Jam menunjukkan pukul setengah dua belas malam. Kiara masih setia duduk di sofa. Ia menunggu Reagive pulang. Sudah 2 cangkir kopi hitam yang ia habiskan supaya matanya tetap terjaga. Namun, kandungan kafein pada kopi, tidak bekerja maksimal di tubuh Kiara. Matanya sangat berat. Bahkan, untuk sedikit terbuka saja, matanya tidak bisa diajak kompromi. Sebenarnya, bisa saja ia tidur terlebih dahulu. Tapi, hatinya merasa enggan. Menunggu Reagive pulang rasanya bukan hal buruk. Itu kewajibannya juga kan? Tapi, matanya sudah sangat sulit digerakkan. Ia menyerah. Mata Kiara sudah tertutup. Deru napas Kiara sudaj mulai teratur. Itu tandanya, ia sudah tertidur pulas.
Tak berapa lama, Reagive pulang ke apartmen. Setelah mengunci pintu kembali, Reagive mendapati Kiara yang tertidur di sofa. Kiara tidur dengan podisi duduk. Pasti sangat tidak nyaman tidur di tempat seperti itu. Reagive segera mengangkat tubuh Kiara ke kamarnya. Perlahan, Reagive membaringkan Kiara. Ia takut gadis itu terbangun. Ia merasa bersalah pada istrinya. Kiara pasti menunggunya. Sebenarnya, Reagive sudah mengabari Kiara lewat whatsapp. Namun, Kiara tak membukanya. Ia mungkin tidak tau ada pesan masuk dari Reagive. Reagive mengusap kepala Kiara lembut. Sesaat kemudian ia mengecup kening Kiara.
"Yang sukanya marah-marah, I love you. Maaf lo nunggu lama." Reagive segera pergi ke kamarnya. Membersihkan diri adalah solusi terbaik untuk menghilangkan penatnya seharian ini. Reagive menyalakan pemanas air untuk membersihkan tubuhnya. Tubuhnya akan rileks setelah mandi.
Kiara terbangun dari tidurnya. Ia terkejut saat menyadari ia tidak lagi di ruang depan. Kiara celingukan. Ini kamarnya. Tapi siapa yang memindahkannya? Sudah pasti suaminya. Kiara beranjak dari kasurnya untuk mencari keberadaan Reagive. Ia pergi ke kamar Reagive untuk memastikan keadaannya. Pintunya terbuka, namun saat Kiara masuk tidak ada siapapun di sana. Kiara mengernyit. Suara gemercik air dari dalam kamar mandi membuat Kiara menhembuskan napasnya. Kiara mengambil pakaian kotor yang baru dipakai Reagive yang tergeletak di kasurnya. Ia memasukkannya ke dalam keranjang.
"Kok bangun?" Kiara terlonjak saat suara Reagive menginterupsinya.
"Iya, gue cuma mau mastiin lo udah pulang."
"Maaf ya, Ra. Lo pasti nungguin gue lama."
"Nggak masalah. Lo laper?" Tanya Kiara kemudian. Reagive mengangguk.
"Lo abis pesta apa ngeronda sih? Nggak di kasih makan, hah?"
"Dini hari laper wajar, Ra."
"Gue bikinin mie aja ya? Nggak papa?"
"Hmmm"
Sembari menunggu Kiara membuatkan mie instant untuknya, Reagive menunggu di mini barnya. Ia menyalakan gramaphone kesayangannya. Musik melow tahun 90-an ia putar. Suaranya yang tenang, membuat siapa saja yang mendengarnya akan merasa nyaman.
"Nih makan." Kiara meletakkan mie buatannya di depan Reagive.
"Lo nggak makan?" Kiara menggeleng. Memakan mie instant di waktu seperti ini sangat tidak baik bagi tubuhnya. Ia tidak mau tubuhnya mengembang. Karena itu sangat membahayakan penampilannya.
"Gue udah makan tadi."
"Mienya enak loh."
"Namanya juga mie instant, rasanya ya standar lah, Kak."
"Beda. Soalnya ini yang buat kamu, jadi mienya rasa sayang." Kiara tertawa renyah. Baru kali ini, Reagive mengeluarkan kata yang menggelikan. Tapi menyenangkan.
"Lo belajar gombal dari mana sih? Terus apa tadi, 'kamu'?"
"Iya kamu, masa aku?"
"Ih geli, Kak. Udah kayak orang pacaran aja pakenya aku kamuan."
KAMU SEDANG MEMBACA
PSITHURISM
Roman pour AdolescentsGadis itu tak pernah menyangka bahwa kematian sang ibu akan membawa petaka lain dalam hidup damainya. Ia dipaksa menikah dengan kakak kelasnya sendiri. Pernikahan tanpa cinta itu benar-benar merubah segalanya. Ketika ego masih menjadi senjata dari...
