My pain for me, I'm happy for you
***
"Kamu kenapa diemin aku kaya gini sih, Mas?" tanya Miranda dengan nada frustasi.
Teddy yang sedang berdiri di depan cendela hanya diam dengan mata tertuju pada langit malam. Matanya memang menatap langit tapi tidak dengan fikirannya. Fikirannya sedang berkelana entah kemana mencari jalan keluar untuk semua ini.
Sementara Miranda yang duduk di kasur hanya bisa menghela nafasnya. Sifat Teddy berubah beberapa hari ini terhitung sejak kepergian Alita.
Suaminya jadi banyak diam terutama dengan dirinya. Jika di kamar pun mereka hanya sibuk dengan kegiatan masing-masing.
Teddy yang kadang menyibukan diri dengan laptop miliknya, mengerjakan apa saja yang ingin ia kerjakan. Kadang ia hanya membuka dokumen yang sudah di kerjakan lalu menutup kembali. Semua ini di lakukan Teddy hanya untuk menghindari kontak dengan Miranda. Sedangkan Miranda sibuk dengan novel kesukaannya.
Tapi malam ini Miranda tidak akan diam. Ia harus tau mengapa suaminya menjadi cuek dan terkesan masa bodo dengannya.
"Mas..."
Teddy menoleh menatap Miranda tanpa ekspresi, wajahnya datar dan matanya tajam.
"Kamu kenapa?" dengan takut Miranda bertanya.
"Seharusnya aku yang tanya begitu sama kamu Mir."
Mira tidak merespon sama sekali, ia menjadi kaku saat suaminya berbicara. Bukan kah ini yang di tunggu-tunggu, lalu mengapa menjadi seperti ini.
Teddy berjalan mendekati sang istri yang sedang duduk di atas ranjang, ia duduk di samping Miranda yang sedang menunduk menyembunyikan wajahnya.
Teddy menghela nafas kasar, matanya memperhatikan sekitar kamar, "Kenapa kamu lakuin semua itu sama putri kita?"
Teddy rasa hatinya akan hancur detik ini juga. Ia ingin sekali menampar mulutnya yang dengan sengaja memanggil Alita dengan sebutan putri kita. Panggilan itu benar-benar tidak pantas untuk di ucapkan oleh bibirnya.
Miranda masih diam. Ia sungguh takut untuk menjawab pertanyaan Teddy. Walau dalam hati ia ingin sekali menjelaskan apa yang sebenarnya ada di fikirannya.
"Kamu ambil ATM dia, kamu juga ambil kunci mobil dia. Lalu selama dua tahun ini dia hidup bagaimana Mir? bahkan gadis itu sama sekali tidak mau makan makanan di sini. Seharusnya kamu mikir Mir, kamu terlalu egois!" Teddy memejamkan matanya, menahan gejolak emosi yang kapan saja bisa meledak.
"Karena semua perbuatannya lah yang membuat aku begini." ucapnya tanpa menatap wajah teddy.
Teddy kembali menatap Miranda, "Gadis itu melakukan kesalahan apa padamu?"
Miranda mengangkat kepalanya dan mulai berani untuk bertatap mata dengan Teddy.
"Karena dia semuanya hilang mas. Apa yang aku lakukan padanya sama sekali belum sebading dengan apa yang ia lakukan pada kita, Mas. Kamu pun ikut mendukungku kan, jadi jangan hanya menyalahkan aku!"
Teddy hanya bisa menghela nafas mendengar peruturan istrinya. Dendam yang ada dalam hati Miranda terlalu besar di tambah dengan egonya yg selalu ingin mengasingkan putrinya.
"Aku mendungkungmu karena aku juga merasakan apa yang kamu rasakan. Aku mendukungmu karena aku menyanyagimu dan karena aku ingin memperbaiki sifat burukmu. Aku ingin kamu berhenti membencinya, Mira!"
"Aku bisa memafaatkannya jika ia benar-benar menghilang dari dunia ini."
"Hilang akal!"
Teddy bangun dari duduknya berjalan keluar kamar dan meninggalkan Miranda seorang diri di dalam kamar. Sedangkan Miranda mengutuk perkataannya sendiri.
KAMU SEDANG MEMBACA
ARLITA [Selesai] (Terbit)
Teen FictionSeries # 1 MauNinda Series #1 *** Keasingan dan ketertekanan menjadi awal dari kisah ini. Cerita ini di buat untuk mengigatkan jika sesuatu di dunia ini tidak selalu manis dan berjalan dengan lurus. Ada hal yang harus di korbankan. Ada rasa yang ha...
![ARLITA [Selesai] (Terbit)](https://img.wattpad.com/cover/213500625-64-k777721.jpg)