Hi, guys.
Sebelum lanjut aku cuma mau bilang, belakangan ini aku mulai gak mood buat ngelanjutin ceritanya :(
Padahal konsepnya udah kubuat sampe tamat lo wkwkw
So, tetap doakan aku ya biar bisa ngelanjutin cerita ini sampai tamat hehe^^
Oh, iya! Dan buat readers kelas 12, semangatttt buat menjalani ujian" di sekolah^^
Kita pasti bisaaaaa!!!
Uyeyyy <3
Okey, here we go~
***
"Tuan Putri!!!"
Izekiel tersenyum lega. Hatinya begitu berbunga melihat Athanasia sudah sehat, bisa tersenyum cantik seperti biasa. Saat ini Athanasia kedatangan 'tamu' yang ingin menjenguknya.
Mula-mula pelayan-pelayan yang mengabdi di Istana Emerald. Kemudian Claude yang datang hanya sebentar (Athanasia terang-terangan sedang tidak ingin menemui sang Ayah), lalu Lili, Felix dan Izekiel yang datang bersamaan.
Dan seperti biasa, Lucas tak pernah absen berada di dekat gadis itu.
Mereka sibuk membahas banyak hal, terutama saat Athanasia tidak sadarkan diri. Gadis itu hanya bisa menggaruk pipi sambil tertawa garing.
"Kalian tidak perlu khawatir seperti itu. Selama ada Lucas, semua pasti akan baik-baik saja," ujar sekaligus goda sang putri Raja terhadap sang penyihir muda Kerajaan Obelia.
Lucas memutar bola matanya bosan seraya menggembungkan pipi. Izekiel hanya bisa tersenyum sedikit paksa sedangkan Lilian dan Felix tertawa kecil.
"Baiklah, saya rasa Tuan Putri Athanasia masih butuh banyak istirahat. Terlebih, empat hari lagi Tuan Putri akan menghadiri acara yang begitu penting baginya," ucap Lilian dengan lembut. "Lagipula, langit sudah semakin larut. Lebih baik kalau kita sudahi dulu menjenguk Tuan Putri. Bagaimana?"
Felix mengangguk setuju. Izekiel diam, tampak ragu.
"Baiklah kalau begitu." Felix pun pamit. "Kami izin dulu, Tuan Putri. Semoga Anda lekas sembuh."
Athanasia tersenyum lebar. "Ya, terima kasih, Felix, Lili."
Felix dan Lilian pun pergi meninggalkan Athanasia bersama Lucas dan Izekiel. Gadis itu terlihat bingung sebab Izekiel belum mau beranjak dari tempatnya. Lucas menggerutu melihatnya.
"Hei, kenapa Anda tidak turut bersama mereka?" tanya Lucas sinis tanpa memandang wajah tampan pemuda berambut keperakan tersebut.
Izekiel menatapnya kesal. "Kau tidak berhak mengusirku."
"Saya tidak bermaksud mengusir Anda, Tuan Muda Alphaeus," balas sang penyihir penuh penekanan.
Athanasia menatap malas ke arah mereka berdua. "Mulai lagi, deh," batin gadis itu jengkel.
Mereka saling memalingkan muka.
Satu-satunya perempuan di kamar tersebut pun menghela napas kasar. "Daripada kalian berdua bertengkar di ruanganku, lebih baik kalian pergi dari kamarku. Mengerti?"
Lucas dan Izekiel memilih bungkam. Melihat mereka yang kemungkinan tidak berisik lagi, Athanasia pun memutuskan untuk tidur. Lucas meliriknya, kemudian beralih ke arah Izekiel.
"Pulanglah. Tuan Putri ingin tidur. Anda hanya akan menganggunya kalau Anda masih ada di sini. Jadi lebih baik Anda pergi dari ruangan ini," kata sang penyihir dengan seringai menyebalkannya itu.
Izekiel tersenyum jengkel. Kali ini dia benar-benar mengusirku, pikir pemuda berusia sembilan belas tahun itu. Pandangannya beralih pada sang putri Raja yang tersenyum lembut ke arahnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
MELLIFLUOUS [Terbit] ✔
Fanfiction[SUDAH DITERBITKAN. FANFICTION of Suddenly, I Became A Princess] Highest ranks: #1 claude [23 Mei 2020] #1 lucasxathy [29 Mei 2020] #1 athyxlucas [29 Mei 2020] #1 athanasia [29 Mei 2020] #1 athy [29 Mei 2020] #1 suddenlyibecameaprincess [29 Mei 2020...
![MELLIFLUOUS [Terbit] ✔](https://img.wattpad.com/cover/215300298-64-k432806.jpg)