Lucu deh, dulu kita ribut bareng, sekarang kita tidur bareng. Jadi tambah sayang.
- Arabella Nouis
。
。
。
[ TIGA PULUH DELAPAN ]
. . . . .
Setelah menarik jarum pentul pada jilbab yang ia kenakan hingga membuat seluruh rambutnya kini terlihat pada manik cowok dibelakang nya, gadis yang tengah salah tingkah itu melangkah kan kakinya dengan terburu buru menuju kamar mereka.
Walau pada akhirnya suara bariton khas milik cowok bertatto itu menghentikan langkah kaki si gadis, mau tak mau tubuh kecil itu pun berputar seraya panggilan terus menerus dari bibir si tampan.
"Sini dulu," suruh Samudra seraya duduk disofa ruang tamu rumahnya, disertai pukulan kecil pada sofa disampingnya. Bermaksud menyuruh gadisnya untuk duduk, dan membicarakan sesuatu yang membuatnya senang sejak beberapa menit yang lalu.
"apa?"
Berusaha mengatur tingkah gugupnya, kini Bela pun terpaksa duduk disamping cowok yang tengah menatapnya lekat. Hal yang justru membuat kegugupannya kian meningkat.
"Tadi bijak banget, kenapa sekarang jadi salting gini?" ledek Samudra yang berhasil mendapat pelototan kecil dari si gadis.
"Apaan sih, dari mana gue salting," Tukas Bela tak terima akan tuduhan sepihak yang memang benar kenyataannya. Dirinya memang sedang salah tingkah akibat perkataan nya beberapa menit yang lalu. Dan sialnya lagi Bela juga heran kenapa ia bisa bicara seperti tadi.
"Yaudah iya, terserah," ucap Samudra mengalah.
"Bentar, Bela." Dengan cepat Samudra menarik pergelangan tangan Bela yang hendak bangkit dari duduknya. Membuat tubuh kecil itu kembali jatuh pada posisi sebelumnya.
Decakan sebal terdengar, membuat Samudra tersenyum kecil mendengarnya. "Dengerin dulu gue mau ngomong,"
"Besok aja gak bisa?"
"Enggak."
"Yaudah, apa?" tanya Bela pasrah.
"Gue seneng lo ngeluarin unek-unek lo kaya tadi," ucap Samudra pelan. "Dan bukan lo doang yang kesel soal ngerasain atau ngeliat hal yang cuma boleh buat gue." lanjutnya.
"Gue juga kesel, Bel." ucap Samudra serius. Maniknya menatap Bela lekat, seakan akan tak ada objek lain yang bisa ia lihat detik itu.
"Boleh gue jujur?" dengan mengangkat alisnya kecil, Bela pun mengangguk kaku seraya menatap ragu Samudra.
"Apa?" tanya Bela pelan.
"Udah pernah gue ceritain, alasan gue setuju sama pemikiran gila orang tua gue buat nikahin gue sama lo?"
Dan tak ada jawaban selain gelengan kepala dari gadisnya, karena memang Samudra belum pernah menceritakan hal tersebut yang memang sangat Bela ingin ketahui faktanya.
"Malem dimana gue dikasih tau soal perjodohan itu, yang alesannya karena gue sendiri yang bikin janji," sedikit tertawa kecil, Samudra kembali melanjutkan ceritanya. "Gue kabur dari rumah, gue nyoba nenangin diri gue dan mikir kenapa bisa pemikiran orang tua gue segila itu buat nikahin gue,"
KAMU SEDANG MEMBACA
SAMUDRA ; My Bad Boy Husband ( END )
Teen Fiction[ 🚫 KONTEN HALU TINGGI! GAK SUKA WAJIB JAUH-JAUH! 🚫 ] [ FOLLOW DULU SEBELUM BACA ! ] Best Higgest Rank 1 in #backstreet 03 september 2020. ------------------ Cowok tampan yang sayangnya nakal, suka sekali berantem, sering meneguk minuman haram ber...
