Jika sudah berurusan dengan Seokjin, Namjoon tau bahwa ia harus berhati-hati, tidak ingin gegabah atau sampai salah mengambil tindakan, karena Seokjin bukanlah lawan biasa.
Namjoon memutuskan untuk menuruti perintah pria itu, ia datang sendirian dengan jumlah uang yang diinginkan.
Namjoon akhirnya berpijak di Lokasi yang dikirimkan kepadanya, ia sudah sampai, Namjoon melihat sekeliling.
Tampak sangat asing, tapi perjalanan menuju tempat ini sempat membuatnya merasa pernah kesini.
Namjoon mengingat-ngingat, dan memang benar, ia pernah ke daerah ini, ketika ingin menjemput Bomi saat dibawa kabur oleh Jungkook dulu, hanya saja Namjoon tidak pernah sampai gedung ini, mereka hanya bertemu dijalan waktu itu.
Tanpa berlama-lama, kaki jenjang Namjoon melangkah memasuki area gedung terbengkalai itu.
Menaiki tangga satu persatu sesuai petunjuk.
Namjoon benar-benar datang sendirian, demi menyelamatkan Bomi tercintanya.
Di puncak gedung, hari mulai gelap, menjelang malam, angin begitu menusuk tubuh. Tepat 10 langkah didepan, seorang gadis berambut sedikit lebih pendek sedang duduk dikursi sambil menangis pelan, tangan dan tubuhnya diikat kencang.
Namjoon menyipitkan matanya, karena tak percaya melihat Kyura, sahabat putrinya ada disana.
"Kyura-ya!" Ucap Namjoon, berlari menghampiri Kyura.
"Ahjussi" Lirih Kyura, tak sanggup bersuara lagi, wajahnya penuh memar dan darah segar yamg mengalir.
"Bagaimana bisa kau ada disini?" Ucap Namjoon, bingung sekali.
"Ahjussi, dibelakangmu." Ucap Kyura.
Namjoon langsung menoleh.
"Surprise!" Seru Seokjin sembari merentangkan tangan. Diikuti dua orang di belakangnya. Satu orang memegang Bomi, dan satunya lagi menodongkan pistol ke kepala gadis itu.
Namjoon melotot kaget, seorang pria yang menodong pistol kearah Bomi sukses membuatnya terkejut.
"Kim Taehyung?" Ucap Namjoon.
"Yeah, ini aku hyung, kau datang sendirian kan?"
Namjoon berusaha mencerna, masih tak ingin percaya pada fakta, namun nyatanya tetap tak berubah, tangannya mengepal kuat, geram ingin menghajar wajah tampan Taehyung.
"Ternyata kau orang Sj.inc yang ada diperusahaanku, bukan Jimin."
Taehyung tertawa terbahak-bahak. "Iya, memang aku."
Namjoon menarik nafas panjang, sekuat tenaga menahan emosi yang meluap, sekali lagi ia harus ingat bahwa ia harus berhati-hati, ia tidak boleh melupakan bahwa dirinya datang seorang diri.
Namjoon meletakkan sebuah kertas dilantai, lalu menindihnya dengan sepatu yang ia lepaskan kemudian agar kertas itu tidak terbang terbawa angin.
"Itu bank account ku, kau bisa ambil lebih dari 5 milyar won disana." Ucap Namjoon pelan.
Tawa Seokjin pun pecah.
"Kau tidak benar-benar berpikir aku melakukan ini hanya untuk uang itu saja kan Joon."
Namjoon pasrah, ia berlutut. "Kau bebas melakukan apapun, ambil semua asetku, tapi aku mohon serahkan Bomi padaku."
Mendengar hal itu Bomi menangis kencang, padahal sebelumnya ia sudah lelah menangis terus.
Seokjin menghampiri Namjoon, ia berjongkok, mensejajarkan posisinya.
"Semua uang dan aset-asetmu tidak akan pernah bisa menghidupkan kembali istriku, Joon."
"Dan juga ayahku!" Tambah Taehyung.
Namjoon langsung berdiri. "Apa hubungannya denganku?!"
"Ayahmu yang membunuhnya!" Kompak Duo Kim, Kim Seokjin dan Kim Taehyung.
Namjoon tersenyum miris. "Asal kalian tau, aku dan ayahku bahkan tidak memiliki hubungan yang baik."
"Kau pikir aku peduli?! Ayahmu sudah membuat hidupku menderita, jadi kau juga harus merasakannya Joon." Bentak Seokjin.
"Sakit Jiwa!" Balas Namjoon.
Seokjin mengambil pistol ditangan Taehyung.
"Kau baru tau ya? Sudah lama kok aku sakit jiwa, sejak kematian istriku lebih tepatnya, dan sekarang kau juga akan menyusulku Joon, kau akan sakit jiwa juga jika putrimu ini mati apalagi tepat dihadapanmu!."
Door!
"Tidak!" Pekik Namjoon.
"Hahaha, kau takut bukan?" Ucap Seokjin, sengaja ia menembakkan ke arah yang salah, tak langsung mengenai target utamanya Bomi, ia ingin menyiksa Namjoon lebih banyak.
Namjoon kembali berlutut, tak ada pilihan lain, ia pasrah, menyerah.
"Tak ada gunanya Joon." Geleng Seokjin.
"Aku meminta maaf dengan tulus atas nama ayahku."
Segera Seokjin menendang bahu Namjoon hingga pria itu tersungkur.
"Daddy!" Pekik Bomi. Gadis itu memberontak kala melihat ayahnya ditendang, Jungkook sampai kesulitan memegangnya.
"Jangan berisik!" Bentak Seokjin pada Bomi.
Seketika Bomi terdiam, tubuhnya bergetar hebat. Jungkook menoleh padanya sesekali, jujur Jungkook tidak tega, karena bagaimanapun dia masih baru didunia kejam ini.
Namjoon segera berlutut dikaki Seokjin.
"Kumohon, maafkan semuanya, atau hukum aku saja, lepaskan Bomi dan Kyura, mereka masih anak-anak."
"Anak-anak katamu? Aku tidak pernah lagi menyukai anak-anak sejak anakku hilang, kau tidak taukan kalau aku punya anak juga?"
Namjoon kembali terkejut, banyak sekali fakta mengejutkan yang tidak ia ketahui, apakah masih ada lagi.
"Aku bahkan tidak tau apakah anakku masih hidup atau tidak, hidupku sudah cukup menyedihkan Joon, anakku menghilang entah kemana lalu tak lama istriku berlumuran darah disebuah kamar hotel, dan ternyata ayahmu yang membunuhnya!
Kau tau dia bilang apa? Dia bilang TIDAK SENGAJA, Joon! Tidak sengaja. Jadi tak masalah bukan kalau aku membunuh Bomi lalu mengatakan aku tak sengaja?"
Namjoon mengerti perasaan seokjin sekarang, ia mencoba membujuk. "Bomi bukan putriku, kau tidak perlu membalas dendam padanya, kau tau itu kan?"
"Kau pikir aku tidak tau kalau kau setengah mati mencintainya? Aku tidak mungkin sampai ditahap ini jika tanpa persiapan yang banyak Joon, aku tidak selengah dirimu."
"Seokjin, aku mohon."
"Enough Joon, Berhenti memohon!"
Door.
"Akhhhh"
"Bomii!!!"
TAMAT
HAHA CANDA

KAMU SEDANG MEMBACA
Wild Feeling | KNJ
FanfictionDua pebisnis dari perusahaan elektronik terkemuka di Korea Selatan saling bersaing untuk menjatuhkan, memiliki tampang diatas rata-rata namun kisah masa lalunya begitu menyedihkan. Yang satu menyimpan dendam besar, dan yang satunya lagi adalah korba...