DELAPAN

20 2 0
                                    

Setelah kejadian makan siang tadi aku melanjutkan pekerjaan seperti biasa, namun kali ini aku terpaksa kerja hingga larut malam karena harus menyelesaikan beberapa hal. Mataku benar benar sudah lelah sekarang karena harus menatap layar komputer dalam jangka waktu yang lama, akhirnya aku memutuskan untuk tidur sebentar. Tetap berada di depan komputer, melipat kedua tanganku untuk kujadikan bantal.

Ruangan yang dingin benar benar membuatku berhasil terlelap dengan mudahnya, sampai aku tidak sadar bahwa sekarang aku sudah menghabiskan waktuku untuk tidur dengan waktu yang lama. Aku membuka kedua matakku masih dalam keadaan yang sama, aku melihat seorang laki laki yang beberapa hari terakhir ini membuatku merasakan hal yang sulit kuartikan.

"Alfi" ia tersenyum mendengar aku memanggilnya dengan suara khas bangun tidurku.

"Kok gak pulang?" tanyaku setelah melihat ia mengenakan hoodie tak seperti biasanya dengan baju biru khas operasinya. Jarak wajah kami lagi lagi begitu dekat, ia melakukan hal yang sama seperti yang aku lakukan. Tidur disampingku dengan menjadikan lipatan kedua tanganya seperti bantal, persis sepertiku.

"Nungguin lo"

"Dari tadi disini?" yang ditanya mengangguk.

"Udah satu jam"

"Kenapa gak dibangunin?"

"Tidur lo pules banget soalnya."

"Kebiasaan, mau ngapain sih sampe nungguin gue?"

"Kan mau ganti perban" aku benar benar lupa akan hal itu.

"Ah iya, gue bener bener lupa. Kebiasaan deh Alaena suka lupa" aku memarahi diriku sendiri sembari memukul pelan kepala ku yang kemudian ditahan oleh Alfi.

"Nanti kepalanya sakit" ucapnya kemudian meraih tanganku dan mulai membuka perban. Ternyata luka itu benar benar sudah kering, hanya butuh waktu yang sebentar untuk benar benar pulih. Ia melihat luka itu dengan seksama bahkan hembusan nafasnya terasa ditanganku.

"Lukanya udah sembuh dan gak perlu diperban lagi. Tapi untuk jaga jaga supaya ga infeksi kena debu, gue kasih salep yah" aku mengangguk pelan. Ia menelfon seseorang untuk membawakan salep yang ia maksudkan keruanganku, aku berdiri mengambil minuman yang ada dikulkas ruanganku kemudian meminumnya saat itu juga. Alfi segera menarik pelan minuman yang ditanganku, meraih kedua bahuku dan menuntunku untuk duduk di sofa yang tak jauh dari tempatku berdiri.

"Lain kali kalau minum tuh duduk, Na. Gak baik buat kesehatan." aku memperhatikannya yang kini lebih tinggi dariku sebab ia berdiri, ia mengacak pelan rambutku kemudian menyentuh pelan hidungku. Jantungku seperti berdetak lebih cepat karena perlakuanya itu.

"Okay?" tambahnya kemudian aku mengiyakan.

"Alfi, lo udah makan malem?" tanyaku padanya yang sekarang sudah duduk disampingku.

"Belum, kenapa emangnya?"

"Makan bareng gue yuk, gue yang traktir" ajakku

"Tumben, dalam rangka apa nih?"

"Karena udah ngurusin luka gue sampe bener bener sembuh" setelah setuju akhirnya kami memutuskan untuk makan disalah satu restoran yang tak jauh dari rumah sakit. Sesampainya disana kami langsung memesan makanan.

"Chicken Parmesan nya deh" pesan Alfi setelah aku memesan makanan. Aku menyadari satu hal bahwa makanan yang ia pesan mengandung kacang almond.

"Mas, kalo bisa jangan pake kacang almond ya. Soalnya dia alergi" pintaku

"Baik nanti kacang almond akan kita ganti dengan bahan lain. Silahkan ditunggu pesananya" kemudian pelayan tadi meninggalkan kami.

t e m uTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang