ADISA | 26

1.8K 61 17
                                        

Gw balikkkkkkk nehhh...

Kangeenn gw gak?

Hehe.

Pada sehat kan sayang sayangkuh?

Hepi reding yak 😳

.

Hana Mak Lampir :

[Picture]

[Picture]

Cowok lo ke gap sama gue.
Dan ceweknya jg ngaku sama gue klo dia itu selingkuhan Alano. Sialan!
Cowok lo bangsat juga ya...

Me : Lo mau adu domba gue?

Hana Mak Lampir :
Iyuh!
Nggak percaya? Tanya Fandi, gih. Doi juga jadi saksi.
Ribut, dong!

Me : Gitu lo bilang nggak mau adu domba gue?

Hana Mak Lampir :
Gue bahagia kalo lo berdua ribut. HAHAHA

Adisa memandangi rumah berlantai dua yang menjulang di hadapannya. Pagar hitamnya yang tinggi tertutup rapat. Sudah tiga kali, ia memencet bel. Namun, tidak ada tanda-tanda bahwa si pemilik rumah akan membuka pagar. Setelah hampir lima menit menunggu, akhirnya ia memilih untuk melangkahkan kaki ke jalanan.

Beralaskan sandal jepit birunya, perempuan yang mengikat rambutnya itu, menelusuri jalanan komplek yang agak sepi. Senja sudah berpulang ke arah barat sejak satu jam yang lalu. Digantikan oleh bulan yang bersinar terang di angkasa dengan bentuknya yang bulat penuh.

Panji sedang menjenguk salah satu koleganya di rumah sakit. Bahkan belum pulang ke rumah, sejak mengantarnya pergi ke sekolah. Perintah tidur siang dari sang ayah pun, hanya dianggap angin lalu oleh Adisa. Apalagi setelah mendapatkan pesan dari Hana. Semakin ia tak bisa tenang dalam tidurnya. Menghampiri rumah tetangganya pun, ia tak mendapatkan apa-apa.

Tiba di taman komplek perumahan, Adisa duduk di sebuah ayunan. Matanya memejam saat intro dari lagu kesukaannya terputar pada earphone-nya. Keadaan taman yang sepi tak sedikitpun membuat perempuan berkaos putih itu takut. Baginya, kehancuran keluarganya jauh lebih menakutkan dari apa pun. Dengungan suara motor masih bisa tembus ke gendang telinganya. Setelah suara itu berlalu, ia merogoh saku celana jeansnya. Mengeluarkan sekotak rokok dan korek gas yang baru saja dibelinya.

"Huuuhh..."

Adisa meniupkan asap dari mulutnya. Tangan kanannya kembali mendekatkan batang candu itu ke bibir. Menyesapnya selama lima detik, lalu menghembuskannya ke udara. Membuat kepulan-kepulan asap putih yang bisa menambah polusi udara Jakarta. Tangan lentik Adisa menjentikkan abu rokoknya ke pasir. Kemudian ia menghisapnya dalam hingga rongga dadanya terasa sesak.

Setelah satu batang habis terbakar, sandal jepitnya menggilasnya bersamaan dengan pasir-pasir yang mengotori kakinya. Dan tepat saat lagu "Faded" selesai terputar, lalu berganti "Alone", masih hasil karya seorang Alan Walker, perempuan berkaos putih itu kemudian mengangkat pantatnya. Berjalan di atas pasir yang ingin menenggelamkan jari-jemari kakinya, menuju jalanan beraspal.

Laki-laki ber-hoodie hitam dengan celana jeans abu-abu, persis seperti foto yang dikirim oleh Hana tadi sore, sedang membuka pintu gerbang rumahnya. Motor hitam kebanggaannya pun masih terparkir di jalan. Hal itu membuat Adisa mempercepat langkahnya.

ADISATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang