36 || Sakit tapi tidak berdarah

5.2K 306 20
                                        

Cinta itu seperti mimpi saat kamu tertidur ia akan indah, namun saat kamu membuka mata ia akan pudar dan lama-kelamaan menghilang

***

Pagi ini sangat indah. Matahari yang masih malu-malu untuk bersinar dan angin yang menghembus membuat pagi ini terasa lebih sejuk di tambah dengan suasana hati yang sedang berbunga.


Arka sampai di sekolah lebih pagi dari biasanya. Lelaki itu berjalan dengan santai tanpa lupa menampilkan senyum yang sejak tadi tidak pernah pudar. Kakinya melangkah menuju ruang kepala sekolah untuk menyerahkan map yang ada di genggamannya.

Arka masuk kedalam ruangan itu,  sebelumnya ia sudah mengetuk pintu. Di dalam ia dapat melihat sang kepala sekolah tengah duduk di singgah sananya dengan nasi goreng di hadapannya.

"Permisi Pak, maaf mengganggu." Ucap Arka. Kepala sekolah itu menonggak menatap Arka heran.

"Iya, ada apa ya?"

Arka mendekat kepada kepala sekolahnya, meletakan map yang ia bawa di atas meja dan langsung di buka oleh pak Jarwo-kepala sekolahnya.

Pak Jarwo nampak diam karena ia sibuk membaca, tidak lama ia menonggak melihat Arka yang masih berdiri di depannya, "Oh, ini yang namanya Agnesia. Anak baru pindahan amerika?" Tanyanya. Arka mengangguk.

"Oke. Semua sudah di urus dengan orang tuanya, awal tahun ajaran ia bisa masuk." kata pak Jarwo memberitahu Arka.

"Maaf pak, kalo besok dia mulai masuk boleh tidak?"

Pak jarwo nampak menimang jawaban yang pada akhirnya ia mengangguk, "Gapapa sih. Tapi ya, ga akan belajar."

"Gapapa Pak, mau pengenalan katanya."

"Oh yasudah tidak apa."

Arka mengangguk dengan senyum mengembang. Laki-laki itu terlihat sangat senang ketika mengetahui kepala sekolahnya memperbolehkan gadis bernama Agnesia yang tidak lain adalah gadis yang membuat dirinya berubah haluan untuk masuk esok hari, "Kalo begitu dia masuk kelas mana ya pak?"

"Sementara masuk kelas kamu aja dulu." ucapnya tanpa menoleh. Arka yang mendengarnya merasakan kebahagiaan yang berlipat.

"Ok Pak, terima kasih." Arka keluar ruangan dan berjalan kembali ke rute yang sesungguhnya. Kelas.

Arka menaiki anak tangga dan berjalan dengan santainya melewati kelas Alita yang bersebelahan dengan kelasnya. Ia tidak berhenti atau menoleh sama sekali. Padahal di dalam ada Alita yang tengah menunggunya.

"Arka!" Arka berhenti. Ia berbalik badan dan menemukan Alita tengah berlari dengan senyum mengembang miliknya. Arka masih diam tidak bersuara, padahal biasanya lelaki itulah yang akan menyapa Alita.

Arka tersentak. Tubuhnya merasakan gelagar yang luar biasa saat Alita memeluknya dengan erat dan penuh kerinduan. Arka diam dengan pikiran yang bercabang kemana-kemana. Tidak lama Arka mendorong pundak Alita agar gadis itu melepaskan diri dari tubuhnya. Arka menoleh ke dalam kelas, sebagian teman-temannya melihat adegan itu.

Alita yang di perlakukan seperti itu tentu sakit. Beberapa saat lalu bukankah Arka yang memeluknya dengan alasan rindu? Lalu mengapa sekarang lelaki itu terlihat berbeda. Ogah menatapnya.

"Ar..." panggil Alita lirih. Bahkan dirinya berusaha mati-matian agar tidak menangis di depan lelaki ini.

"Ini sekolah. Jangan di biasain." Ucap Arka datar. Dari wajah, gestur tubuh dan suara Alita yakin seratus persen jika ada yang berbeda di diri Arka, seperti bukan Arka.

Alita menarik nafas dan membuangnya secara perlahan. Ia berusaha mengendalikan dirinya agar tidak bereaksi lebih jauh, "Arka kemarin kemana? Kok ga masuk, Arka sakit atau ada urusan?" Tanya Alita benar-banar khawatir pada Arka. Bahkan Lita mengabaikan keadaan jika dirinya ada di depan kelas Arka.

Arka memutar bola matanya malas, ia mentap Alita yang juga sedang memperhatikannya. Sorot mata gadis itu berbeda, ada guratan kesedihan.

"Tidur." jawab Arka singkat.

Alita termenung, ia benar-benar merasa asing dengan Arka. Arka yang sekarang di hadapannya berbeda dengan Arka yang beberapa hari lalu bersamanya. Apa yang terjadi? Apa selama ini dirinya membuat kesalahan dan selalu Arka pendem, hingga waktunya tiba Arka begitu marah hingga mendiaminya seperti ini?

"Arka-

"Gue kekelas dulu." belum selesai Alita berbicara Arka sudah lebih dulu memotongnya dan pergi masuk kedalam kelasnya.

"Gue?" beonya. Lita menatap tubuh Arka yang hilang di perbelokan kelas. Lita tertunduk memperhatikan sepatu yang sedang ia kenakan. Sakit rasanya di perlakukan seperti orang asing seperti ini, apa ini yang di namakan sakit namun tak berdarah?

Belum hilang keterkejutan hatinya, kini tubuhnya kembali di kejutkan. Alita menoleh kekanan saat merasakan pundaknya berat seperti ada tangan yang mendarat di sana, dan benar Helmi lah pelakuknya.

"Yang sabar. Ini keinginan lo kan?"

Lita mengangguk lemah. Tatapan matanya menyorot kesedihan, Helmi jadi tidak tega dan sedikit menyesal ketika melihat gadis yang selama ini cukup ceria mendadak menjadi sad gril seperti ini, "Mi..."

Halmi memberikan senyum, ia melepaskan rangkulannya dan menepuk pundak Alita tiga kali, "Ga usah takut. Jangan nangis, ada gue dan Sherly yang akan stay buat lo, ngerti?" Alita hanya bisa menganggukan kepala tanpa mengeluarkan suaranya.

"Masuk kelas sana. Ga usah pikirin,  tunggu Sherly terus ajak kekantin buat sarapan, ok?" Alita hanya bisa mengangguk kembali.

"Obatnya jangan lupa." lagi-lagi Lita hanya mengangguk.

"Sana." usir Helmi. Alita berjalan masuk kedalam kelas dengan lesu. Helmi yang Melihat Lita sudah duduk di kursinya pun berjalan kembali menuju kelasnya dengan tangan terkepal.

🥀

Part di hapus demi kepentingan penerbitan

ARLITA [Selesai] (Terbit) Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang