"Ayah, apa sebaiknya aku membatalkan semuanya saja?" Tanya gadis itu sembari mengetuk-ngetukkan jarinya ke atas meja.
"Ayah menyerahkan semuanya padamu Hyo, kau tahu kan, kalau ayah tidak pernah melarang apapun yang kau lakukan." Lelaki paruh baya itu tersenyum dan memilih menyesap kopi yang sudah dibuatkan oleh anak kesayangannya itu.
Hyorim menghela nafas pelan.
Menyadari ada yang tidak beres dengan anaknya, Tuan Lee memperbaiki posisi. "Apa ada masalah?"
"Sebenarnya dari awal aku memang tidak berniat menikah." Terangnya. "Aku sama sekali tidak mencintai Jimin."
"Hyo, kau tahu kan apa kebahagiaan terbesar bagi ayah?" Tuan Lee tersenyum. "Kau, anak kebanggaan ayah. Jika kau memang tidak ingin menikah, jangan melakukannya."
Hyorim tersenyum tipis, sedangkan pikirannya berkecamuk. Jika ia membatalkan pernikahan, apa dendam keluarganya akan terwujud? Apa ayah akan tenang meski akan membutuhkan waktu lebih lama untuk menemukan wanita gila itu?
Tiba-tiba saja gadis itu merasakan tangan besar mengusap lembut surainya. "Jika kau mengkhawatirkan ayah, ayah tidak papa. Sungguh."
"Benar-benar tidakpapa? Meski aku mengecewakan ayah?"
Tuan Lee mengangguk. Ia hanya menginginkan Hyorim bahagia dengan apapun keputusan yang ia buat. "Iya, asalkan kau memang yakin."
"Aku … tidak yakin ayah." Hyorim menghela nafas lagi. "Aku tidak mau mengecewakan ayah, aku tidak mau melihat ayah—"
"Hyorim-ah," Sela Tuan Lee. "Jangan memikirkan ayah karena ini hidupmu. Bukan hidup ayah."
Hyorim terdiam. Memandang obsidian gelap milik ayahnya pekat.
"Ayah bahagia jika kau bahagia. Jadi jangan mengambil keputusan yang tidak kau sukai. Ya?"
"Meski keputusanku akan sangat mengecewakan ayah?"
Tuan Lee mengangguk.
"Meski keputusanku akan amat sangat mengecewakan keluarga kita?"
Tuan Lee mengangguk.
"Meski keputusanku akan—"
"Iya, putri kesayangannya ayah." Potong Tuan Lee membuat Hyorim tersenyum tipis. Entah kenapa, ada sedikit kelegaan dihatinya.
"Mungkin kata Taehyung memang benar." Gumamnya melanjutkan.
•••
"Hyebin-ah, tumben kulihat kau sendirian di kantin yang ramai ini." Ucap Jungkook dan tanpa etikanya mendudukkan diri di hadapanku.
Aku mendengus. "Apa kau tahu kau berutang sesuatu padaku?"
Jungkook mengangkat sebelah alisnya bingung sedangkan mulutnya masih asik mengunyah makanan. "Apa?"
Aku memutar bola mata jengah. "Kau dengan Sekyung."
Menyadari arah pembicaraanku, Jungkook mengangguk paham. "Seperti yang sudah kujelaskan, aku berpacaran dengan Sekyung." Pria itu kembali memasukkan tteokbokki ke mulutnya. "Kenapa kau iri? Mendadak menyesal karena lebih memilih Jimin daripada aku?"
Aku mendorong dahinya gemas. Songong sekali sih. "Aku hanya kesal. Kenapa kau tidak memberitahuku?"
"Kau sendiri yang mengatakan padaku untuk move on."
"Jadi kau berpacaran dengan Sekyung hanya untuk melupakanku? Ya Jeon Jungkook, kau memang brengsek ya." Ucapku kesal tak menyangka dengan perilakunya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Bad Boy | PJM ✔
Fanfiction[COMPLETE•Follow first] † "He is a bastard, a fucking idiot, and the sexy one." Namanya Park Jimin. Tampan sih, aku akui. Keren dan juga seksi untuk pria berumur 18 tahun. Tapi menurutku semua keunggulan itu tertutupi oleh sifat bajingannya. Dia ada...
