TUJUH

22 1 0
                                    

"Karena udah minjemin bahunya buat, Alaena."

"Sama sama, Alaena" suara yang sangat menenangkan itu masih terbayang bayang ditelinga juga pikiranku. Biasanya aku selalu memberikan semangat dan kata kata penenang kepada orang lain, bahkan tak jarang ketika aku sedang dihampiri masalah aku berusaha untuk memberikan semangat pada diriku sendiri.

Semangat Alaena, diluar sana masih banyak yang butuh bantuan kamu.

Kata kata itu bagaikan mantera dalam hidupku ketika sedang dihampiri masalah, namun kemarin adalah satu momen dimana aku merasa bahwa kata kata yang selalu menjadi pegangan kini tidak cukup menenangkanku. Namun kehadiran laki laki paling aneh dibumi malam itu yang menahanku untuk pulang kemudian memelukku dengan erat, ajaibnya membuatku tenang, aman juga terdekap erat, seolah olah ia akan menjaga seluruh bumi agar aku hanya bisa menemukan bahagia didalamnya.

Aku kembali bekerja seperti biasa seolah tak terjadi hal apapun kemarin. Tuntutan pekerjaan memang mengharuskan ku begitu untuk mengenyampingkan hal hal pribadi. Hari ini jadwal pekerjaanku sampai larut malam, namun aku tetap bahagia menjalaninya.

"Untuk hari ini semua berjalan lancar, besok hanya ada 4 klien terjadwal berurutan mulai pukul 8 pagi" jelas Farhan kepadaku seusai semua pekerjaan rampung, semoga kalian masih ingat dia siapa.

"Baik, kalau gitu saya pulang dulu. Terimakasih atas kerja kerasnya hari ini, kalau ada apa apa bisa hubungin saya. Kalau kerjaan disini udah selesai bisa pulang, jangan sampe lupa makan ya" jelasku sebelum berpamitan. Pada saat aku berbicara tadi kedua asistenku ini memandang dengan wajah aneh padaku.

"Enak ya bu kalau udah punya pasangan, habis kerja diapelin" goda Farhan padaku sembari menunjuk sesuatu yang berada tak jauh dibelakangku.

"Ibu Alaena, saya baru sadar dokter Alfi ganteng banget kalau lagi gendong anak kecil yah." Atika berbicara tanpa memandangku, ia fokus terhadap hal lain. Aku segera membalikkan badan dan ternyata Alfi berdiri disana bersama anak kecil yang waktu itu menabrakku dalam gendongannya.

"Hai Evan!!" ucapku antusias kemudian menghampiri mereka berdua.

"Evan ngapain disini?" tanyaku lagi

"Aku tadi mau nyariin kakak tapi gak tau kakak dimana jadi dokter Alfi bantuin aku deh" anak itu tersenyum.

"Sekarang Evan udah gak takut lagi sama dokter Alfi?" aku memastikan, ia menggelengkan kepalanya.

"Dokter Alfi sekarang udah baik sama Evan kak, nih buktinya luka Evan udah sembuh." Alfi tertawa sambil mengacak pelan rambut anak yang berada dalam gendongannya itu.

"Jadi Evan nyariin kakak mau ngasih tau lukanya udah sembuh?" yang ditanya mengangguk antusias.

"Mainanya mana kak?" tanyanya yang membuatku tertawa.

"Tapi mainanya belum kakak beli, Evan" Alfi membisikkan sesuatu kepada anak laki laki yang berada di gendongannya.

"Kata dokter Alfi kakak bisa ikut kita. Beliin Evan mainan disana aja" pintanya

"Emangnya kalian mau kemana?" aku memastikan.

"Mau ke mall. Dokter Alfi janji kalo Evan lukanya udah sembuh mau diajakin main di timezone." aku tertawa mendengar ucapan polosnya barusan, ternyata Alfi sudah mengerti bagaimana cara menangani anak kecil.

"Sekarang?" kedua lelaki dihadapanku ini mengangguk bersamaan.

"Kamu gak sibuk kan, Na?" tanya Alfi sembari memberikan kode bahwa kedua asistenku itu masih menjangkau pembicaraan kita.

"Enggak kok. Tapi emang orang tuanya Evan ngizinin?" kemudian Evan tertawa, lelaki yang menggendong anak kecil dihadapanku ini menunjuk kesuatu tempat disana ternyata mereka adalah orang tua Evan.

t e m uTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang