"Apa kau sudah memutuskan siapa pasanganmu saat dansa nanti?"
Pertanyaan Claude membuat tangan Athanasia yang sibuk memotong daging pun terhenti. Ia berjengit kaget. Astaga! Dia sama sekali belum memikirkan hal itu!!!
"Eum... be-belum, Papa," jawab Athanasia sepelan mungkin. Ia menatap ayahnya takut-takut.
Meski Claude terkejut, tapi ia tetap bisa menjaga ekspresi. "Belum? Kenapa? Tiga hari lagi acara akan dimulai. Itu acaramu, kau harus memikirkannya dengan serius."
Athanasia tertegun. Perkataan Claude ada benarnya juga.
Tapi, siapa yang akan menjadi pasangannya saat dansa nanti?
"Bagaimana kalau Athi berdansa dengan Papa saja?" tawar gadis itu semangat 45. "Seperti pada saat Debutante tiga tahun lalu."
"Kau yakin?" Claude menyantap makanannya. "Boleh saja. Tapi apa kau tidak punya seseorang yang kau sukai?"
"Hehh??" Athanasia mengerjap bingung. "Athi rasa tidak. Untuk apa Athi menyukai orang lain? Athi hanya menyukai Papa, dan sampai kapanpun akan tetap seperti itu."
Claude diam-diam tersipu malu karena ulah anaknya sendiri. Namun secepat kilat ia menyembunyikan ekspresinya. "Kau pintar ya mengatakan hal-hal yang memalukan."
Athanasia cuma cengar-cengir. Mereka kembali melahap makanan. Lalu gadis itu meraih tisu dan mengusap bibir dengan anggun.
"Tapi, Papa, memangnya aku boleh berdansa dengan pria lain selain Papa?"
"Tentu saja boleh. Kapan aku melarangnya?"
"Tapi kenapa saat berdansa dengan Izekiel, kau terlihat murka?!" batin gadis itu menahan kesal, perempatan kecil muncul di kepalanya.
"Kalau begitu aku boleh dong berdansa dengan Izekiel?" usul Athanasia penuh harap.
Claude seketika memasang wajah jutek. "Kalau dengan bocah sial itu aku tidak menyetujuinya."
Athanasia mengendur kecewa. "Yahh, kok Papa terkesan pilih kasih sih? Izekiel serasa didiskriminasi, tahu."
"Berani sekali kau membela pria lain di depan Papamu sendiri."
Sejujurnya Claude berkata seperti itu tanpa ada maksud menyindir ataupun kesal yang berlebihan. Namun Athanasia malah mengartikan hal itu sebagai peringatan yang mengerikan.
"Mampus aku! Oh, Athanasia. Mulutmu ini benar-benar minta disumpal! Lebih baik aku diam daripada nyawaku melayang." T^T
"Aa..." Gadis itu gelagapan. "Eheheh... Ampun Papa..." T^T
Athanasia makan dalam diam. Namun Claude seakan belum puas jika belum mendapat jawaban pasti.
"Lalu siapa pasanganmu nanti?"
"Aduh, kenapa masih dibahas sih!?"
Raja tersebut menanti jawaban. Sang putri hanya bisa menggaruk pipinya bingung, cengengesan kehabisan kata-kata.
"Umm... beri Athi waktu sampai besok. Kalau besok Athi juga belum mendapat jawaban, Athi hanya akan menari dengan Papa saja."
Claude menyeruput teh. "Hn. Baik."
♪ ♪ ♪
"Huwaaaaaaa ... !!! Bagaimana ini?!"
Sekarang Athanasia sedang berada di ruang belajarnya. Sejak lima belas menit yang lalu gadis itu terus saja berteriak histeris karena tidak tahu akan berdansa dengan siapa di acara nanti.
KAMU SEDANG MEMBACA
MELLIFLUOUS [Terbit] ✔
Fanfic[SUDAH DITERBITKAN. FANFICTION of Suddenly, I Became A Princess] Highest ranks: #1 claude [23 Mei 2020] #1 lucasxathy [29 Mei 2020] #1 athyxlucas [29 Mei 2020] #1 athanasia [29 Mei 2020] #1 athy [29 Mei 2020] #1 suddenlyibecameaprincess [29 Mei 2020...
![MELLIFLUOUS [Terbit] ✔](https://img.wattpad.com/cover/215300298-64-k432806.jpg)