipula hanya demam biasa, pasti akan cepat sembuh. Kalian tenang saja."

"Kalau begitu aku tidak ikut!" Hanna berucap keras kepala.

"Tidak, biar aku saja!" Lilian tak mau kalah.

Seth mendengus. "Tidak boleh! Kalian harus ikut, tidak mungkin kan Tuan Putri ke sana sendirian tanpa kalian? Kalian punya tugas penting menjaga Tuan Putri selama di sana. Pergilah..."

Mata Hanna berkaca-kaca.

"Maid yang lain ada di sini. Mereka pasti akan membantuku kalau aku butuh sesuatu," imbuh Seth.

Perlahan Hanna dan Lilian pun mengangguk. Mereka saling berpelukan, sesudah itu masuk ke dalam kereta kuda di belakang kereta kuda sang Raja Obelia.

Athanasia menghampiri Seth, dia sedih. "Padahal di sana ada pabrik coklat yang sangat besar, Seth. Aku ingin sekali kita berempat, bersama Lili dan Hanna makan coklat dari Kerajaan Kastila." T^T

Seth tertawa pelan. "Tuan Putri tenang saja. Kapan-kapan hal itu akan terwujud."

Sang putri Raja mengangguk sedikit murung. "Sebagai gantinya, aku akan berusaha membawa pulang coklat yang mereka produksi!"

Salah satu pelayan kesayangan gadis itu tersenyum penuh haru. "Sungguh menjadi suatu kehormatan bagi saya, Tuan Putri. Terima kasih."

Gadis itu mengangguk, lalu teringat akan suatu hal. "Ehm, Seth. Tolong jaga burung merpati pemberian Izekiel, ya!" Gadis itu nyengir kuda. "Aku belum memberinya makan pagi ini."

"Saya mengerti, Tuan Putri."

"Athanasia!"

Sang pemilik nama segera menoleh ke belakang. Lalu ia kembali menghadap depan, berpamitan dengan Seth yang mengelus pipinya lembut seraya tersenyum dan mengangguk.

Gadis berambut pirang keemasan pun menghampiri orang yang tadi memanggilnya. Ia memajukan bibir, masih sedikit tidak terima dengan kenyataan.

"Aku mau kau ikut," rengek gadis itu menarik pelan bagian jubah di dekat dada si penyihir. Menatap pemuda di depannya dengan tatapan memelas.

Pemuda itu mendengus dan berkacak pinggang. "Aku sudah memberimu berbagai instruksi, ingat?"

Athanasia mengangguk kecil.

"Coba ulang apa saja instruksi yang sudah kuberikan!"

"Pertama, kalung ini bisa menyambungkanku denganmu. Jadi kalau aku kangen, aku bisa menghubungimu melalui kalung ini. Dan jika diminta, Lucas akan hadir di tempat dalam waktu singkat!"

Si pemuda berambut hitam tersenyum geli.

"Kedua, kalau berkomunikasi menggunakan kalung bisa berbicara di dalam hati atau bersuara."

MELLIFLUOUS [Terbit] ✔Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang