Tiga Puluh Tiga

903 42 6
                                        

Gina mendatangi apartemen Kiara pagi-pagi buta. Ia mengajak Kiara bicara empat mata di tempat lain. Kiara menurut saja. Mungkin ini menyangkut kakaknya. Gina membawa Kiara ke taman dekat komplek mereka.

"Kamu mau nolongin mama kan, Ra." Tatapan memohon itu terlihat menyedihkan di mata Kiara.

"Aku pasti bakal nolongin mama, kenapa? Ada apa, Ma?"

"Biarkan Reagive menikahi Shami, Ra." Sontak kalimat itu membuat Kiara terpekik kaget. Bulir air mata sudah membuat aliran sungai kecil di pipi halusnya. Ia akan menjawab apa? Baru semalam ia mengatakan bahwa Reagive adalah hal yang tidak akan pernah ia lepaskan. Hatinya sakit sekali mendengar permintaan dari mama tirinya itu.

"Mama tau, mama ibu yang buruk buat kamu. Mama mengorbankan kebahagiaan putri mama demi putri yang lain. Tapi tidak ada jalan lain, Ra. Coba kamu pikirkan, kamu masih muda dan cantik. Kalaupun kamu berpisah dari Reagive, pasti kamu akan cepat menemukan pasangan kembali. Tapi, lihat Shami, dia tidak punya masa depan lagi. Siapa yang mau menerima Shami dengan kondisi seperti itu, selain Reagive?Reagive laki-laki yang baik, makanya mama meminta dia dari kamu untuk Shami. Mama tidak tau harus meminta tolong kepada siapa lagi. Mama harap, kamu memikirkan penawaran Mama tadi, Ra." Gina menatap Kiara yang madih tak mau bersuara. Ia tau, perasaan Kiara pasti hancur, tapi hanya itu yang bisa ia lakukan untuk menyelamatkan putrinya, Shami.

"Mama tau, kamu perlu waktu untuk memikirkan hal ini. Beritahu Mama jawabannya sesegera mungkin, Ra." Gina pergi meninggalkan Kiara di taman.

Kiara masih tak menyangka tentang permintaan ibu tirinya. Setega itukah, dia meminta Reagive pergi dari hidupnya? Air mata Kiara terus mengucur deras. Bolehkah ia egois kali ini? Selamanya ia takan pernah rela melepaskan Reagive. Tapi, membaginya pun ia tak akan pernah mampu. Hatinya masih lemah untuk melakukan hal itu.

Kiara menatap kosong pemandangan di depannya. Paginya berantakan. Ia tidak akan bisa pulang jika seperti ini. Ia tidak mempedulikan orang-orang yang menatapnya aneh. Seorang gadis dengan mata dan hidung merah di taman kota. Penampilannya yang kacau membuat siapapun yang melewatinya akan menoleh dan menatap iba. Semenyedihkan itukah dirinya?

***

Hari sudah mulai petang, Kiara tak kunjung pulang juga. Reagive menggigit bibir dalamnya. Ia khawatir sekali. Pasalnya, Kiara pergi dari pagi buta. Ia juga tak pergi ke sekolah. Apa yang teriadi? Apa Reagive membuat kesalahan? Berulang kali Reagive menelepon Kiara. Namun sialnya, ponsel Kiara mati dan tidak bisa dihubungi. Ia pasti sengaja mematikan benda pipih itu untuk menghindarinya. Ia menghubungi semua orang yang bisa dihubungi. Namun, hasilnya tetap nihil. Mereka tidak tau kemana perginya Kiara.

Ponsel Reagive tiba-tiba bergetar. Layarnya menampilkan panggilan masuk dari Ica. Tanpa pikir panjang, ia langsung mengangkatnya.

"Kenapa, Ca?"

"Kiara udah ketemu?"

"Belum." Cicit Reagive setengah putus asa."

"Gue lupa ngasih tau lo tadi. Lo udah ke rumah Omanya?"

"Dia disana?"

"Gue enggak tau juga, tapi barangkali dia disana, soalnya dia nggak ada dimanapun. Bogor tempat yang nyaman untuk melarikan diri." Reagive langsung menutup panggilannya sepihak. Ia menyambar kunci mobilnya. Ia menancap gas menuju kediaman Oma Kiara setelah ia menelepon Ayah mertuanya untuk meminta izin. Tak lupa, ia juga memberitahu Rani dan Marcel tentang Kiara.

Tengah malam, Reagive tak kunjung menemukan alamat yang tertulis di atas kertas yang dipegangnya itu. Udara dingin kota hujan itu, sangat menusuk sumsumnya. Ia berhenti sejenak untuk menanyakan alamat di sebuah warung yang masih buka. Reagive membuka kaca mobilnya dan bertanya pada seorang penjual nasi goreng.

PSITHURISMTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang