Bukan bumi aja yang muter, hati aku juga, kok. Bedanya, hati aku muternya dikamu-kamu aja. Gak kemana-mana.
- Arabella Nouis
。
。
。
[ EMPAT PULUH TIGA ]
. . . . .
Selesai menghabiskan roti coklat ke-tiga nya, gadis berseragam putih abu dengan jilbab putih yang tengah ia kenakan itu berjalan menuju tempat sampah yang berada diujung dalam kantin, Membuang ketiga bungkus rotinya yang sudah lenyap ia makan.
Kedua tangannya bertepuk membersihkan sisa serpihan roti yang terasa pada telapak tangannya, berbalik badan seraya kembali menuju bangku tempat dimana dirinya duduk dengan Keyla tadi, setelah dipastikan ketiga sampahnya telah terbuang manis kedalam tempat sampah.
Belum genap empat langkah kaki berbalut sneakers kuning itu berjalan menuju bangkunya, tibatiba saja tarikan tangan pada lengannya terasa.
Tarikan yang berhasil membuat kepalanya berputar untuk melihat siapa dalang yang membuat pergerakannya terganggu.
Alisnya bertaut bingung, tangannya kini menggenggam tangan sipelaku yang berada dilengannya. "Kenapa!?" tidak terlalu kasar Bela menarik genggaman tersebut seraya bertanya.
Safa dengan wajah betenya mendengkus malas. "Gue mau ngomong, sebentar," ucapnya seraya menarik Bela paksa. Kali ini bukan dilengannya, melainkan pergelangan tangannya.
Tanpa menunggu jawaban Bela, dengan pandangan kesalnya Safa berjalan keluar kantin dengan Bela yang terpaksa harus mengikutinya.
Keyla yang melihat kejadian itu hanya bisa melotot ditempatnya. Heran juga dengan tingkah laku teman satu-nya itu.
"Ngapain, coba?" tanya Keyla penasaran. Kakinya kini ia tegakkan seraya mempertajam penglihatannya dikala tubuh kedua temannya itu sudah mulai menghilang dari pandangannya.
Berinisiatif untuk bangkit dari posisinya dan berniat menyusul Bela, Keyla pun berdiri sembari melahap semua roti yang masih tersisa.
Kakinya kini berjalan keluar dari meja nya, merapihkan roknya yang sedikit berantakan.
Samudra yang tadi sedang berada disalah satu penjual makanan dikantin sempat melihat Bela pergi dengan Safa.
Tangannya kini menahan lengan Keyla yang baru saja ingin pergi dari tempatnya.
Keyla menoleh seraya berdecak kesal. "Apa?" tanya nya judes. Namun begitu maniknya menangkap Samudra-lah yang kini tengah menahannya, senyuman tipis-tipis telah terpapar jelas diwajahnya.
Alis tebal si tampan itu kini terangkat sebelah. Menatap gadis dihadapannya heran. "Gue tadi liat Bela keluar sama Safa," ucap Samudra memberitahu. Sedikit berdeham singkat, tangan kekarnya kini melepaskan cekalan tangannya pada lengan gadis itu. "Bela kemana?" tanya Samudra akhirnya.
Memang niat awal menahan Keyla karena ingin tahu kemana gadisnya pergi barusan. Bahkan tanpa mengajak Keyla. Meninggalkan sahabat sepergilaannya itu sendirian.
"Gue juga gatau," ucap Keyla jujur. "Bye, gue mau nyusul mereka," dan tanpa mendengar jawaban Samudra, kaki berbalut sepatu vans itu sudah berjalan cepat menghilang dari pandangannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
SAMUDRA ; My Bad Boy Husband ( END )
Teen Fiction[ 🚫 KONTEN HALU TINGGI! GAK SUKA WAJIB JAUH-JAUH! 🚫 ] [ FOLLOW DULU SEBELUM BACA ! ] Best Higgest Rank 1 in #backstreet 03 september 2020. ------------------ Cowok tampan yang sayangnya nakal, suka sekali berantem, sering meneguk minuman haram ber...
