Happy reading ^^
🍃🍃🍃
Sudah berkali-kali Dian menghela napas. Dirinya sendiri tidak tahu kenapa bisa lelah, seperti ada yang menghujamnya. Tapi apa?
Tak butuh waktu lama, ia membaringkan tubuhnya ke tempat tidur. Mencoba berbagai posisi yang menurutnya nyaman. Menatap lurus ke depan, menandakan sedang berpikir keras. Sampai pada akhirnya, ia memutuskan tuk mematikan lampu tidur yang berada di atas nakas.
"Ku harap... Bintang jatuh itu gak hanya bersinar untuk dirinya sendiri. Melainkan untuk kehidupan ku," batin Dian berharap, sebelum menyelam ke alam bunga tidur.
🌠🌠🌠
Dian menggeliat tak nyaman saat tidur. Mendengar suara gaduh dari luar kamarnya.
"Gak mungkin maling kan?!"
Setelah bertanya dan bermonolog pada diri sendiri, Dian memantapkan diri untuk mengecek.
Dian mengintip dari celah pintu yang sudah sedikit terbuka karenanya.
"Weh jangan gaduh atuh!"
"Ini saudara miper rusuh banget ampun!"
"Semprot terus!"
"Aduh kakak-kakak... Kalian yang berisik lho!"
"Hustt! Jangan bersisik!"
"Berisik om, bukan bersisik"
"Ayo buruan mulai"
"1... 2... 3"
"HAPP---
"Cie pada gagal surprisenya!" Ledek Dian yang kini melihat ekspresi kaget para orang terdekatnya.
"Yah"
Kelesuan mereka membuat Dian terkikik geli.
Setelah acara tiup lilin dan berdoa, Dian masuk ke dalam kamarnya mengingat besok bukanlah hari libur.
Pandangan Dian mengarah ke balkon kamarnya. Langkah demi langkah mengantar gadis berpiyama itu melihat pemandangan dini hari.
Entah untuk ke berapa kali, Dian menghela napas.
"Berharap namun tidak. Egois namun bukan," lirih Dian sebelum menatap langit pada pukul 00.07.
"Kehadiran seseorang yang selalu buat kesal. Justru membuat diri ini kagum. Sedangkan, seseorang yang mewarnai hari... Bagai ditelan bumi"
"Bintang jatuh," gumam Dian menatap yang baru lewat dalam Indra penglihatannya. Membuat dirinya tak segan segan membuat permohonan lagi.
Tringg...
Notifikasi berasal dari benda pipih yang berada di saku piyamanya. Tak butuh waktu lama, Dian mengusir rasa penasaran akan notifikasi itu. Setelah rasa penasaran itu lenyap, ia melihat pojok kanan atas layar handphone-nya.
Pandangannya beralih menatap tempat bintang jatuh, "Telat 10 menit gak apa-apa kan?"
✨🌠✨
"Kenapa mata kamu jadi mata koala?"
"Mata panda, teh," Giny mengkoreksi diakhiri gelengan kepalanya. Giny juga semakin kesini memakai bahasa sunda ketika berbicara dengan Angel. Definisi dari sebuah kenyamanan.
Ketiga perempuan ini berada di ruang makan milik keluarga Dian. Angel lagi ingin berangkat sekolah bersama Dian. Membuat Dian menatap heran sekaligus curiga. Biasanya, Angel akan memberitahu Dian terlebih dahulu. Bukan dadakan seperti sekarang ini.
"Nah iya... Mata panda! Why?"
"Aku akan cerita. Tapi gak sekarang," ucap Dian menatap Angel.
"Jangan bilang... Gara-gara cowok tengil kamu itu," ucap Angel pelan, namun sorot matanya tajam.
"Ish! Enggak lah!" Tepis Dian.
"Walaupun itu salah satunya. Tapi, bukan itu yang sekarang mendominasi," lanjut Dian dalam hati.
"Sok misterius nih... Gak like huh!" Dumel Angel.
Dian tak menanggapi dumelan Angel, "Ayo berangkat ke sekolah!"
🕊️🕊️🕊️
Sepanjang melewati koridor sekolah, tak ada henti-hentinya Angel mengoceh. Lebih tepatnya adalah penagihan. Kini, dirinya dan Angel menuju ke kantin setelah bel istirahat berbunyi.
"Ngel bisa diam gak? Nanti diceritain kok," Dian beneran gemas dengan sahabatnya yang satu ini. Tak habis pikir Dian tuh.
"Ya tanggung sendiri atuh Di... Kan kamu tau manusia yang manis ini kepo akut hehe," dengan percaya diri, Angel menangkup kedua pipinya supaya terkesan imut nan manis.
Siapapun tolong Dian! Ia gak mau mengambil risiko untuk mentraktir---traktir paksaan--- es teh. Karena bisa dipastikan setelah ocehan panjang, Angel akan merengek sebab haus.
🐼🐼🐼
"Jadi?"
"Jad---
"Bentar-bentar... Haus, minum dulu ya?"
Tak menunggu jawaban dari Dian, Angel meminum es teh yang sudah pasti berasal dari traktiran paksa.
Dian menahan rasa sebal untuk sahabatnya sendiri.
"Yuk lanjut-lanjut"
Dian memutar bola matanya, "aku mimpi mendiang eomma," ucap Dian cepat supaya tidak disela lagi.
Kening Angel mengerut.
🥀🥀🥀
"Aku mau kamu bantu aku ungkap kematian eomma"
Ucapan Dian mengulang terus di kepalanya. Sahabatnya masih menetap di kantin akibat hadirnya Alvero yang menahan Dian. Ya jadi inilah nasib Angel, berasa jomblo lagi ketika menyusuri Koridor sendiri.
Langkah kakinya makin melebar, sebelum ada langkah kaki lain yang memberhentikan itu semua.
"Bisa dijelaskan?"
Mungkin belum keberuntunganya. Kini Angel menatap seonggok manusia yang sedang menatapnya jua,
"Apa?"
🍂🍂🍂
TBC
FYI:
Eomma = Mama
Vote and comment selalu ya reader's ^^
Love,
Tiara
KAMU SEDANG MEMBACA
This Feeling
Romance#1 chunji [16/04/2020] #1 thisfeeling [18/04/2020] #1 bukunovel [21/04/2020] ---------------------------------------------- Diana Sheramita Gadis imut ini belum pernah merasakan jatuh cinta. Waktunya tak pernah ia buat memikirkan laki-laki. Waktu ya...
