57 Malaikat Maut

3.1K 250 34
                                        

Dia adalah duniaku, berani menyentuh duniaku, maka kamu akan mati detik itu juga

•••••••••••••

Prilly gelisah dalam tidurnya, dia benar-benar terjaga kali ini. Fikiran Prilly bercabang kemana-mana.

Prilly melihat kesamping, dimana suaminya telah tertidur dengan begitu pulasnya. Prilly mengelus perlahan rambut Ali, tanpa berniat mengganggu tidur suaminya.

"Sayang, maafin aku. Maafin aku yang terlalu bodoh ini, membiarkan tubuhku disentuh laki-laki lain. Maafkan aku" Isakan Prilly mulai terdengar, air matanya mengalir begitu derasnya.

Tak mau membangunkan Ali, Prilly membekap mulutnya, agar tangisnya tak mengusik tidur suaminya

Sesak sekali rasanya sengaja membohongi suami sendiri, namun apa yang harus diperbuat? Nyawa bayinya sedang terancam.

Prilly tak bisa lagi menahan tangisnya, ia harus keluar, jika tidak Ali akan terbangun. Perlahan Prilly berjalan menuju ke dapur, ia ingin meneguk air dingin, agar fikirannya sedikit tenang.

Prilly tetap merenung, duduk diatas mini bar yang ada di dapurnya itu. Keadaan sunyi, karena ini benar-benar sudah larut malam

"Hai sayang. Kau terbangun?"

Suara itu tiba-tiba muncul dan membuat Prilly terkejut

"Ma..mau ap..apa lo"

"Eits.. santai dong sayang. Kalau kamu ketakutan, nanti anak kamu juga takut" ucap nya dengan senyum lebarnya

Prilly segera turun dari kursi itu, ketika laki-laki itu berusaha meraihnya. Perlahan namun pasti, Prilly memundurkan langkahnya perlahan untuk menghindari iblis didepannya ini

"Setelah anak ini lahir"

Prilly segera menepis tangan iblis itu dari perutnya. Berani sekali dia menyentuh anaknya yang suci dengan tangan kotornya

"Jangan sentuh anak gua"

"Itu akan menjadi anak kita juga" ucapnya santai

"Mimpi" teriak Prilly

"Hussttt jangan kencang-kencang sayang. Jika suamimu yang bodoh itu bangun, maka dia akan ku bunuh, lalu kita bisa bersama" ucapnya dengan senyum devil, persis seperti iblis

"Hans, lo sudah gila. Sadar gua majikan lo"

Hans tersenyum lebar "gua gila karena dari dulu lo anggap gua debu, tak terlihat dan harus di bersihkan. Lo gak pernah anggep gua ada. Dan yang paling sakit adalah, lo dulu buang bunga pemberian gua ke tong sampah"

Prilly membulatkan matanya sempurna. Ia sangat ingat kejadian dimana puluhan buket bunga ia buang ke tempat sampah

"Hans. Bukan gitu maksud gua. Gua takut kalau itu adalah jebakan. Gua gak mau menerima pemberian yang gak jelas asal usulnya. Gua mohon Hans. Maafin gua"

Hans makin mendekat dan prilly benar-benar terkunci, ia berhenti karena menabrak tempat cuci piring

"Gua akan hancurin rumah tangga lo. Biar lo ngrasain gimana sakitnya jadi gua. Lihat saja. Suami lo akan mati ditangan gua" ancam hans yang membuat Prilly kian menangis deras.

"Aku mohon Hans. Ampuni aku. Jangan lakukan apapun"

"Terlambat"

Prilly benar-benar takut, ia berharap siapapun agar menolongnya. Namun sepertinya mustahil ini sudah larut malam, mana mungkin ada yang bangun jam segini. Suaminya pasti terlelap begitu nyenyak, karena beberapa hari belakangan ini, ia sangat kurang tidur.

PANGERAN SURGA [COMPLETED]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang