Setelah hari libur, Namjoon kembali disibukkan dengan pekerjaannya dikantor, beberapa hari sudah ia habiskan untuk melakukan berbagai persiapan menuju perilisan teknologi terbaru perusahaannya, hasil kolaborasi dengan SJ,INC.
Dan untuk proyek-proyek selanjutnya Namjoon bahkan bersumpah tidak akan mengajukan kolaborasi lagi dengan manusia itu, terlalu menjengkelkan pikirnya, tidak akan membuatnya senang menjalani pekerjaan jika terus bertemu dengan Seokjin.
Namjoon meregangkan otot tangannya, bersamaan dengan terbukanya pintu diruangannya.
Satu-satunya orang setelah Seokjin yang berani masuk keruangannya tanpa mengetuk pintu adalah Lee Chaeyeon, sekretaris Seokjin sendiri.
Bos dan sekretaris sama sama membuat jengkel.
Bahkan dari segi pakaianpun kedua orang ini lebih cocok untuk menjadi model saja, terlalu modis dan berlebihan untuk dikantor, sungguh.
Chayeon mengantarkan berbagai dokumen penting yang perlu ditanda tangani oleh Namjoon, ia meletakkannya dimeja sekaligus duduk disana dengan kaki yang disilangkan.
"Turun Lee Biseo!"
"Bagaimana kita ubah panggilan nama kita? Aku memanggilmu Namjoon, dan kau memanggilku Chaeyeon? Pakai nama biasa saja." Ucapnya sembari menaikkan alis.
Chaeyeon melepaskan silangan kakinya, dan meletakkan satu kakinya dikursi Namjoon. "Mau kan?"
Namjoon menghela nafasnya, gadis ini terlihat sedang menggodanya, jujur saja Chaeyeon itu memang cantik, tubuhnya juga pasti sempurna, namun Namjoon tidak akan pernah ingin melihatnya lebih dalam, harga dirinya hanya akan tercoret bila memakai barang bekas musuhnya, Seokjin.
Dan lagipula Namjoon cukup jarang bermain dengan karyawan tetap disekitar kantornya, ia lebih memilih gadis diluar genggamannya, seperti model yang membintangi produknya atau anak pemilik saham.
"Apa kau selalu seperti ini jika dengan Seokjin?" Ucap Namjoon tanpa memudarkan wibawanya hanya karena tergoda.
"Tentu saja tidak, Aku hanya perlu berdiri didepannya sambil tersenyum setelah itu dia yang melanjutkan" Chaeyeon memilih turun dari meja dan berdiri didekat kursi Namjoon, nyaris tidak ada jarak karena terlalu dekat.
"....Tubuhku membuat orang mendamba." ucapnya berbisik
Tangan Namjoon terulur untuk menyentuh kemeja bagian atas Chaeyeon yang kancingnya terbuka.
Namjoon memilih untuk menutupnya.
"Karena itulah kau harus menjaganya" ucap Namjoon sembari memberikan senyuman manis.
Chaeyeon tertegun, ia memundurkan tubuhnya perlahan.
Namjoon segera meraih dokumen yang tadi dibawa Chaeyeon untuk ditanda tangani dan setelah itu memberikannya pada Chaeyeon.
Chaeyeon masih terdiam menatap dokumen itu, setelah beberapa detik baru tangannya mulai terulur untuk mengambilnya.
Ia pun langsung keluar dari sana dengan langkah yang cepat, setelah berada diluar ruangan Namjoon tepatnya didepan pintu, Chaeyeon memegang dadanya, jantungnya berdegup kencang.
Chaeyeon mendengus kesal, tawa remeh mulai menghiasi wajahnya. "ternyata begitu caranya memikat, memperlakukan dengan sopan seolah wanita adalah berlian, cih klasik sekali." ucapnya kemudian kembali berjalan, segera pergi dari sana.
---
Kantin sekolah mendadak ricuh karena Bomi dengan beraninya menghempaskan nampan berisikan makanan yang ia bawa kearah meja para gadis yang berisikan tiga orang."Kenapa kalian membicarakanku seperti itu?!" Bentak Bomi dengan nada tinggi.
"....jangan sibuk mengurus hidupku! Aku tidak makan dari uang kalian!" Tambahnya.
"Jelas! kau kan gadis simpanan pria kaya, tentu saja kau makan dari uangnya" ucap salah satu gadis itu.
"Kau kan bukan gadis baik-baik" tambah yang satunya lagi.
Bomi tak peduli dikatai gadis simpanan, lagipula ia tak mengerti apa maksudnya, tapi dikatai bukan gadis baik membuat emosinya meluap, ia sudah cukup baik selama ini, ia tidak pernah jahat, pikirnya.
Tangannya meraih gelas berisikan air berwarna merah, entah itu sirup atau apa Bomi tak peduli, dia meraihnya dan menyiramkan isi gelas itu pada gadis yang mengatainya.
"Sialan kau!" Ucap teman gadis yang disiram Bomi.
Gadis itu tidak terima, ia langsung menyerang Bomi dan menjambak rambut panjangnya, perkelahian wanita memang selalu rambut yang menjadi tujuan utama.
Beruntung seorang siswa pindahan datang dan melerai mereka, Jungkook berusaha melepaskan keduanya, dan meminta bantuan pada staff kantin.
"Dia yang menyerangku duluan!" Ucap gadis itu tak terima, padahal Jungkook belum menyalahkannya.
"Kalau mulut kotormu itu tidak mengataiku tidak mungkin aku serang!" Balas Bomi.
"Seragam ku jadi kotor begini, aishhh" Gadis itu terlihat menepis-nepis bajunya yang terkena siraman sirup dari Bomi sambil menghentakkan kakinya.
"Akan kubelikan selusin untukmu besok!" Ucap Bomi.
Gadis lainnya yang masih dalam cakupan mereka bertiga menyahut. "Sombonh sekali gadis kaya ini"
"Aku tidak pernah sombong kalau aku kaya, Tanyakan saja pada mereka yang ada dikantin ini pernah tidak aku sombong?!"
"...aku tidak ingin punya musuh! Aku tidak jahat seperti kalian!" Ucapnya kemudian berlalu dari sana.
Matanya mulai memanas, ia berusaha menahan airmatanya untuk tidak tumpah, Bomi itu gadis yang cengeng, ia hanya berani membentak orang sebentar saja, setelah itu ia sendiri yang akan gemetar.
Ia memilih untuk mengemasi barangnya dikelas dan segera pulang, namun Jungkook menahan tangannya.
"Kau mau kemana?"
"Mau pulang!"
"Tidak boleh pulang, ini kan masih jam sekolah"
Bomi menghempaskan tasnya kelantai kemudian menangis. "Jadi aku harus bagaimana?"
Beberapa teman yang berada dikelas memperhatikannya bingung. Jungkook kemudian meraih tas yang Bomi hempaskan ke lantai, kemudian menariknya pergi dari sana.
Mereka berdua mengendap-ngendap pergi ke pagar dibelakang sekolah. Ini pertama kalinya Bomi kesini, dan ia baru tau ada tempat seperti ini disekolahnya.
Tanah liat yang becek digenangi air dan rumput yang meninggi itu tak jarang membuat Bomi geli.
Pagar semen ditempat ini berbeda dengan pagar lainnya, lebih pendek dan lebih mudah untuk dipanjat.
"Naik ke bahuku" ucap Jungkook
"Tidak sakit memangnya?"
"Tidak, ayo naik saja, cepat sebelum ketahuan"
Bomi mengangguk kemudian naik ke bahu Jungkook dan meloncat dari pagar itu. Setelahnya baru Jungkook yang naik ke pagar dengan tangannya.
Mereka sudah berada diluar sekolah sekarang, Motor Jungkook selalu ia parkirkan disini untuk berjaga-jaga jika biasanya ia bosan disekolah.
"Pakai helmnya"
"Kita mau kemana?"
"Aku punya tempat yang indah untuk memanjakan mata"
"Dimana?"
Jungkook menyalakan motornya. "Naik saja"
Bomi tersenyum antusias, ia segera naik kemotor Jungkook dan kemudian keduanya pergi kesuatu tempat.
---

KAMU SEDANG MEMBACA
Wild Feeling | KNJ
FanfictionDua pebisnis dari perusahaan elektronik terkemuka di Korea Selatan saling bersaing untuk menjatuhkan, memiliki tampang diatas rata-rata namun kisah masa lalunya begitu menyedihkan. Yang satu menyimpan dendam besar, dan yang satunya lagi adalah korba...