"Apa, aku sekelompok dengan kau dan Jungkook?!"
Pekikan Jimin benar-benar membuatku sadar kalau aku salah memilih kelompok. Aku menghela nafas dan tidak bisa berkata apapun.
"Ya. Dan aku juga tidak mau."
"Kalau begitu kenapa tidak kau tolak? Kenapa malah diam?" Pertanyaan Jimin membuatku menatapnya jengah.
"Apa yang kau harapkan dari anak baru sepertiku? Lagipula kupikir kau juga harus merasakan bagaimana rasanya sekelompok denganku sebelum aku keluar."
"Keluar?" Tanyanya tak mengerti. Ya, setidaknya aku punya spekulasi kalau reaksi Jimin tidak akan sama dengan Jungkook. Setidaknya kami memang membenci satu sama lain.
"Lihat saja seminggu kedepan, adikku yang tolol itu pasti akan membuat masalah."
"Tapi aku anak pemilik sekolah. Apa kau lupa?"
Lanturannya tentang anak pemilik sekolah membuat sebelah alisku naik tak mengerti. "Lalu? Apa kaitannya denganku?"
"Aku bisa memutuskan kapan kau dan Taehyung keluar." Senyum Jimin pongah dan terlihat membanggakan diri.
Aku terkekeh, tentu saja tidak percaya. Pria seperti Jimin tidak akan mau juga merepotkan dirinya. "Kau tidak perlu memutuskannya. Aku bahkan tidak terlalu niat sekolah. Jangan merepotkan dirimu sendiri dan fokus saja pada perjodohanmu."
Perkataanku tentang perjodohan membuatnya mendengus tak suka. "Aku yang memutuskan atau sekolah yang memutuskan, kau tidak usah memikirkannya. Sekarang kau hanya perlu diam dan menjadi anak penurut untukku. Ya?"
Aku tak tahan untuk menjitak kepalanya, tidak peduli lagi dengan luka lebam yang sedari tadi aku khawatirkan. Aku tahu dia juga akan diobati. Jadi, lebih baik aku ikut mencetak luka kan?
"Penurut untukmu? Kau pikir aku kucing yang bisa kau belai kapan saja?"
Jimin meringis dan tetap mengangguk, bibirnya tersenyum. (Dan itu membuatku kesal) "Ya, bagiku kau itu kucing yang liar dan menarik di saat bersamaan. Lihat, buktinya kita selalu bersama meski saling membenci. Apa lagi kalau bukan takdir?"
"Takdir matamu." Kesalku. "Daripada kita membicarakan hal melantur, kenapa tidak fokus saja pada dirimu yang sekarang terlihat menyedihkan?"
Jimin memutar bola matanya malas. "Sudah kubilang aku tidak mau pulang."
"Tadi kau mengatakan ingin kuantar pulang! Sekarang kau malah tidak mau kembali! Kau mau apa dengan lukamu itu hah? Aku yakin di rumahmu ada banyak pelayan yang bisa mengobatinya!" Aku memejamkan mata guna menetralkan emosi yang bisa meledak kapan saja. "Sekarang, kumohon. Jangan merepotkanku lagi dan beritahu alamat rumahmu."
Jimin mengindikkan bahu dan mendekatkan wajahnya padaku. "Kenapa tidak beritahu alamat rumahmu saja? Kupikir itu jauh lebih mudah."
Aku menekan dahinya dengan jariku agar wajahnya menjauh. "Jangan membantah dan malah memilih pilihan lain yang jelas tidak ada. Beritahu saja alamat rumahmu, Tuan Park Jimin."
Jimin menghela nafas kasar dan akhirnya menyerah juga. "Hannam Hill."
"Yokshi. Aku sudah menduga kau akan tinggal di perumahan mewah itu. Jalanku benar kan? Lihat kita sudah dekat." Ucapku tersenyum menang.
"Apa? Jadi kau …" Jimin kehabisan kata-kata. "Woah, aku tidak tahu harus bilang apa."
Aku terkekeh. "Sudah kubilang aku ini bukan kucing penurut, Park Jimin. Jadi sekarang beritahu aku dimana alamat jelasnya karena sedikit lagi kita sampai."
•••
"Ini … rumahmu?"
Aku menengadah dan rasanya masih tidak cukup tinggi untuk melihat keseluruhan rumah.
"Ya." Balasnya masih kesal karena aku mempermainkannya.
