3 ||The first meeting

8.5K 398 12
                                        

Bertahan sakit, pergi terluka

***

Lita keluar kamar dan berjalan kearah kamar di sebelahnya. Ia mengetuk beberapa kali pintu itu hingga pintu terbuka dengan menunggu kamarnya.

Alita mengadakan tangannya pada Devan untuk meminta ponselnya yang sempat di ambil paksa oleh lelaki itu tadi saat di halte.

Devan mengerutkan kening tidak mengerti dengan apa yang di inginkan kakaknya. Datang-datang kok langsung nodong.

"Apa?"

"HP."

Devan mengangguk dengan mulut yang berbentuk bulat, ia berjalan masuk kedalam kamarnya dan kembali dengan menenteng ponsel bercase hitam milik Alita.

Devan menyerahkan ponsel itu pada Alita dan di terima olehnya.

"Thanks."

Lita langsung masuk kembali kedalam kamarnya meninggalkan Devan yang masih terdiam di depan pintu kamar. Davan terlonjak kaget mendengar suara pintu tertutup dengan sedikit kasar.

Devan yang melihat kelakuan kakaknya hanya bisa menggelengkan kepala. Harus berbuat apa agar kakaknya mau seperti kakak-kakak pada umumnya yang memberi perhatiannya pada Adiknya, yang bisa di ajak berbicara atau bahkan di ajak perang hingga berujung pertengkaran kecil.

Devan membuang nafas, "Gue ga paham sama isi hati lo Kak."

🥀

Selesai dengan aktivitasnya di kamar,  Alita mengambil tas hitam yang ada di atas meja belajar miliknya, memakai tas itu lalu kemudian keluar kamar.

Ia berjalan menuruni anak tangga. Sampai di anak tangga terakhir ia sempat berhenti lantaran ada seseorang yang memanggil namanya.

"Lita,"

Ia menoleh kekiri dan menemukan papinya yang memanggil namanya tadi. Disana, semua keluarganya telah berkumpul tepatnya di meja makan untuk melakukan sarapan bersama. Tentunya tanpa kehadiran dirinya karena ia saja baru turun.

Lita memejamkan mata dan menghembuskan nafasnya kasar, "Kenapa?"

"Sarapan dulu, Nak." tawar Taddy. Senyum ramah khas ke bapak'an di pancarkan oleh pria itu berbanding terbalik oleh Miranda yang menatap acuh Alita.

"Ga, makasih."

Alita tidak perduli, gadis itu melanjutkan langkahnya untuk keluar dari neraka dunia ini setelah mendapat pesan jika ojek online yang ia pesan sudah ada di depan rumahnya.

Teddy yang melihat kelakuan putrinya itu pun hanya bisa menghembuskan nafas pasrah. Sifat Alita yang dingin dan ketus sudah menjadi makanan sehari-hari bagi keluarga Teddy.

"Anak itu memang tidak tau diri."

"Mir," Teddy menegur istrinya saat mendengar gummaan yang tidak pantas di keluarkan oleh seorang ibu. Bagaimana pun sifat dan sikap Alita, gadis itu tetap anaknya. Anak yang selalu membuat dirinya tersenyum saat keadaan buruk menimpahnya, anak yang selalu memberikan aura positif di keluarganya. Alita.

Miranda menatap malas suaminya,"Memang dia anak tidak tau diri. Menyesal saya sudah mem-

"Miranda!"

Bentakkan Teddy membuat Miranda diam. Tidak, diamnya bukan diam menyesal tetapi diam sementara yang sewaktu-waktu bisa berkoar kembali karena Miranda adalah type orang yang yang sekali benci akan terus benci.

🥀

Ojek yang di naiki Alita berhenti di depan gerbang SMA Cahaya Bintang. Ia turun dan memberikan uang sesuai dengan argo yang telah tertera di aplikasi tersebut.

ARLITA [Selesai] (Terbit) Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang