Katanya yang pergi tidak akan pernah kembali. Sekalinya kembali pun ia tidak akan menetap. Apa benar?
***
"Ra, dengerin dulu, Ra."
Sejak tadi kedua lelaki itu terus membujuk Ara supaya mau berbicara dengannya. Tapi semua tidak terlaksana lantaran Ara yang hanya diam duduk di atas tanah lapangan yang legang.
Gadis itu duduk dengan kedua tangan melingkar pada lututnya yang ditekuk. Ia menatap tribun dengan pandangan kosong. Hatinya hancur. Perjuangannya selama ini ternyata sia-sia, tidak membuahkan hasil sama sekali.
"Ra," Rio terus membujuk Ara agar mau mendengarkan setiap perkataannya. Bagaimana pun ini juga salahnya, tidak, seluruhnya salahnya. Ia yang memulai dan sekaranglah waktunya untuk mengakhirinya.
Helmi menghembuskan nafasnya panjang. Lelah melihat Ara dengan segala kekerasan yang di miliki oleh gadis itu. Sebenarnya sejak dalam kelas tadi Helmi sudah menahan diri agar tidak meninggalkan Rio. Jika saja dirinya tidak mengingat Rio adalah temannya detik itu juga Helmi akan pergi meninggalkan Rio dan memilih duduk di kantin.
"Ayo lah, Ra. Lo ga bisa kaya gini terus." Helmi bersuara. Ia duduk tiga langkah di depan Ara memandang Rio yang terus berusaha.
Ara menatap Helmi tidak suka, "Apa?" terdengar ambigu memang. Kata 'apa' yang keluar dari bibir Ara membuat Rio terheran. Mau di tunjukan kemana?
"Dengerin gue ngomong dulu, Ra."
Ara menoleh pada Rio yang tadi berbicara, "Apa?"
Senyum Rio terukir jelas, ia senang karena pada akhirnya Ara mau mendengarkannya.
"Gue mau jelas-
"Apa? Apa yang mau lo jelasin ke gue! Tentang apa? Tentang lo yang makan bekel gue dan lo bagi sama Helmi. Apa tentang hubungan Arka dan Alita yang lo simpen dengan rapih? Iya! Itu kan yang mau lo jelasin, basi!" emosi Ara meletup-letup, ia bahkan sampai tersengal-sengal saat berbicara.
Rio memandang Ara senduh. Gadis itu tidak tau alasan di balik semua yang sudah terjadi. Banyak rasa dan kesakitan yang Rio korbankan setiap kali menerima bekal itu, tapi apa Ara tau tentang ini? Sepertinya tidak.
"Gue suka sama lo, Ra. Makanya gue lakuin ini karena gue ga mau lihat lo sakit hati kalo tau kebenaran itu terungkap."
Ketiganya diam. Rio dan Ara saling pandang dan berakhir Ara lah yang menyudahi aksi itu. Helmi menghalau keadaan dengan cara berpura-pura tidak mendengar pembicaraan mereka.
"Jadi bener, Arka sama Lita punya hubungan?" ia bertanya tanpa menatap lawannya.
"Jawab!" Ara menghempas tangan Rio begitu saja. Kekecewaannya sudah berganti menjadi kemarahan yang luar biasa. Kadang jika sudah dalam keadaan seperti ini tidak ada yang bisa di lakukan selain mencari taunya sendiri.
"Iya, tap-
"Pergi." mata Rio sepenuhnya ada di Ara, gadis yang baru saja mengusirnya. Tidak ada lagi yang bisa di jelaskan disini. Tidak ada lagi harapan untuk ia bisa melihat senyum itu. Tidak ada lagi waktu untuk berhalusinasi mendapatkan Ara. Tidak, tidak ada lagi.
Rio berdiri dari duduknya, menatap Ara yang masih memandang tribun di depannya dengan kosong. Tanpa kata Rio pergi keluar lapangan indor sekolah dengan hati yang lebur.
Helmi memandang pintu yang baru saja menghantarkan Rio keluar dan Ara yang masih di depannya secara bergatian. Gadis di depannya ini langsung menundukan kepalanya setelah melihat pintu tertutup.
"Ra, lo salah bersikap kaya gitu sama Rio."
Ara menonggakan kepala kembali melihat Helmi yang rupanya masih ada di depannya. Ara tidak bersuara, ia masih diam dengan air mata yang mengalir bebas di pipinya.
"Rio suka sama lo dan itu nyata."
"Tapi gue ga suka dia, Mi." jawab Ara lirih. Helmi mengangguk paham. Ia mengerti dengan semua ini. Bahwasanya cinta memang tidak bisa di paksaan. Dengan siapa nantinya ia berlabuh itu urusan Tuhan.
"Gue tau, Ra. Tapi apa salahnya kalo lo hargai dia dengan cara dengerin semua penjelasannya - ada jeda di ucapannya - lo ga tau perjuangan Rio buat deket sama lo itu gimana. Dia beli coklat, beli bunga dan lainnya itu tulus sebagai bentuk perhatiannya sama lo. Rio emang salah karena nitipin semuanya sama Arka dan buat lo salah paham,"
"Hampir dua tahun lamanya dia suka sama lo, Ra. Lebih tepatnya saat lo di ganggu sama Kakak kelas. Dia nolongin lo dan detik itu juga dia bilang suka sama lo yang mungkin namanya aja ga tau."
Helmi berhenti sebentar. Tangis Ara semakin menjadi. Air matanya tidak berhenti mengalir.
"Ra, Arka sama Lita emang punya hubungan. Tapi mereka ga pacaran, hanya sebatas komitmen dan sepertinya sebentar lagi akan selesai seperti yang lo mau."
"Jadi mereka bener-
"Ya. Tapi ga pacaran. Sebelum lo bertindak jauh, sebaiknya lo simak ucapan gue baik-baik - Helmi menarik nafasnya lalu di keluarkan - Lita yang lo lihat ga sejahat yang lo pikirin. Justru dia manusia lemah."
Ara menatap dalam Helmi. Apa maksud dari ucapan lelaki itu.
"Maksud lo?"
Helmi tersenyum misterius, "Gue pergi dulu."
🥀
Part dihapus demi kepentingan penerbitan.
KAMU SEDANG MEMBACA
ARLITA [Selesai] (Terbit)
Teen FictionSeries # 1 MauNinda Series #1 *** Keasingan dan ketertekanan menjadi awal dari kisah ini. Cerita ini di buat untuk mengigatkan jika sesuatu di dunia ini tidak selalu manis dan berjalan dengan lurus. Ada hal yang harus di korbankan. Ada rasa yang ha...
![ARLITA [Selesai] (Terbit)](https://img.wattpad.com/cover/213500625-64-k777721.jpg)