"Sudah, masuk saja dan obati lukamu itu. Kau tidak mau wajah tampan mu meninggalkan bekas kan?"
Jimin mendengus. "Ya, ya, ya."
Aku mendorong Jimin masuk ke dalam gerbang dan segera saja satpam berseragam biru yang bertugas tersenyum menyambut kami—lebih tepatnya kepada si tuan muda Park. Woah, seketika saja aku merasa seperti masuk ke dalam kerajaan.
"Rumahmu jjang." Celetukku masih mendorongnya.
"Kalau kau menyukainya, tukar saja denganku aku tidak keberatan."
"Dan membiarkanku menikah dengan sesama jenis begitu?" Aku bercanda sekaligus memutar bola mata jengah.
"Oh ya, apa ibumu ada di rumah?" Tanyaku mengingat ucapan Jimin kalau ibunya itu wanita super sibuk dan menurutku agak, emm … menyeramkan.
"Semoga saja tidak."
Beberapa meter kemudian, kami sampai di depan pintu utama. Jimin dengan setengah hati berteriak memanggil penghuni di dalamnya. "Ahjumma!"
Ceklek.
Aku terdiam melihat yang membuka pintu bukanlah asisten rumah tangga seperti diperkirakan melainkan seorang wanita paruh baya yang memakai pakaian serba mahal.
"Jimin-ah, kau pulang?" Rautnya menunjukkan keantusiaan yang seolah dibuat-buat.
"Jangan berpura-pura tidak tahu eomma."
"Tidak tahu—apa maksudmu?" Ny. Park terlihat tidak mengerti.
"Kenapa eomma tidak bertanya tentang luka yang kudapatkan ini?"
Ny. Park terdiam sementara dan beralih melihatku. "Ini, siapa? Temanmu?"
"Eomma, jawab pertanyaanku." Jimin menarikku untuk berada dibelakangnya. Mau tidak mau aku mengikuti daripada mendapat masalah dengan pemilik sekolah.
Ny. Park menghela nafas kasar dan tersenyum. "Kau bertengkar lagi?"
Jimin terkekeh sinting. "Ya, aku bertengkar. Lebih tepatnya bertengkar dengan orang-orang suruhan eomma."
"Apa yang kau bicarakan? Orang-orang suruhan apa …?" Ny. Park terdiam, berusaha menyusun kata-kata. "Oh ya, apa kau sudah bertemu Hyorim?"
"Eomma, sudah kuperingatkan beberapa kali supaya jangan memaksaku lagi."
"Memaksa?" Ny. Park terkekeh. "Eomma tidak memaksamu karena ini untukmu juga, Jimin. Untuk masa depanmu. Sudah berapa kali eomma katakan kalau perjodohan ini hanya bersifat sementara. Setelah eomma rasa cukup, kau bisa menceraikannya."
Mataku membulat mendengar wanita sekelas ibu Jimin berkata hal seperti itu dengan mudahnya. Dia benar-benar seorang wanita gila harta.
"Kasarnya, eomma menyuruhku untuk mengorbankan masa depanku, kan?" Jimin menutup mata frustasi. "Kenapa tidak eomma jual aku saja sekalian?"
"Park Jimin." Aku tidak tahan menggengam lengannya.
"Tugasmu hanya tinggal menuruti apa kata eomma, Jimin-ah. Kau hanya tinggal mengikuti perjodohan ini dan dapatkan uang mereka. Hanya untuk beberapa bulan—setelah itu kau bisa melakukan apapun pada gadis itu. Ya?" Pintanya dengan intonasi selembut mungkin.
Jimin terdiam namun sesaat kemudian terkekeh pelan. "Maaf eomma, tapi sepertinya aku tidak bisa melakukan tugas itu."
[]
Oh ya, ngomong-ngomong aku publish work baru disebelah dan castny tetep Jimin-ssi. Jangan lupa utk mampir sambil nunggu bad boy~
KAMU SEDANG MEMBACA
Bad Boy | PJM ✔
Fiksi Penggemar[COMPLETE•Follow first] † "He is a bastard, a fucking idiot, and the sexy one." Namanya Park Jimin. Tampan sih, aku akui. Keren dan juga seksi untuk pria berumur 18 tahun. Tapi menurutku semua keunggulan itu tertutupi oleh sifat bajingannya. Dia ada...
