Izekiel tampak berlari kecil menghampiri putri kebanggaan Obelia. Wajahnya terlihat bersemangat, apalagi ketika si putri Raja mengenali suaranya dan merespon panggilannya.
Detak jantungnya berirama tidak wajar saat Athanasia berekspresi ceria ke arahnya.
Sewaktu ia hendak sampai di hadapan gadis berambut kuning keemasan itu, Lucas sudah kembali ke daratan dan menatapnya tajam.
Hoho, tentu saja Izekiel tidak memedulikan hal yang menurutnya tidak penting itu.
"Selamat pagi, Tuan Putri," sapa pemuda bersurai silver seraya membungkuk hormat memberi salam, tak lupa tersenyum.
"Semoga kesejahteraan Obelia selalu menyertai Anda."
Athanasia tertawa pelan, mengangguk ramah. "Selamat pagi juga."
"Untuk apa Anda ke mari?"
Pertanyaan si penyihir-lah yang membuka topik pembicaraan di antara mereka bertiga. Lucas terang-terangan memasang wajah tidak suka, ia semakin menunjukkan hal itu ketika Athanasia dan Izekiel menoleh ke arahnya.
Sudah pasti Izekiel jengkel mendengar nada mencemooh itu, tapi ia masih bisa bersabar.
"Kau tidak perlu tahu alasannya," jawab Izekiel dengan senyum yang menyebalkan.
Lucas semakin tidak suka. Ia melipat tangan di dada seraya memalingkan muka.
"Oh, iya." Athanasia bersuara, Izekiel menoleh ke arahnya. "Ngomong-ngomong, selamat ulang tahun, Izekiel. Maaf telat, aku juga dapat kabar kalau pada saat hari ulang tahunmu kau mendapat tugas di Kerajaan Godzilla."
Izekiel tersenyum lembut, sangat bersyukur karena sang pujaan hati mengingat hari terpenting dalam hidupnya itu. "Terima kasih, Tuan Putri. Saya begitu tersanjung karena Anda mengingat hari ulang tahun saya."
Athanasia mengibas-ibaskan tangan. "Sudah kubilang jangan bicara formal begitu. Santai saja, haha."
Mereka sibuk berbincang, Lucas kini murni hanya sebagai kacang. Penyihir itu semakin kesal. Pasalnya beberapa saat yang lalu gadis itu membujuknya agar mengajarinya sihir, tapi belum sampai lima belas menit ia seolah lupa akan kegiatan mereka yang 'seharusnya' masih berlangsung.
Lihatlah mereka berdua! Bercanda tawa bersama seolah menganggap Lucas tidak ada!
Sang penyihir menggertakkan gigi. Ingin sekali rasanya menghilangkan Izekiel dari muka Bumi ini!
"Aku dengar kau akan tinggal di Kerajaan Godzilla selama beberapa bulan?"
"Benar, Tuan Putri. Tapi lebih tepatnya akan tinggal sementara di beberapa kerajaan sekitar Obelia. Aku mau mencari pengalaman sebelum resmi dilantik sebagai Duke Baru mewakili Keluarga Bangsawan Alphaeus."
"Wah!? Itu keren sekali! Berapa lama kau akan merantau?"
"Tiga sampai lima bulan, Tuan Putri."
"Oh, pasti sibuk sekali. Kau benar-benar hebat!!!"
Cukup lama mereka bercakap-cakap, Lucas mulai muak.
"Athanasia."
Sang pemilik nama acuh tak acuh, membelakangi Lucas, berhadapan dengan Izekiel. Perempatan kecil tercetak jelas di kepala pemuda beriris merah darah.
"Athanasia!"
Bukannya Athanasia yang menoleh, malah Izekiel yang menengok ke arahnya. Memasang senyum mengejek, mengolok Lucas dalam diam.
Lucas semakin terpancing kemarahannya. Pria bau kencur ini mengajak perang, huh?!
"Athi!!!"
"Apa sih?" Kini Athanasia menoleh, kedua alisnya saling menyahut, memandang penyihir itu dengan tatapan jengkel.
KAMU SEDANG MEMBACA
MELLIFLUOUS [Terbit] ✔
Fanfiction[SUDAH DITERBITKAN. FANFICTION of Suddenly, I Became A Princess] Highest ranks: #1 claude [23 Mei 2020] #1 lucasxathy [29 Mei 2020] #1 athyxlucas [29 Mei 2020] #1 athanasia [29 Mei 2020] #1 athy [29 Mei 2020] #1 suddenlyibecameaprincess [29 Mei 2020...
![MELLIFLUOUS [Terbit] ✔](https://img.wattpad.com/cover/215300298-64-k432806.jpg)