Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
. . . . .
Sudah lebih dari sejam pelajaran dihadapannya dimulai. Walau kupingnya mendengarkan, namun pikiran nya masih menyangkut pada kejadian beberapa jam yang lalu.
Bela terus memunculkan senyumnya, gigi berbehelnya kini menggigit bibir bawahnya begitu otaknya kembali memutarkan adegan dimana Samudra terus memelukinya tiada henti.
Apalagi selama perjalanan menuju sekolah pautan tangan mereka berdua tak pernah lepas sedetik pun.
Hal yang kembali membuat Bela lagi dan lagi memunculkan senyumannya. Ekspetasi nya tentang hubungan nya dengan Samudra tidak terlalu buruk. Justru hal yang Bela takuti sama sekali tidak terjadi. Dan Bela justru tambah menyukai kedekatannya dengan cowok bertatto itu.
Suara pukulan tangan pada meja kayu terdengar yang membuat seluruh perhatian murid dikelas tersebut teralihkan. Namun tidak untuk gadis berhijab yang kini masih setia memunculkan senyumnya.
"Arabella Nouis," Suara tegas nan lantang yang keluar dari mulut guru berlapis kumis itu terdengar.
Samudra yang tengah memerhatikan Bela manutkan alisnya bingung disaat sang guru menyebutkan nama gadis-nya.
"Kamu saya perhatikan senyum terus. Berarti sudah faham sama apa yang saya jelaskan, bukan?"
Tak ada jawaban dari manusia yang namanya ia sebut tadi. Bahkan dengan watados nya Bela justru tertawa kecil.
Safa yang berada disampingnya menautkan alisnya bingung.
"Baik, karena kamu tertawa jadi saya anggap sudah faham,"
Kini bukan Safa saja yang menautkan alisnya bingung. Bahkan Samudra mencondongkan tubuhnya untuk melihat ekspresi Bela sekarang.
Masih tidak sikron dengan kondisi yang sedang terjadi disekitarnya, Bela meringis sakit begitu cubitan pada paha-nya terasa.
Maniknya menatap kesal Safa. "Sakit, tau." omel Bela kesal.
Safa mencibir, tak mau menjawab Bela yang berbicara dengan wajah kesalnya itu justru maniknya kini mengode kepada Bela untuk menatap kedepan.
Bela yang sedikit konek pun menatap kedepan papan tulis dimana guru berwajah mirip caplin itu berada.
Seraya meneguk ludahnya, Bela menautkan alisnya takut-takut. "Ada apa, Pak?" cicit Bela merasa terganggu dengan tatapan tajam guru nya itu.
"Jelaskan tentang revolusi dan rotasi bumi. Lima menit senyum-senyum sendiri pasti sudah faham. Silahkan, Arabella,"
Dan begitu sang guru menyelesaikan ucapannya, Bela menundukkan kepalanya dalam-dalam.