TUJUH BELAS

10 0 0
                                    

Setelah kejadian Alfi yang memberiku obat agar aku terhindar dari sakit akibat kehujanan bersama Irhan, aku pulang ke apartment ku dan beristirahat dirumah seperti biasa. Tidak ada lagi pekerjaan yang mengharuskan untuk aku tinggal di rumah sakit, dan sudah dua hari aku tidak bertemu dengan Irhan. Berbeda dengan lelaki paling aneh dibumi itu, ia selalu mengirimkan ku foto fotonya seperti biasa dan terus menanyakan kabarku lewat pesan.

Bahkan sebelum operasi pun ia menyempatkan untuk memotret dirinya dengan baju khas operasinya, laki laki yang selalu tergesa gesa itu apa punya waktu untuk sekedar melalukan hal sederhana seperti mengirim gambar. Meskipun aku tau ia akan selalu menjawab, kalau cuman foto sekilas gini mah gak perlu waktu lama, Na. Biar lama juga gue usahain buat lo. Kami juga sering video call membahas banyak hal, meskipun kami berada dalam satu rumah sakit yang sama. Namun tempat ini merupakan tempat yang besar terlebih dengan kesibukan masing masing membuat kita menjadi jarang bertemu.

Sore ini seusai menyelesaikan beberapa tes dan psikoterapi dengan klien, aku berjalan untuk menjernihkan pikiranku. Apalagi cara seorang Alaena menjernihkan pikiranya kalau bukan dengan melihat keramaian. Langkah ini ternyata membawaku kedepan ruangan praktek Irhan, dengar dengar dari asistenku lelaki itu belum pernah beranjak dari rumah sakit karena kesibukan yang ia miliki.

Apa kabar dia setelah berhujan bersamaku kemarin, apa dia baik baik saja, ataukah dia memaksakan dirinya dengan terus bekerja. Dan semua pertanyaan itu terjawab ketika lelaki tinggi dengan snelli nya keluar ruangan, ia kaget melihatku. Wajahnya sangat pucat bahkan bibir pink nya ikut menjadi berwarna putih seperti kulitnya.

"Ada apa, Al?" aku segera menyentuh keningnya dengan tanganku ternyata badanya benar benar panas, lelaki ini sedang dalam kondisi tidak baik baik saja untuk bekerja. Ini sama halnya dengan memaksakan diri.

"Sejak kita kehujanan kemarin kamu ada minum obat?" tanyaku dan ia menggelengkan pelan kepalanya.

"Irhan! Kamu dokter tapi kamu gak tau betapa pentingnya jaga kesehatan. Harusnya setelah itu kamu minum obat dan istirahat bukanya maksain diri buat kerja."

"Al, aku baik baik aja."

"Baik baik aja gimana badan kamu panas, Irhan."

"Buktinya aku bisa kerja sekarang." kebiasaanya memang masih sama dengan beberapa tahun lalu, tidak ada hal yang bisa meghentikanya jika menyangkut soal pekerjaan.

"Kamu bukan bisa kerja, tapi maksain kerja."

"Alaena."

"Irhan kali ini gak ada pembelaan. Kamu ikut aku."

"Kemana?" aku memilih diam dan tak menjawab pertanyaanya itu. Menarik tanganya menuju tempat Riska berada, ternyata dia sedang berada di IGD dan sesampainya disana aku segera menyuruh Irhan untuk duduk diatas ranjang.

"Ris, dia habis kehujanan dan gak ada istirahat setelah itu. Gue juga yakin dia pasti gak makan karena sibuk kerja. Kantong matanya item banget udah pasti gak tidur." aku menjelaskan kondisi Irhan pada Riska yang menatap bingung pada kedatanganku yang tiba tiba dengan wajah marah sekaligus khawatir.

Bagaimana tidak khawatir, dia pernah berada dalam kondisi lebih buruk dari sekarang. sewaktu kami masih menjadi mahasiswa magang ia pernah jatuh pingsan didalam kamar mandi setelah hampir seminggu tidak pulang karena mengambi alih semua pekerjaan.

"Lo kasih infus vitamin kek, atau kasih obat. Pokoknya lakuin apapun yang lo bisa Ris. Supaya at least dia gak sepucet sekarang." perintahku dan Riska segera memeriksa kondisi Irhan, setelah melalukan beberapa pemeriksaan Riska menyampaikan padaku bahwa lelaki itu harus segera di berikan infus vitamin, dan cairan karena ia dehidrasi. Aku hanya bisa mengangguk mengiyakan. Setelah mendapat persetujuan, Riska langsung memasang infus tersebut.

"Gak perlu gini juga, Al."

"Cuman ini satu satunya cara biar kamu diem dan nurut. Harus dipaksa." kemudian Riska meninggalkan kami, dan berkata bahwa jika infus tersebut sudah habis kami harus memberitahu dia.

"Masih takut sama kejadian waktu itu yah?"

"Sudah tau kenapa masih tanya sih, Irhan." jawabku kesal yang membuat ia tertawa.

"Waktu itu aku cuman pingsan karena kecapean."

"Iya, tapi pingsanya didepan aku. Tiba tiba lagi."

"Maaf karena bikin kamu takut waktu itu."

"Dulu aku takut karena aku gak tau harus apa pas ngeliat kamu dalam kondisi kaya gitu, makanya sekarang aku berusaha bikin kamu baik baik aja karena aku gak mau takut lagi."

"Yaudah kali ini aku nurut."

"Kok tiba tiba, dari tadi aja gak mau kalah."

"Karena aku gak mau bikin kamu takut lagi." lalu aku tersenyum mendengar perkataanya.

"Emang kerjaan kamu masih banyak? Apa harus sesibuk itu sampe nyiksa diri kamu?"

"Dua hari lagi setelah semua urusan ini beres gak akan se hectic ini lagi kok, Al."

"Setelah itu istirahat yah" dia malah tertawa.

"Aku lagi gak ngelucu, Irhan!"

"Tapi kamu lucu"

"Bagian mana yang lucu?"

"Kamu."

"Irhan!!"

"Alaena, aku hafal rentetan perintah yang bakal kamu kasih tau ke aku setelah ini. Kamu udah terlalu sering marah marah kalau menyangkut soal kesehatan aku."

"Udah tau aku bakalan marah kenapa masih dilakuin."

"Kan bukan kemauan aku"

"Tapi itu pilihan, Irhan. Kamu yang milih sakit."

"Al.." aku tau laki laki itu akan terus membantah semua perkataanku, aku kenal dia mungkin tak selama orang lain mengenalnya, tapi terlalu banyak kejadian yang membuat ku merasa bahwa tidak ada yang mengenal dirinya lebih baik daripada aku, bahkan dirinya sendiri.

"Aku gak mau berdebat sama kamu lagi ya, Irhan. Karena kali ini beneran kamu yang salah. Aku mau beliin kamu makanan dulu, tunggu disini jangan kemana mana." belum sempat aku pergi meninggalkan ranjang IGD yang tertutup tirai itu ia menarik tanganku kemudian membawaku keatas pangkuanya sehingga membuat wajah kami berdekatan.

"Alaena disini aja jangan kemana mana."

"Tapi aku.." Irhan dengan kebiasaanya, menyela pembicaraanku.

"Dari tadi aku tahan untuk ngomong ini. Tapi kamu perempuan beruntung itu, Al." aku hanya bisa terdiam bingung mendengar perkataanya didepan wajahku.

"Kamu perempuan yang aku suka selama beberapa tahun ini." Apa infus vitamin benar benar membuat orang berimajinasi? Aku harus tanya Alfi sehabis ini.

"Kamu adalah alasan kenapa aku gak punya cerita apa apa di New York. Karena cerita aku disini, buat kamu."

"Bercanda." hanya satu kata itu yang bisa keluar dari bibirku.

"Serius, Al. Aku tau kamu bakalan kaget, tapi kamu sendiri yang bilang kalau semua orang didunia ini punya hak untuk mencintai." Aku memang pernah bilang itu padanya, bahwa kita tidak akan penah bisa memilih kepada siapa kita akan jatuh cinta.

"Kamu juga yang bilang kalau sang pemilik perasaan punya kendali untuk tetap mencintai atau berhenti." Irhan benar, aku juga pernah mengatakan itu. Dia benar benar memiliki ingatan yang baik.

"Dan aku milih untuk gak berhenti." situasi ini tidak bisa dibiarkan, aku tidak tahan mendengar semua pernyataanya yang serba tiba tiba.

"Lebih tepatnya hati aku milih untuk tetap membiarkan kamu menjadi penghuninya, Al." Bagaimana bisa perempuan yang ia cintai dengan tulus selama beberapa tahun ternyata adalah aku? Bagaimana bisa ia menahan semua itu, dan bagaimana juga ia bisa memiliki perasaan sebesar itu ketika aku tidak pernah memberikanya pengharapan sedikitpun. Hanya dia yang bisa menjawab jutaan kata bagaimana dalam fikiranku. Yang aku bisa lakukan untuk menyelamatkan keadaan canggung ini adalah berlari meninggalkan ranjang kemanapun aku bisa.

t e m uTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang