Aloha..maap Nez telat up. Ini aja curi2 waktu buat kalian. Btw kalo Nez telat lagi up nya, tagih aja ya. Mulai chappter ini, bisa baca sambil putar musik "How i can love the heartbeat-akmu"
Itu ost story ini
Cekidot joh
Happy reading
Abaikan typoHari ini, Donghyuk memutuskan untuk keluar dari rumahnya. Ia merasa suntuk berada dirumahnya tanpa seorangpun yang bisa menemaninya. Bukan berarti tak ada maid yang bisa ia ajak berbicara ataupun teman yang bisa ia ajak untuk bertemu, tapi Donghyuk merasa semuanya seakan merasa bersalah padanya.
Mungkinkah mereka semua memang telah mengetahui tentang Bobby nya yang buruk jauh sebelum kehadiran Donghyuk? Lalu kenapa mereka diam saja dan membiarkan hati tak bersalah ini tersakiti?.
Saat ini, Donghyuk tengah duduk disebuah kursi panjang yang terdapat di pinggiran jalan yang sepi. Tak ada seorang pun yang melintasi jalan ini. Ini memang jalan kecil dan kemungkinan hanya pejalan kaki yang melewatinya.
Tanpa disadari, setetes cairan kristal jatuh menetes dari dagunya. Tak lama dari itu, kawanan airmatanya menyusul dengan lancar hingga membasahi pipinya yang mulus.
Isakan yang bergetar mulai keluar dari mulut mungilnya. Matanya memandangi apa saja disekitarnya, mencoba untuk mengalihkan kesedihannya. Namun, semua itu tak akan mampu menghentikan tangisan yang kini tak bisa lagi ia bendung.
Ia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya sendiri. Sikutnya ia tumpukan pada kedua pahanya. Mencoba meredam isakannya yang semakin membesar. Mungkin saja akan menjadi sebuah teriakan jika terlalu lama dibiarkan.
Tubuhnya bergetar hebat mengingat kejadian yang ia alami beberapa waktu ini. Semuanya terlihat berbeda dari sebelum dia bertemu dengan namja yang mengaku sangat mencintainya itu. Apa Donghyuk menyesal? Entahlah, yang ia rasakan hanya sakit dan perih dihatinya.
Apa ini dapat dihitung sebagai tambahan bahwa untuk yang kesekian kalinya, Donghyuk dipermainkan dalam kata cinta? Apa dia tidak pantas mendapatkan cintanya? Apa memang ini adalah catatan takdirnya? Apa ini adalah sebuah jawaban dari akhir semuanya?.
Semua pertanyaan itu hanya bagaikan mobil yang berhenti didepan lampu merah, yang akan pergi setelah lampu hijau menyala. Sama halnya seperti semua pertanyaan itu yang terus berputar dikepalanya tanpa menghilangkan diri, seakan semua itu menunggu jawaban, baru mereka akan menghilang dari kepalanya. Tapi bagaimana cara Donghyuk menemukan rumus untuk menjawab semua pertanyaan itu? Dia sendiri bahkan tak pernah dapat mempelajari satupun materi yang terkait.
"Aku kehilangannya hiks..hiks..hhhiks..aku kehilangan mereka hhhiks..semuanya hiks..uhuk..hiks..tenggorokanku sakit, hiks..Eomma hiks..Kapan kau akan menjemputku? Hiks..hhiks..Eomma..hiks..uhukk..hiks..hikss..Appo..hiks..lebih nyaman tidak melihat daripada melihat suamiku sendiri semakin menjauhiku hiks..uhuk..appo hiks..hhiks.."
Ia menangis tersedu-sedu. Tak jarang tangisannya membuat tenggorokannya terasa sakit. Tangisan itu benar-benar mencekik tenggorokannya.

KAMU SEDANG MEMBACA
MY STORY (✔✔)
Fanfiction[COMPLITED] Semua tentang dirinya yang menjalani masa-masa sulit. Melihat dunia adalah impiannya selama bertahun-tahun. Banyak yang menghina tentang kondisinya yang tidak sempurna dimata orang. Semua kebahagiaannya seakan memiliki riwayat tersendiri...