let me go to come back
***
Makan malam kali ini terasa lebih nyata dan berwarna. Malam ini berbeda dari malam-malam sebelumnya. Keluarganya utuh, benar-benar utuh karena ada Alita di tengah-tengah mereka.
Haikal dan Devan berhasil membawa Alita kembali kerumah besar ini walau dengan cara paksaan dan sedikit berbau sinetron.
Jam istirahat tadi Haikal dan Devan sepakat untuk mengajak Alita pulang kerumah atas permintaan Teddy. Tapi Alita menolak dengan tegas dan malah pergi menjauhi keduanya. Mereka tidak mau menyerah, akhirnya terciptalah ide yang mana terinspirasi dari sinetron yang Haikal tonton tempo lalu. Pulang sekolah tepatnya di halte depan sekolah saat Alita sedang berdiri menunggu angkutan tiba-tiba Haikal datang dan membekap mulut Alita lalu di bawa masuk kedalam mobil yang di kendarai oleh Devan. Cara ini memang kasar, tapi ini adalah jalan satu-satunya.
Tidak berhenti sampai di situ,
Setibanya di rumah Alita benar-benar ogah turun. Gadis itu duduk anteng di kursi memainkan ponselnya. Segala cara sudah di lakukan oleh kakak beradik itu tapi tidak membuahkan hasil. Hingga sampai pukul tujuh, Alita baru mau turun mobil dengan embel-embel ini adalah yang terakhir. Itu adalah kalimat yang di keluarkan Haikal dengan terpaksa.
Sampai di dalam Alita di sambut dengan senyum sepasang suami istri itu. Tapi ada yang berbeda dengan senyum Miranda, Miranda masih menampilkan wajah ketidak sukaannya pada Alita dan Alita sadar itu.
"Lita sehat, Nak?" Lita menatap Teddy yang ada di sebelahnya. Senyum miring muncul dibibir Alita. Pertanyaan Teddy membuat Alita terkekeh remeh, memangnya kalo dirinya pergi dari rumah ini akan kenapa? Terkulai lemas tidak bedaya, Gitu?
Sayangnya tidak.
"Sehat dan selalu sehat tanpa tekanan dan juga air mata." ucapan spontan yang di keluarkan dari mulut Alita mengundang tatapan tajam dari Miranda. Miranda yang duduk di samping kanan Teddy langsung menatap nyalang Alita yang juga sedang menatapnya.
"Jaga bicaramu dengan suami saya!" Tegas Miranda. Alita menampilkan wajah terkejutnya namun tidak lama senyum sinis itu terbit.
Gadis itu menundukan kepalanya di hadapan Teddy. Dengan posisi dirinya di sebelah kiri Teddy membuat Alita bisa lebih leluasa memandang Teddy dan juga Miranda yang ada di hadapannya, "Maafkan saya tuan Teddy, saya lancang."
Raut wajah Teddy seketika berubah. Tidak ada lagi senyum di bibirnya. Ia merasa jika Alita memang sudah benar-benar benci pada keluarganya sendiri dan menganggap mereka orang luar. Penekanan kata di setiap kalimat yang di keluarkan mulut Alita terasa begitu memilukan.
"Ga perlu begitu, Nak." jedanya "Hm ... Papi minta maaf untuk yang kemarin, ya."
Lita tidak menjawab ia hanya menunjukan senyum simpulnya yang aneh. Diam-diam Lita mengeluarkan ponselnya dan mengetik pesan pada Jonathan untuk menjemputnya. Ia sudah tidak tahan, rasanya ia ingin menangis detik ini juga karena semua kejadian pahit yang menimpanya terngiang dalam otak bagai komedi putar yang tidak akan pernah berhenti. Begitu sakit jika di ingat.
Lita reflek menghindar saat tangan Teddy berada di pundaknya. Ia menepisnya begitu saja tanpa sopan. Senyum Teddy kembali lenyap detik itu juga, ia merasa kembali di tampar oleh kenyataan pahit yang sampai sekarang belum bisa ia damaikan dengan hati. Jauh di lubuk hatinya Teddy benar-benar merasa bersalah karena telah mengusir Alita. Semua terjadi begitu saja tanpa Teddy sadari. Awalnya memang hanya menggretak, tapi semakin lama emosinya semakin menaik hingga sampai pada titik puncak.
Haikal dan Devan hanya bisa diam melihat usaha papinya yang terus berusaha membujuk Alita. Mereka tidak bisa berbuat apapun selain diam dan menyaksikan.
"Tinggal sama kita lagi ya Lit, Papi janji akan lebih baik lagi." ucap Taddy tulus.
Lita menggeleng, "Maaf saya ga bisa. Saya udah tenang hidup tanpa kalian setidaknya rasa sakit saya sedikit berkurang tanpa adanya kalian." Lita menjawab. Ia menatap penuh kerinduan orang yang sedang ia ajak bicara saat ini. Papinya.
Miranda berdecih mendengar jawaban Alita, "Gaya kamu tua, nanti giliran udah sakit terus mati, gimana?" pedas. Sungguh pedas. Menancap.
Devan, Haikal dan Teddy melotot mendengar ucapan Miranda barusan. Ini bukan membuat Alita mendekat malah membuatnya semakin menjauh.
Dasar bodoh.
"Sekali pun saya sakit dan sehabis itu saya mati. Saya ga akan ngerepotin kalian buat minta kalian stay di samping tubuh saya yang udah kaku tanpa nafas. Biarin aja jasad itu mengapung di sungai atau berceceran dijalan raya. Kalian gausah sibuk ikut ulur tangan, masih banyak polisi dan pihak rumah sakit yang mau urus saya," Lita menjedah, ia menatap Miranda yang juga sedang menatapnya dengan pandangan aneh.
"Mending kalian ke mall shoping atau ke club buat ngerayain kematian saya." lanjutnya dan tersenyum pada Miranda.
Senyum yang di tunjukan Lita membuat Miranda mati gaya. Ia merasa dirinya lah yang sedang di pojokan. Miranda menatap suami serta kedua putranya yang juga sedang melihatnya dengan sorot tanya yang terpancar jelas.
Lita meminum segelas air putih yang ada di atas meja, menegaknya hingga tandas untuk menyamarkan rasa takut dalam hatinya. Gadis itu kembali menatap satu persatu orang yang ada di meja makan dengan senyum yang tidak pernah padam.
"Saya kesini karena di paksa oleh dua anak kalian. Saya bukan tidak ingin berkunjung ke sini hanya saja saya merasa tidak enak jika harus berkunjung ke rumah yang bahkan pemilik rumahnya saja susah mengusir saya-
Teddy menunduk mendengar ucapan Alita.
"Karena saya sudah di sini, sekalian saya mau bilang sama kalian kalo seandainya kalian dapat kabar saya hilang, sakit atau mati. Kalian ga perlu repot-repot cari saya, cukup kirimkan Alfatiha saja sudah lebih dari cukup."
Teddy menatap senduh Alita, "Kamu ngomong apa sih, Lit?" Lita tersenyum tanpa menjawab. Lita mengambil tasnya yang di sampirkan di punggung kursi, "Saya permisi, assalamualaikum"
Lita pamit tanpa mencium tangan kedua orang tuanya, entah lah hatinya hacur saat mendapati respons Miranda yang masih sama dari sebelumnya. Ia keluar rumah besar ini dan langsung masuk kedalam mobil putih yang sudah terparkir di depan gerbang rumah besar ini.
Lita masuk dan langsung memeluk Kirana yang duduk di kursi belakang bersamanya. Ia menangis menumpahkan semuanya yang ia rasakan hari ini, mulai dari Arka yang berubah sampai orang tuanya.
"Tante ... hiks." ucapnya dalam pelukan Kirana. Kirana hanya bisa membalas pelukan keponakannya dengan cara mengusap pungung Lita. Ia tidak bisa melakukan apapun selain menenangkan.
Jonathan yang berada di kursi pengemudi menghantam keras stir mobil yang sedang ia pengang. Rasanya ia ingin sekali datang kerumah itu dan menumpahkan semuanya kepada kakak serta kakak iparnya.
"Keterlaluan!"
🥀
Part di hapus demi kepentingan penerbitan.
KAMU SEDANG MEMBACA
ARLITA [Selesai] (Terbit)
Teen FictionSeries # 1 MauNinda Series #1 *** Keasingan dan ketertekanan menjadi awal dari kisah ini. Cerita ini di buat untuk mengigatkan jika sesuatu di dunia ini tidak selalu manis dan berjalan dengan lurus. Ada hal yang harus di korbankan. Ada rasa yang ha...
![ARLITA [Selesai] (Terbit)](https://img.wattpad.com/cover/213500625-64-k777721.jpg)