Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
. . . . .
Jari dengan kuku bercat hitam itu mematikan kompor-nya begitu bubur yang tengah ia masak sudah jadi.
Satu jarinya sedikit ia coel-kan pada bubur yang berada didalam panci. Merasakan nya terlebih dahulu sebelum mengantarkannya untuk Samudra.
Cukup sesuai dengan ekspetasinya, Bela pun mengangguk mantap seraya mengaduk kembali bubur tersebut agar lebih merata.
Tangannya kini mengambil mangkuk yang berada diatas laci, menaruh beberapa centong bubur kedalam mangkuk tersebut.
Bela memutuskan untuk izin tidak masuk sekolah, begitu juga dengan Samudra. Masa bodoh satu sekolah akan membicarakan apapun tentangnya, yang terpenting sekarang adalah Samudra.
"Pagi Mbak Bela," sapa bi Asti yang baru saja masuk kedalam dapur. Seperti nya ia juga baru datang.
Bela tersenyum simpul. "Pagi, Bi. Aku keatas dulu ya," ujar Bela ramah.
bi Asti mengangguk, "Iya, Mbak. Mas Samudra kambuh lagi, ya?" tanya bi Asti pelan. Nada takut-takut menandakan bahwa ia tak mau Bela tersinggung dengan pertanyaan nya.
"Iya--" jawab Bela jujur. "Makanya izin sekolah dulu. Aku keatas ya, bi," sedikit kembali menyunggingkan senyumnya, Bela pun berjalan meninggalkan dapur.
Bi Asti tersenyum getir, maniknya melihat punggung Bela yang sudah hilang dibalik tembok. Merasa kasihan sekaligus kagum dengan gadis berumur delapan belas tahun itu.
"Samawa ya, Mbak. Saya doain yang terbaik." ujar bi Asti.
___________
Dengan sangat hati-hati Bela menaruh mangkuk bubur yang sudah ia buat diatas nakas samping kasur.
Cowok berkaos hitam itu masih setia memejamkan matanya. Bahkan semalem kedua tangan kekar bertatto itu tak mau sedetik pun melepaskan tubuh Bela.
Tubuh kecil yang sangat pas pada tubuhnya. Hembusan nafas halus Samudra juga membuat Bela nyaman berada didekat cowok itu.
Bela tersenyum, harinya tidak pernah sebahagia ini. Bagaimana pun minus nya Samudra, Bela terlanjut jatuh kedalamnya. Dan Bela harap, ia tidak ingin dan tidak akan bangun selamanya.
"Samudra,"
Bela menjatuhkan bokong nya pada pinggiran kasur. Menarik sedikit selimut yang hampir menutupi seluruh wajah tampan cowok itu.