6 || Miranda

6K 323 0
                                        

Bersabar lah, tangis mu hari ini mungkin bekal untuk bahagiamu hari esok

***

Langit di atas sana masih berwarna hitam gelap, jam di dinding pun masih menunjukan pukul 03:12 wib dan itu artinya masih sangat pagi sekali untuk kita melakukan kegiatan atau hal lainnya seperti menyiram tanaman.

Gadis berpiyama coklat dengan motif beruang itu masih menutup matanya dan bergulat dengan selimut tebal miliknya. Bermain di alam mimpi membuatnya lupa jika dunia nyata masih menunggu kehadirannya.

Semalam, Lita tidur pukul satu karena harus mengerjakan rangkuman sejarah yang dirinya sempat lupakan. Kegiatan itu membuat dirinya tertidur pukul satu dengan keadaan tubuh yang ingin remuk.

🥀

Miranda masuk kekamar putrinya dengan langkah biasa. Kakinya mulai mendekati ranjang yang dimana hanya ada Alita di atas sana tengah tertidur dengan posisi terlentang.

Miranda memperhatikan setiap sudut kamar ini dengan teliti. Tidak ada yang berubah, kecuali tumpukan buku tebal yang ada di atas meja belajar.

Miranda memperhatikan wajah tenang milik putrinya dengan senyum miring. Tangannya mengambil gelas yang ada di atas nakas, di perhatikannya sebentar, "Sepertinya ini terlalu sedikit."

Gelas itu kembali di taruh di atas nakas dan ia berjalan kearah kamar mandi berada untuk mengambil ember kecil yang ada di sana dan mengisinya dengan air. Setelah menimang gelas tadi ia merasa jika air yang tersedia tidak cukup untuk apa yang akan ia lakukan nanti.

Di bawanya ember itu kedalam kamar dan di letakan di samping tempat tidur Alita. Miranda kembali memperhatikan wajah Alita yang sangat-sangat-sangat tenang jika sedang terlelap, berbeda sekali saat gadis ini membuka matanya ia akan menjadi wanita dingin yang menyebalkan.

Miranda kembali mengambil ember yang sebelumnya ia letakan di lantai, menatap sekali lagi wajah putrinya dan dengan gerakan yang cepat ia menuangkan air di ember tersebut tepat di wajah Alita tanpa rasa kasihan.

Alita bangun dengan keterkejutan yang luar biasa, nafasnya tersenggal, mata nya mengerjib. Kedua tangannya mengusap wajahnya dengan kasar matanya melihat ke samping dan betapa terkejutnya ia saat melihat Miranda ada di kamarnya dengan ember kecil di tangan kanannya.

"Bangun. Kerjaan kamu tuh tidur, makan, maen itu aja terus. Sekali-kali bangun pagi siramin tanaman. Anak gadis kok males!"

Alita diam, ia masih terkejut dengan tindakan yang menimpanya. Kepalanya langsung terasa sakit dan di tambah dengan pasokan udara yang terasa sangat sempit. Miranda pintar memilih waktu untuk berperang. Hingga dirinya saja tidak siap dan kewalahan menerima serangan mendadak dari Miranda.

Akhirnya Alita menatap Miranda dengan seutuhnya. Matanya benar-benar menunjukan betapa kagetnya ia ketika mendapati semua ini, "Ada apa?" tanyanya dengan lirih.

Miranda berdecih dan membuant wajah. Sedetik kemudian ia kembali menatap Alita dengan datar, "Tidak tau diri."

Tanpa beban Miranda melempar ember kecil yang sedari tadi di tangannya ke arah Lita dan tepat sekali mengenai bagian dada Alita. Alita meringis menerima itu, ia memengagi dadanya yang terasa sedikit sesak.

Air matanya mengalir begitu saja saat melihat maminya keluar kamar dengan membanting pintu, "Tolong aku Tuhan."

🥀

ARLITA [Selesai] (Terbit) Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang