Izekiel segera beranjak dari Ballroom. Rasa sesak di dadanya tak terkontrol lagi, ia menjauh dari keramaian.
Langkahnya terhenti saat sampai di luar Istana Amethyst, tempat berlangsungnya acara ulang tahun si pujaan hati.
Pemuda berusia sembilan belas tahun itu sendirian di luar; semua orang berada di dalam. Tangan yang sedari tadi terkepal pun meninju kuat tiang tinggi berwarna putih di depannya.
Ia menggertakkan gigi, amarahnya meluap-luap. Deru napasnya terburu-buru. Otaknya tak dapat berpikir jernih untuk saat ini.
"Wah, wah, wah~ sepertinya ada yang sedang patah hati, nih~"
Izekiel terkejut, refleks pemuda itu menoleh ke sumber suara.
Seorang pria bertubuh tinggi dengan warna rambut hitam legam, tersenyum manis namun beraura bengis datang menghampirinya.
Ia datang membawa dua gelas berisi minuman anggur yang menyegarkan. Izekiel hanya menatap pria itu penuh tanya. Pria itu menyodorkan salah satu gelas kepadanya. Dengan ragu Izekiel menerima gelas tersebut.
"Anda... sedang apa Anda di luar?" Dari sekian banyak pertanyaan, cuma itu yang keluar dari mulut pemuda bersurai silver.
Pria di dekatnya pun mendengus geli. "Kau sendiri? Sedang apa di sini?"
Izekiel tak dapat menjawab. Ia mengalihkan arah pandangnya, menatap sembarang arah sedikit sendu.
"Kau punya perasaan dengan Tuan Putri Athanasia, bukan?"
DEG!
Izekiel terperanjat, langsung menoleh lagi dengan tatapan membelalak. Pria itu tertawa pelan dan mengibaskan tangan, "Hei, tidak perlu shock begitu. Aku juga pernah menjalani masa muda sepertimu saat ini. Hal seperti itu memang tak dapat terelakkan, wahai anak muda."
Uh, Izekiel mengeluh dalam hati.
"Sudah jatuh cinta padanya sejak kapan?" Pria itu kembali bertanya.
"...sejak kecil," jawab pemuda beriris keemasan seadanya.
"Begitu, ya~"
Keheningan mulai mengelilingi mereka. Namun sebelum itu terjadi, pria itu bersuara.
"Saat aku di usiamu sekarang, aku juga mengalami yang namanya cinta bertepuk sebelah tangan."
Izekiel kembali mengarahkan mata padanya. Pria itu memandang sembarang arah, seolah menerawang masa lalu.
"Kemudian aku dibantu oleh seorang pria yang tak terlalu kukenal. Beliau membantuku mendapatkan gadis yang kuincar, dan juga..."
Pria itu menjeda kalimatnya, Izekiel jadi merasa gemas dengan kelanjutannya. Iris hitam gelap itu menatap mata keemasan milik anak Roger Alphaeus tersebut. Senyumnya kembali tampil.
"Dan juga apa?"
"...dan juga... dia membantuku menyingkirkan pria lain yang ada di sekitar perempuan yang kucintai."
Untuk yang kedua kalinya Izekiel membelalakkan mata. Pria berpakaian serba hitam itu menatap Izekiel serius namun tetap menebarkan senyuman.
"Aku bermaksud untuk melakukan hal itu dan membantumu mendapatkan Tuan Putri..."
Degupan jantung Izekiel menjadi tak beraturan saat mendengar kata-kata selanjutnya.
"...apa kau mau aku menyingkirkan penyihir itu dari sisi Tuan Putri?"
♪ ♪ ♪
Setelah Athanasia dan Lucas selesai menari, kini giliran remaja-remaja seusia Athanasia-lah yang menampilkan tarian mereka dengan partner masing-masing.
KAMU SEDANG MEMBACA
MELLIFLUOUS [Terbit] ✔
Fanfiction[SUDAH DITERBITKAN. FANFICTION of Suddenly, I Became A Princess] Highest ranks: #1 claude [23 Mei 2020] #1 lucasxathy [29 Mei 2020] #1 athyxlucas [29 Mei 2020] #1 athanasia [29 Mei 2020] #1 athy [29 Mei 2020] #1 suddenlyibecameaprincess [29 Mei 2020...
![MELLIFLUOUS [Terbit] ✔](https://img.wattpad.com/cover/215300298-64-k432806.jpg)