27 || Rasa Bersalah

5.3K 308 5
                                        

Rasa bersalah itu terus ada dalam hati, entah apa yang harus di lakukan untuk memperbaiki semuanya

***

Haikal berdiri di balkon kamarnya manatap hampa kolam renang di bawah sana. Jari tengah dan telunjuknya mengampit benda bernikotin yang sedang mengembangkan asapnya. Entah mengapa perasaannya gelisanya kembali hadir saat mengigat sikap Alita tadi.

Adiknya itu sama sekali tidak menyapanya bahkan saat Haikal yang menyapanya pun Alita nampak acuh dan menganggap bahwa sapaan Haikal adalah angin lalu.

Ia memang salah. Bukan hanya papi dan maminya saja yang berperan dalam drama ini, ia pun ikut adil memainkan perannya. Tidak bisa di pungkiri jika dirinya adalah salah satu orang yang membuat Adiknya menderita, membuat adiknya ketakutan dan membuat adiknya merasa tidak di lindungin.

Sebagai kakak, Haikal telah gagal.

Haikal memejamkan matanya sesaat untuk menghilangkan rasa gelisa yang ada di dalam hatinya. Tetapi Haikal tidak mendapatkan ketenangan. Ia malah mendapat bayangan dirinya yang meninggalkan Alita di tengah jalan saat matanya menangkap objek yang lebih menarik.

"Lo turun sini."

Lita menatap Haikal dengan bingung, untuk apa ia di turunkan di tengah jalan bahkan jarak sekolah dari tempat ia di turunkan masih lumayan jauh.

"Budek ya lo?!" dengan kasar Haikal mengucapkan itu tanpa perduli dengan perasaannya.

Dan dengan keadaan hati yang sangat terpaksa Alita akhirnya memilih turun dan berjalan kaki.

Mobil Haikal kembali berjalan dan tidak lama mobil itu berhenti. Alita hanya berucap "oh" pada saat ia tau siapa yang membuat kakaknya menurunkannya di tengah jalan seperti ini.

Sherly. Temannya.

"Segitu malunya kah? Sampe temen gue aja ga tau kalo gue ade lo kak."

Haikal menggelengkan kepalanya beberapa kali berusaha mengusir bayangan itu dari fikirannya. Bayangan sialan itu kembali datang menghantuinnya.

Sebelumnya Haikal tidak pernah merasa sebersalah seperti ini ... Tapi untuk kali ini dirinya benar-benar merasa delema.

Haikal membuka matanya, pandangannya lurus dan tajam. Tangannya sudah mengepal dengan nafas yang memburu. Ia menatap tembok yang ada persis di samping kirinya, menghempaskan kepalan itu pada tembok dengan sangat keras suaranya pun terdengar cukup kencang saat kepalan tangan itu sudah mendarat untuk kedua kalinya. Haikal benar-benar tidak bisa memafkan dirinya sendiri.

Tubuhnya luruh di lantai balkon kamarnya, pandanganya kosong. Ia menekam puntung rokok yang masih menyala dengan kencang. Kedua tangannya terluka. Tangan kirinya terluka terkena api yang ada dalam rokok sedangkan tangan kanannya memar karena ulahnya sendiri yang menghantam tembok tidak berdosa.

Lain halnya dengan Haikal. Devan justru baru memasuki kamarnya saat pukul sebelas malam. Ia tidak perduli dengan ocehan papinya saat ia baru memasuki rumah tadi.

Papinya berbicara panjang lebar dengan nada tinggi andalannya, tapi dengan santainya Devan nyelonong masuk begitu saja tanpa perduli dengan kalimat anak durhaka.

Lelaki itu menghempaskan tubuhnya di kasur besar miliknya berdiam dengan mata tertuju pada langit-langit kamarnya. Ia menghela nafas lelah, hari ini adalah hari terlelah yang pernah Devan rasakan.

Ia memejamkan matanya menikmati dinginnya udara yang di ciptakan karena ac. Tiba-tiba ia memikirkan tentang nasib keluarganya yang sekarang berubah. Keluarga tidak seharmonis dulu.

Devan bangkit dan langsung berjalan kearah laci nakasnya, mengambil sebuah plester yang sudah lama tersimpat di dalam sana. Sudah dari jauh-jauh hari ia ingin menanyakan tentang darah yang ada di plester ini pada kakaknya tapi itu selalu gagal lantaran dirinya yang terlampau malas.

Sumpah demi apapun Devan menjadi ragu dengan setiap ucapan yang di lontarkan Miranda. Pada saat ia mengatakan jika kening Miranda terluka karena Alita dan detik itu juga Alita menunjukan luka yang ada di tangan kirinya. Ke esokan harinya Devan memergoki Miranda tidak memakai berban dan tidak ada bekas luka sama sekali. Hal ini lah yang membuat Devan menjadi gelisah sendiri.

Devan keluar dari kamarnya dan masuk kekamar sebelah di mana kamar kakaknya berada. Tangannya membawa plaster milik Alita.
Devan berjalan masuk kedalam kamar milik kakaknya, melihat kamar kosong ia memastikan jika sang kakak sedang berada di kamar mandi itu terbukti dari suara germercik air yang terdengar dengan jelas.

Devan duduk di kasur yang sudah tidak berbentuk lagi. Ia menatap sekeliling kamar kakaknya yang berantakan seperti habis terjadi peperangan.

Tidak lama Haikal keluar dengan sudah memakai celana pendek dan handuk yang ia kalungkan di leher.

Haikal berjalan menghampiri adiknya dan duduk persis di sebelah Devan. Haikal diam tidak membuka mulutnya sama sekali.

Haikal mengerjit tidak mengerti saat Devan tiba-tiba menunjukan sebuah plester kotor dangan sedikit bercak darah yang menempel.

"Coba lo cek ini darah asli atau palsu." Haikal menurut. Ia mengambil alih plester tersebut dan sedikit melakukan pengecekan simple. Darahnya sudah mengering tapi bau yang di keluarkan masih bisa Haikal terima.

"Baunya amis, warnanya juga warna darah. Ini sih bukan palsu ini darah asli. Punya lo?" Haikal menonggak.

Devan menggeleng, "Punya Alita."

Seketika mata Haikal terbuka
dengan sempurna, nafasnya kembali memburu jiwanya kembali bergejolak dangan perasaan yang sudah melayang ke mana-mana.

Ini tidak mungkin milik Alita. Alita kenapa? adiknya kenapa? Apa yang ia lewatkan.

"Plester ini ada di laci gue udah hampir sekitar tiga mingguan. Plester ini milik Alita yang tertempel di lengan kanannya."

"Maksud lo gimana?" ucap Haikal tidak mengerti.

"Lo inget yang lagi itu Mami bilang kalo keningnya berdarah karena ulah Alita?" Haikal mengangguk.

"Dan luka ini ada di tangan Alita di hari yang sama. Alita pernah bilang sama gue yang intinya Mami itu bohong dan hidup Mami penuh dengan drama. Alita juga bilang kalo emang mau drama harus belajar sama dia yang udah berpengalaman."

"Gue paham. Intinya Mami Papi emang nyembunyiin sesuatu dari kita."

Devan mengangguk setuju. Kedua orangnya memang aneh dan patut di curigai.

Keduanya larut dalam lamunan mereka masing-masing. Haikal menonggak menatap jam di dinding yang sudah menunjukan pukul dua belas kurang.

"Balik kamar sono tidur. Udah belajar belom lo?"

Devan hanya menggelek.

"Lo juga belajar kak besok masih ulangan." perintahnya.

"Ga mood belajar."

Devan menatap horor kakaknya. Sebagai murid pintar di sekolahnya Devan merasa bagaimana gitu saat mendengar kalimat yang di ucapkan oleh Haikal.

"Ga naik tau rasa lo!"

"Gapapa. Kalo gue ga naik kan gue masih bisa satu sekolah sama lo ... dan Alita."

Devan geleng-geleng, "Gila lo!"

Setelah itu Devan berjalan keluar kamar Haikal untuk masuk kemarnya sendiri. Lelaki itu langsung duduk di kursi meja belajar untuk mempelajari materi yang besok keluar.

🐾🐾🐾


Vote ama komen gue mah ga mau tau.

Ig : nuraini_1310


ARLITA [Selesai] (Terbit) Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang