Cerita ini rate mature ya gaes, dideskripsi juga udah dikasi tanda,
jdi yg ngerasa gak pantes buat dibaca jgn diterusin, yg belum cukup umur juga jgn nekat,
.
.
.
Enjoy gaes, jgn lupa vote😚 dibawa happy aja bacanya, Happy reading
.
.Matahari yang sudah tinggi menyinari pagi itu lolos begitu saja menerangi kamar berukuran besar yang jendelanya tidak ditutup gorden, membuat salah satu orang dikamar itu terganggu, Namjoon mengerjapkan matanya, menoleh kesamping dan mendapati Bomi masih tertidur lelap disebelahnya. Namjoon mencium kening gadis itu gemas, wajah polos Bomi sudah menjadi sarapan dipagi harinya yang menyenangkan.
Bomi tidak pernah mau tidur diranjang sendirian, ia memiliki Phasmophobia, dalam kasus ini, penderitanya cenderung memiliki ketakutan berlebihan terhadap hantu dan tempat tempat yang gelap, oleh karena itulah ia selalu ingin ada orang disampingnya saat ia tertidur, jika Namjoon tidak pulang dan lembur dikantor, Bomi akan berjalan dengan membawa bantal wortelnya kekamar sang asisten rumah tangga dan tidur disana.
Namjoon begitu menyayangi Bomi, apapun ia lakukan termasuk mewarnai kamarnya dengan cat berwarna pink. Sedikit lucu mengingat seorang Namjoon adalah manusia maskulin paling menggoda dikalangan wanita diluar sana.
"Sayang, ayo bangun" ucap Namjoon lembut, sangat lembut hingga membuat siapapun terbuai, kecuali Anh Bomi.
Bomi menggeliatkan tubuhnya diatas ranjang membuat selimut yang menutupi tubuhnya terbuka. Namjoon melotot seketika. Ia tercekat melihat Bomi hanya mengenakan tanktop putih crop tipis dan talinya turun sebelah. Pria manapun akan tergoda jika sudah seperti ini terlebih posisinya sedang diatas ranjang.
Namjoon langsung bangkit dan berdiri setelahnya, bohong jika ia tidak memikirkan hal kurang ajar. leher mulus Bomi, tali bajunya yang menurun, tali transparant lainnya yang masih stay dibahu gadis itu, dan belahan dada Bomi yang sedikit terlihat mengacu jiwa laki laki Namjoon dipagi hari. Salahkan tubuh Bomi yang terlalu cepat dewasa, tapi bukankah memang sudah umurnya?
Lupakan.
"Bomi, bangun" ucap Namjoon lagi, dengan suara yang sedikit nyaring, tegas namun tak membentak.
Bomi pun bangkit dan mengambil posisi duduk sambil menggaruk kepala. Matanya masih belum sepenuhnya terangkat. Tapi ia tau bahwa satu tali dari tanktopnya terturun, iapun menaikkannya begitu saja.
"kenapa kau pakai baju itu? Bukankah semalam kau tidur menggunakan piyama?" tanya Namjoon
"aku panas, jadi kubuka dan kulempar kesana" ucap Bomi sambil menunjuk kesamping Ranjang.
"kau bisa nyalakan pendingin ruangan"
"tadi malam gelap, aku tak berani mencari remotnya"
Namjoon menghela nafasnya, "lain kali kalau kau panas, bangunkan Daddy, jangan membuka bajumu seperti itu"
"nee" Bomi mengangguk
Namjoon kemudian keluar dari kamarnya untuk segera mandi, ia harus segera kekantor hari ini, Namjoon akan disibukkan dengan peluncuran produk baru mereka minggu depan, dan pastinya akan menyita waktunya. Mungkin Namjoon akan sering pulang terlambat nantinya.
Dengan malas Bomi meraih ponselnya yang terletak dimeja samping ranjang, ia kemudian bersandar dan betah memainkan ponselnya melihat lihat makeup makeup apa yang sedang tren. Bomi suka sekali makeup ia sangat senang berdandan. Didukung oleh gaya hidupnya yang mewah dan berkecukupan, tak heran diumur yang baru menginjak 16 tahun Bomi sudah memiliki berbagai jenis makeup bermerek. semuanya ia miliki. Tentunya itu dibeli dari uang Namjoon yang melimpah.
Bomi mengerutkan dahinya melihat postingan yang muncul di beranda sosial medianya, foto mie yang sangat menggugah selera, Bomi jadi lapar. Gadis itupun turun dari ranjang pergi keluar kamar dan berlari dianak tangga untuk segera kedapur.
"Eonnie, apa ada mie instan?"
"Astaga!" kejut wanita 27 tahun itu karena Bomi muncul tiba tiba.
Bomi terkekeh melihatnya, asisten pribadi rumah ini yang bernama Jang Songhee itu pun tersenyum.
"maaf Bomi, mie instan sudah habis"
"aaaish, rumah sebesar ini tidak menyimpan stok mie instan?"
"setelah habis kemarin, ayahmu melarangku membelinya lagi"
"Daddy tidak pernah perhitungan dalam membeli barang mahal, kenapa perhitungan sekali untuk mie instan?" Bomi mengerucutkan bibirnya, ia kesal sekarang.
"Mie instan tidak baik untuk kesehatan" ucap Namjoon menyela.
Namjoon sudah rapi dengan jas nya, ia terlihat begitu menawan dengan pakaian mahal itu, jas coklat keluaran terbaru dior itu tampak pas ditubuhnya. Sang asisten rumah tangga pun kagum melihat aura Namjoon yang begitu kuat itu.
"daddy, aku mau mie"
"Songhee, bawa Bomi kerestoran spaghetti setelah ia mandi"
Bomi menghentakkan kakinya "yak! Daddy, aku tidak mau itu"
"spaghetti kan juga mie?"
"aku mau mie instan"
"tidak"
"iya!"
Dan terjadilah perdebatan iya tidak diantara mereka berdua sekitar semenit. Bomi yang merasa lelahpun akhirnya merengek.
"Daddy bilang aku akan mendapatkan apapun yang kumau, tapi daddy bohong, aku hanya mau mie instan, harganya tak seberapa bahkan jauh lebih murah dari spaghetti direstoran, aku mau mie!" Bomi terus menghentakkan kakinya, bahkan sekarang ia meloncat loncat.
Songhee gemas sendiri melihat gadis manja ini, ia berani bertaruh Namjoon akan menuruti gadis itu setelah ini.
"Songhee, belikan dia makanan itu" ucap Namjoon.
Songhee tersenyum puas, tebakannya tak pernah salah. Sedangkan Bomi langsung menghambur kepelukan sang Daddy.
"terima kasih, aku sayang Daddy, kau Ayah terbaik didunia"
Tiba tiba Namjoon terdiam, ia tak membalas pelukan Bomi, hatinya mendadak menjadi tak karuan, apa kalimat ayah terbaik yang diucapkan Bomi menyinggung hatinya?
Tapi Kenapa harus tersinggung bukankah itu benar.
Rasanya seperti Ada yang mengganjal saat mendengar kalimat itu keluar dari mulut Bomi,
Kalimat itu membuatnya menjadi tidak nyaman.
***

KAMU SEDANG MEMBACA
Wild Feeling | KNJ
FanficDua pebisnis dari perusahaan elektronik terkemuka di Korea Selatan saling bersaing untuk menjatuhkan, memiliki tampang diatas rata-rata namun kisah masa lalunya begitu menyedihkan. Yang satu menyimpan dendam besar, dan yang satunya lagi adalah korba...