Sudah lama sekali Kiara tidak bertemu ayahnya. Terakhir kali ia melihanya adalah di hari pernikahannya. Waktu ia kabur kemarin, ayahnya sedang berada di luar kota. Ia hanya disambut oleh para pembantunya. Kiara sangat merindukan ayahnya, walau bagaimanapun sikap ayahnya terhadap Kiara.
"Kak, hari ini aku ijin ke rumah ayah, yah."
"Kamu ke sana sendiri nggak papa? Aku ada janji sama Mas Danu soalnya. Katanya ada alat musik baru yang mau dateng."
"Jadi, bikin live musiknya?" Reagive memang berencana untuk membuat live musik di cafenya. Cafe yang di disain untuk para remaja itu, memang sedang berkembang pesat. Jadi, Reagive sedang berusaha terus untuk mengembangkan inovasi baru pada cafenya.
"Jadi. Kamu nggak papa beneran, kesana sendiri?"
"Nggak papa. Aku cuma pengin ketemu ayah, udah lama nggak ketemu."
"Aku anterin aja lah, ya."
"Nggak usah, kamu ada janji sama Mas Danu, kan?"
"Aku bisa cancel."
"Jangan. Nggak enak."
"Ya udah, nanti pulangnya aku jemput." Kiara mengangguk lalu, tersenyum.
"Aku berangkat dulu yah, Sayang." Pamit Reagive.
"Nggak nunggu makan siang dulu?"
"Maaf, Ra, aku aja udah telat ini."
"Padahal aku udah masak sop ceker yang limited edition, loh."
"I'm so sorry." Reagive menggeleng penuh penyesalan. Kiara menatap punggung Reagive yang mulai menghilang di balik pintu. Ia menghempaskan tubuhnya di sofa.
"Aku masak capek-capek buat kamu, Kak."
***
Senyum Kiara mengembang saat melihat mobil ayahnya yang terparkir di garasi rumahnya. Akhirnya, ayahnya berada di rumah setelah sekian lama. Waktunya selalu iq habiskan untuk bekerja. Padahal, di usianya kini, harusnya ayahnya sudah mulai mengurangi beban pekerjaan, bukan malah semakin workaholic.
Kiara mengetuk pintu rumah ayahnya beberapa kali. Sampai, salah satu pembantunya membukakan pintu untuknya.
"Neng Ara. Masuk Neng."
"Ayah ada, Bi?"
"Ada. Lagi di depan TV."
Belum lama Kiara memasuki rumahnya, Kiara sayup-sayup mendengar tawa seorang wanita. Kiara berjalan ke arah sumber suara. Kiara membelalakkan matanya saat melihat ayahnya sedang berpelukan dengan seorang wanita. Mereka saling melepaskan saat menyadari ada yang tengah menatap ke arah mereka.
"Ada tamu, Mas." Ucap wanita yang berada di samping ayahnya. Kiara mengernyit.
"Tamu? Harusnya saya yang bilang seperti itu. Ini rumah saya." Ujar Kiara sinis.
"Ara, ayo duduk dulu sini." Pinta sang ayah. Ia menepuk sofa di sampingnya, memerintahkan supaya Kira duduk.
"Kenalin, ini Tante Gina, temen ayah." Wanita itu tersenyum ke arahnya. Ia mengulurkan tangannya pada Kiara.
"Kiara." Kiara membalas uluran tangan wanita yang disebut 'teman' itu oleh ayahnya. Padahal, jika melihat yang mereka lakukan tadi, harusnya itu lebih dari teman. Jangan bodoh. Ia bukan anak kecil, kan?
"Ara pikir, Ara bisa quality time sama ayah hari ini. Ternyata nggak sama sekali." Cibur Kiara.
"Kita bisa ngobrol bertiga, Sayang."
"Enggak deh, yah, Ara mau ngobrol sama bibik aja di belakang." Kiara pergi meninggalkan mereka.
"Kayaknya Kiara kurang suka sama aku, Mas."
KAMU SEDANG MEMBACA
PSITHURISM
Novela JuvenilGadis itu tak pernah menyangka bahwa kematian sang ibu akan membawa petaka lain dalam hidup damainya. Ia dipaksa menikah dengan kakak kelasnya sendiri. Pernikahan tanpa cinta itu benar-benar merubah segalanya. Ketika ego masih menjadi senjata dari...
