EPILOG

467K 34.4K 4.5K
                                        

FINALLY!

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

FINALLY!

Akhirnya kalian ketemu juga sama part inii, gimana rasanya? Komen dong, aku mau tauuuu! 🤒🤒

Karena part ini EPILOG, soo please aku mau kalian komen disetiap paragraf nyaaa. PERMINTAAN MAMOY NIE 🤒

spam yaa 💖💖💖

Happy reading, terakhir 💖

. . . .


H-1 kelulusan,

Pagi ini suasana sekolah bisa terbilang cukup ramai mengingat Ujian Nasional telah angkatan akhir lewati. Dan sekarang, berkumpulnya seluruh angkatan disekolah untuk gladiresih perpisahan yang akan dilaksanakan besok.

Manik cowok berjaket denim merah maroon dengan celana jeans pencil nya mengamati seisi aula untuk mencari sesosok perempuan berjilbab paris senada dengan warna jaketnya, mencari batang hidung yang sama sekali tak terlihat sedari tadi.

Dengan langkah lebarnya Samudra berjalan menghampiri Safa yang tengah mengobrol bersama temannya, tangannya terjulur untuk menepuk bahu gadis itu.

Safa menoleh, mengerutkan alisnya bingung. "Ada apa, Sam?" tanya nya.

"Lo liat Bela? Gue tinggal pergi bentar sama Gilang tadi,"

Safa menggeleng pelan. "Gak liat gue," balasnya jujur. "Tadi sih ngobrol sama anak osis, coba lo tanya Farhan gih,"

Mendengar hal itu pun membuat Samudra mengangguk faham. Kakinya kini berjalan cepat kearah si ketua osis mereka yang tengah berbicara serius dengan beberapa anteknya dibawah panggung.

Samudra berdeham kecil, menarik perhatian ke-empat manusia dihadapannya.

"Han," panggil Samudra seraya menatap Farhan lekat. "Sorry ganggu. Lo liat cewek gue?  Kata Safa ngobrol sama lo tadi," tanya Samudra tenang. Maniknya juga menatap damai cowok didepannya.

Alis Farhan bertaut, menatap Samudra seraya berfikir sebentar.

"Emang ngobrol sih tadi, tapi dia bilang mau cari lo. Gue gak tau dia kemana habis itu,"

"Oke, thanks Han," balas Samudra seraya menepuk bahu cowok itu tiga kali.

Samudra berjalan keluar Aula, tangannya mengambil ponsel yang bersarang cantik pada saku jaketnya. Mencari kontak kesayangannya kemudian menempelkan ponselnya pada kupingnya.

Tak lama, panggilan terhubung pun terdengar, memperdengarkan salam dari suara wanitanya.

Samudra membalas salamnya, "Kamu dimana? Aku gak liat kamu di Aula."

"Tadi aku cari kamu, kamu sih lama. Aku di rooftop, nanti aku kesana,"

"Gausah. Diem disitu, aku kesana."

__________

"Kamu ngapain, Bel?"

Samudra berjalan menghampiri Bela yang tengah mengangkat tutup tong sampah diujung rooftop. Bisa Samudra lihat wajah terkejut yang tertera disana.

"Gila sih, ini rokok semua isinya? Gak ketahuan apa? Banyak banget," ujar Bela takjub. Tak percaya bahwa tempat biru panjang itu menjadi 'kulkas penyimpanan' untuk para anak bandel yang suka nongkrong disini.

Samudra mengangkat bahunya acuh. "Kalo abis patungan emang suka naro disitu. Aku udah gak ikutan, kan gak boleh sama kamu,"

"Iyalah, kamu itu gak baik. Tapi sumpah ini banyak banget,"

"Biarin aja, punya mereka. Kamu disini cuma mau liat gituan aja? Ayok balik, udah mau mulai."

Bela menggeleng, badannya berputar menghadap Samudra. "Aku kesini mau rasain waktu kamu suka nenangin diri disini. Kamu bilang waktu dulu, sebelum sering kabur-kaburan, rooftop sekolah yang paling nenangin, kan? Jadi aku penasaran gimana rasanya duduk sendiri disini sambil natap langit yang emang ternyata nenangin banget."

Penjelasan menyejukkan hati itu berhasil membuat Samudra menarik bibirnya keatas.

"Itu dulu, jauh sebelum ketemu kamu. Sekarang, liat mata kamu, tau kamu ada dideket aku, liat kamu senyum kaya gitu," Samudra berjalan mendekati Bela. "Jauh lebih nenangin dari apapun. Dan sekarang, langit harus siap bersedih, karena kalah saing sama kamu."

Samudra memeluk Bela dari belakang, menaruh dagunya diatas kepala wanitanya. Merasakan kenyamanan luar biasa yang memang hanya bisa Samudra temui pada wanita kecilnya.

"Kamu segalanya Bela. Nothing that worked make me afraid to lose, except you," Samudra mengecup dalam pucuk kepala Bela. "You know, you are all my exception." Sambung Samudra.

Bela tersenyum, tangannya mengelus lembut lengan kekar yang dengan posesif nya memeluk perutnya. Menjaganya baik lewat pandangan mau pun perasaan. Membuat Bela selalu bersyukur mendapatkan cinta berlebih yang memang sejatinya hanya untuknya.

Dan sekarang, doa semoga yang dulu selalu Bela lontarkan, kata semoga yang selalu Bela ucapkan, nyatanya semua doa dan ucapan itu benar-benar ter-semogakan.

Dan sekarang, hubungan nya dengan Samudra yang jauh dari kata penyesalan, membuat Bela yakin, hubungan yang berjalan mulus harus diawal dengan keyakinan hati yang tulus. Dengannya, dan juga dengan Samudra.

Kalian harus tahu, bahwa pertemuan yang ditentukan dengan tanggal, tak selalu berakhir dengan perpisahan yang ditentukan dengan hari.

Karena bagi Bela, bertemu kembali dengan Samudra bagaikan sebuah mimpi yang mampu membuat Bela enggan untuk terbangun.






。。。。。




TAMAT .

Dengan ini aku menyatakan cerita DraLa ending.

Makasih buat semua yang udah ikutin DraLa, makasih banyak juga buat semua kritikan baik dan buruknya, membantu aku buat semangat dan selalu intropeksi diri lagi.

Maaf kalau ending nya kurang memuaskan. Sejauh ini, aku seneng banget respon dicerita ini selalu baik. Aku sayang kalian, selalu 🍓💖

Makasih buat semua dukungan, spam komennya, dan selalu semangatin aku. Makasih banyak semua 💖💖💖

Salam dari aku, Mamoy. U know i always love u 💜🌙

See u on the next story, maybe 👅💖

( follow Instagram :  )

@ samudradison
@ bella.nouis
@ safalia_ardinni
@ keyladsty

bye 💖

SAMUDRA ; My Bad Boy Husband ( END ) Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang